Saturday, January 17, 2009

HARGA SEBUAH PENGKHIANATAN

Pukul dua dini hari, aku baru beranjak dari kantor dan berharap dapat segera tiba di rumah. Menggebug si AVP Arena tanpa ampun. Berharap segera menikmati kasur empuk dan tertidur dengan pulas setelah seharian beraktivitas tanpa istirahat. Di tengah perjalanan tiba-tiba terdengar panggilan naluriah. Ternyata telah terjadi pemberontakan dalam diriku, bunyi perutku yang keroncongan. Lalu kuputuskan untuk singgah di sebuah warung sari laut favoritku. Menyapa mas Gatot yang sudah sangat faham dengan menu kesukaanku. Dan tanpa banyak ba bi bu, mas Gatot langsung Action!

Di dalam warung aku tidak sendiri. Di sebuah meja besar duduk sekitar 8 orang lelaki bertubuh kekar, bersama seorang Bapak paruh baya yang mereka panggil Pak Haji. Dan, astaghfirullah… ternyata bersama mereka juga ada seorang anak kecil. Seorang anak perempuan yang aku perkirakan usianya baru sekitar 2 sampai 3 tahun. Matanya begitu sendu dan sepertinya sudah sangat mengantuk. Raut mukanya sedih. Dan yang aneh, para lelaki kekar itu dan Pak Haji yang bersama mereka seolah tak ambil pusing dengan keadaan si gadis kecil. Aku menatap matanya. Dan sesekali ia pun menatap ku dengan pandangan yang begitu menghiba.


Penasaran, sambil menunggu mas Gatot menyelesaiakan menu makan subuhku aku berusaha mencuri dengar pembicaraan mereka. Dari pembicaraan mereka yang memang disampaikan dengan suara keras, aku mulai sedikit memahami arah pembicaraan mereka. Ternyata para lelaki kekar itu adalah anak buah Pak Haji. Dan si gadis cilik itu adalah anak Pak Haji. Dan mereka sedang membicarakan tentang istri Pak Haji yang saat itu mereka ketahui sedang “berzina” dengan lelaki lain di suatu tempat. Mereka sedang bermusyawarah, apakah segera menggerbek tempat mereka bermaksiat, atau kah malaporkan ke Polisi dan bersama Kepolisian menggerebek istri Pak Haji yang berkhianat itu. Dan tentu saja, nasib lelaki selingkuhan istri Pak Haji sebentar lagi ditentukan oleh delapan lelaki kekar ini.

Dalam beberapa kalimat yang dilontarkan Pak Haji, tergambar dengan jelas kebenciannya pada sang Istri. Bahkan ia tak peduli jika istrinya itu harus mendekam di penjara untuk selama-lamanya. Hanya saja yang ia belum mengerti adalah akan dia kemanakan gadis cilik mereka yang belum tahu apa-apa itu. Pak Haji sendiri sepertinya tidak ambil pusing dengan anaknya itu. Bahkan beberapa kali sambil berbicara dia menunjuk-nunjuk gadis ciliknya dengan kesan yang kasar. Seolah tersimpan penyesalan atas kelahirannya. Dan tentu saja, si gadis cilik itu tetap tak mengerti apa-apa. Aku terenyuh, betapa mahal harga sebuah pengkhianatan. Si gadis cilik yang tak tahu apa-apa harus menjadi korban amarah orang tua mereka yang bodoh…

Sahabat, membaca tulisan ini tentu berbeda rasanya dengan menyaksikan sendiri kejadiannya. Menyaksiakan wajah gadis ciliki itu membuat fase-fase hidupku setelahnya menjadi kurang nyaman. Bayangannya terus hadir bersama wajah yang begitu tulus, dengan raut yang menghiba. Menjelang tidur, dikala bangun, dan saat melintasi warung mas Gatot. Aku ingin menangis atasnya. Tapi aku juga tahu jika tangisan itu tak ada gunanya. Aku heran mengapa anak sekecil itu harus selalu menjadi korban amarah orang tua yang tak pernah dewasa. Mencari alasan pengkhianatan mereka mungkin banyak jawabannya. Tetapi menemukan logika untuk mengorbankan seorang buah hati yang belum mengerti apa-apa sungguh tak ada penjelasannya. Tak ada logikanya.

Sahabat, mungkin itulah harga termahal dari sebuah pengkhianatan. Harganya adalah jiwa. Jiwa polos yang tak bedosa. Dan entah bagaimana kedua orangtuanya kelak mempertanggungjawabkan harga dari pengkhianatan itu. Dan kalaupun si anak dapat terus tumbuh dewasa. Entah akan jadi apa anak ini kelak dengan nasib tragis (dan bodoh) yang menimpa orang tuanya. Dan aku hanya bisa heran, mengapa manusia begitu gemar melukai masa depan darah daging mereka, buah cinta mereka. Harga yang terlalu mahal untuk sebuah pengkhianatan…

9 comments:

else said...

kasian gadis kecil itu ya bang.
semoga ortu nya semakin arif mejalani peran.

Berawal dari kerendahan Hati said...

T_T T_T kasiannya itu anak kecil, ternyata begitu besar harga dari pengkhinatan itu, miriss skalii

wayuk said...

sekali lagi kita buktikan lewat mata abang, bahwa zina adalah sumber malapetaka yg complex, diantaranya melahirkan dendam dan kerusakan pada masa lalu, masa kini dan masa depan.
pantas Allah melarang kita dengan tegas, bahkan untuk mendekatinya sekalipun.

semoga suatu saat anak itu bisa memahami dengan bijak peristiwa yang dialaminya, tanpa amarah dan dendam pada hidup.

sebenarnya ada banyak anak kecil seperti itu di sekitar kita, anak2 korban dari perceraian orang tua.
butuh sebuah jalan keluar untuk menyelamatkan mereka............

Bang Irwan said...

Aku ingin sekali meraih gadis kecil itu. Melindunginya dari nafsu ammarah orang tuanya yang tak kunjung insyaf & dewasa. Menariknya dari kubangan konflik keluarga yang semakin nista. Tapi aku, seperti anda & kita semua, hanya bisa menarik hikmah, juga mengalirkan do'a, agar si gadis kecil itu setidaknya tetap jadi manusia yang kelan berjalan di atas petunjuk-Nya...

Mentari Kasih said...

kita takkan pernah bisa merasakan sembilu..sampai kita..melihat sendiri mata yg meminta perlindungan..mata yg melontarkan kebigungan "aku tidak mengerti sebenarnya ada apa? apa aku yg salah?, ibu dimana? ayah kenapa?" aku benci org yg membuat mata yg tadinya indah memancarkan bintang kejora..mnjd sprti itu...

Umi Rina said...

Miris rasanya hati ini...

Semoga saja gadis kecil itu dan mungkin gadis2 kecil lainnya yang bernasib sama, korban 'sebuah pengkhianatan' dan 'ketidakdewasaan orang2 dewasa', bisa tetap berpijak di jalan Nya...

Fina said...

Sikap egosentrisme orang tua gadis kecil menjadi salah satu sebab terjadinya dehumanisasi. Lalu rawan kehilangan kontrol pada pertumbuhan sang anak, dan lambat laun akan mengalami krisis moral. Harga yang terlalu mahal untuk sebuah pengkhianatan.

Bang Ir, dikoreksi ya kalau salah...

Anonymous said...

Pengkhianatan memang membutuhkan satu harga yang tak mampu di bayar dengan sekadar ucapan maaf....kerna nilainya sungguh memedihkan jiwa...
hati ini...merasakan pengkhianatan itu..walaupun apa saja versinya...
pokoknya
pengkhianatan itu,,,pahit


-malaysia-

Anonymous said...

Maaf,saya hanya bisa mengucapkan : "Pengkhianatan itu sangat pedih Jendral !!!!"

Post a Comment