Friday, December 12, 2008

DIBALIK MAKNA BANJIR

Hari ini, mentari begitu enggan bersinar. Sebagai gantinya, hujan hadir hari ini dengan utuh tanpa jeda. Sungguh hari yang sangat muram. Dan yang pasti, istana sederhanaku banjir lagi. Ah…aku sudah bisa membayangkan beratnya membersihkan seisi rumah sendirian. Membersihakan sisa-sisa lumpur, mengepel semua ruangan, mencuci perabot-perabot yang terendam, dan membersihkan puluhan kain pel pengering yang akan digunakan. Fuihh… pastinya melelahkan….


Yang membuatku lebih sedih lagi adalah tenggelamnya beberapa buku kesayanganku yang tak sempat ku rapihkan. Ada sedikit penyesalan pada kebiasaan burukku yang terbiasa meletakkan buku ditempat terakhir aku membacanya. Pastinya, meskipun nanti ku keringkan, wajahnya tak akan secantik dulu lagi. Yah, apa boleh buat…

Tapi, banjir tak selalu harus dimaknai sebagai bencana. Terkadang banjir memberikan banyak hikmah untuk menyadarkan kita pada sesuatu yang sempat terlupakan. Setidaknya pada hal-hal kecil seperti kebersihan rumah. Ya, ternyata dengan banjir hari ini aku baru sadar, bahwa telah hampir setahun aku tak membersihkan bagian-bagian tersembunyi dari lantai rumahku. Selain itu, aku menemukan banyak sekali benda-benda kecil milikku yang selama ini tercecer. Salah satunya jama tangan funky yang aku beli di pesawat beberapa waktu yang lalu.

Ternyata Tuhan memang selalu Adil, kawan. Hanya kitalah yang terlalu sering berpikir picik pada Keagungan dan Keadilan-Nya. Padahal kita sendiri jarang menghitung-hitung, sudah seberapa besarkan syukur kita atas semua nikmat yang Allah berikan kepada kita itu. Sudah seberapa ikhlaskah kita memenuhi setiap panggilan-Nya.

Akhirnya, harus ku akui jika banjir hari ini hanyalah teguran-teguran kecil dari Allah buatku. Sebuah pesan yang ingin menyampaikan betapa diri yang lemah ini tak akan mampu menolak apa yang Dia kehendaki, dan tak akan mampu mewujudkan apa yang tak Dia kehendaki. Aku ini hanyalah insan lemah yang ada dalam genggaman-Nya…
Yaa Rabb, ampuni hamba atas hati yang selalu lupa untuk mengingat dan menyebut nama-Mu. Di saat lapang atau pun sempit, di saat suka atau pun duka, di saat mau atau pun enggan, aku tetap saja hamba dalam genggaman-MU yaa Rabb….

2 comments:

pena ikhwan said...

bersihkan rumah sendiri bang? ehm....... ummi nya mana? contoh suami teladan nih, beres2 rumah sndiri.

banjir tak selalu harus dimaknai sebagai bencana. Terkadang banjir memberikan banyak hikmah untuk menyadarkan kita pada sesuatu yang sempat terlupakan, termasuk pulang kampung?
bang, aktivis jg manusia....so.... rindu mama juga, hehehe

Bang Irwan said...

Iya ji brother...
Abang mengerti dengan kerinduanmu yang membuncah dan air mata yang mendesak saat mata sudah berkaca-kaca...
Tapi yang tak kalah penting untuk diingat di hari lebaran adalah makanannya...
hehehehehe...

Post a Comment