Thursday, February 19, 2009

RAHASIA PENGUKIR SEJARAH

Perlahan tapi pasti, aku pun mulai menyadari. Mengapa ‘taste’ setiap perkataan orang itu berbeda. Mengapa energi setiap nasehat itu berbeda. Mengapa ‘driving force’ setiap arahan itu berbeda. Sama seperti perbedaan energi motivasi setiap buku yang kita baca. Sama seperti perbedaan pengaruh berbagai pelatihan dan workshop yang kita hadiri. Seperti juga perbedaan kekuatan taujihat antara seorang ustadz dengan asatidz yang lainnya pun selalu berbeda. Karena rahasianya ada pada jiwa sumber idenya. Sebuah kekuatan jiwa yang bernama OBSESI.

Obsesi itulah yang memberikan kekuatan pada kata. Obsesi itu pulalah yang memberi energi pada setiap ide. Sebab obsesi itulah yang memberi daya dan kekuatan pada hidup seseorang. Mungkin itulah sebabnya, petuah-petuah sebagian besar guru yang mengajari kita tentang banyak hal di dunia pendidikan hanya sampai difikiran kita, dan jarang sekali yang mampu membakar jiwa kita. Sebab ide-ide dan gagasan yang meluncur dari mulut mereka sebatas ilmu dan pengetahuan yang jauh dari energi obsesi. Hanya sekedar formalitas kata yang lahir dari pengetahuan dan bukan dari keyakinan yang dalam.

Marilah meneliti kembali hari-hari kita, siapa sajakah orang-orang yang telah memberikan pengaruh kuat dalam kehidupan kita itu. Jujur, bagiku mereka yang mempengaruhi dan membentuk sebagian besar pandanganku tentang hidup ini adalah orang-orang yang obsesif. Orang-orang yang memiliki pemikiran obsesif. Orang-orang yang memiliki kata-kata obsesif. Orang-orang menampilkan setiap sisi hidup mereka dengan sikap dan perilaku yang obsesif.

Dan dengan membaca sejarah pula kita akan menemukan kenyataan bahwa para pengukir-pengukir sejarah itu selalu orang-orang yang obsesif. Mereka dikenal karena karyanya. Akan tetapi karya-karya besar mereka itu diawali dengan obsesi. Dunia mengenal para pahlawan Islam karena obsesi kejayaan mereka. Dunia mengenal Al-Banna karena obsesi peradabannya. Dunia mengenal Gajah Mada karena obsesi nusantaranya. Dunia mengenal Bung Karno karena obsesi revolusinya. Dunia mengenal Ghandi karena obsesi kesederhanaanya. Dan setiap pahlawan di muka bumi ini dikenang karena satu obsesi mereka.

Maka sejenak mari bertanya pada diri-diri kita. Apakah kata-kata kita itu telah menggedor-gedor semangat orang yang mendengarnya? Apakah ide-ide kita itu telah membakar jiwa-jiwa mereka yang membacanya? Apakah untaian nasihat kita itu telah menundukkan kesombongan logika para penyimaknya? Apakah motivasi kita itu mampu mencengkram kuat kehendak setiap orang yang merasainya, lalu memberikan energi besar untuk meledakkan potensi kemanusiaannya yang luar biasa? Tak ada salahnya kita bertanya…

Dan jika ternyata sebagian besar jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu adalah kata TIDAK, maka kita perlu curiga pada diri kita. Jangan-jangan kita ini hanyalah orang-orang hidup yang tak pernah memiliki obsesi. Ataukah kita telah memiliki obsesi tapi obsesi itu masih terlalu rendah untuk menjadi energi hidup yang tak ada batasnya. Atau jangan-jangan kita termasuk para pemimpi orang yang salah kaprah tentang obsesi. Kita mengira mimpi-mimpi kita itulah obsesi. Padahal mimpi adanya di alam dikepala, sementara obsesi itu telah berbentuk di alam jiwa.

Read More ..

Saturday, February 14, 2009

OBSESI SYUHADA

Usianya mungkin sudah menginjak 60 tahun lebih. Tetapi semangatnya tak pernah kalah dengan anak-anak muda yang masih belasan tahun. Penampilannya juga tak menunjukkan bahwa ia adalah seorang tua renta yang mestinya tinggal di rumah dan menunggu kematiannya. Kata-katanya tegas, bernas, dan sesekali dihiasi oleh hujjah-hujah Al-Qur’an maupun hadits Rasulullah. Tatapan matanya tajam penuh kharisma. Sambil menghisap batang demi batang rokok GG mini kesukaannya. Lalu sedikit mendekat ke arahku, beliau berkata:
“Nak! kematian itu pasti datangnya. Tapi kitalah yang sejak awalnya harus merencanakan bagaimana kematian itu menjemput kita. Meskipun Allah jua yang menentukan kesudahannya. Karena itu, jauh di dalam kehendak jiwaku, saya ingin mati syahid di jalan Allah, bukan jalan yang selainnya!”.

Sejenak aku tertegun mendengarkannya. Sebuah pengakuan yang semakin membuatku memahami mengapa ia tak pernah lelah memberikan nasihat-nasihat kebaikan kepada setiap orang yang ditemuinya. Sebuah penjelasan tentang obsesi yang telah terangkum menjadi energi hidup luar biasa dan telah jauh melampaui kekuatan usianya. Sebuah rahasia kehidupan yang mampu menjelaskan mengapa para pahlawan-pahlawan Islam itu terlahir dengan mahakarya-mahakarya yang tiada duanya. Sebab obsesi syuhada itulah yang mengobarkan semangatnya, membakar jiwanya dan membentuk tatapan mata yang selalu menyala.

Tapi obsesi itu tak akan lengkap tanpa kesadaran yang lain. Bahwa manusia memang berhak merencanakan arah hidupnya, namun Allah jualah yang mengukir garis takdirnya. Oleh karena itulah orang-orang yang jiwanya dipenuhi obsesi syuhada itu, pada saat yang sama telah mengikhlaskan pula kesudahan dari hidup mereka di tangan Allah. Mereka begitu memahami, segarang apapun seorang Khalid bin Walid di medan peperangan, tapi kematian justru menjemputnya di atas pembaringan. Tapi bahwasanya jiwa Khalid telah dipenuhi oleh obsesi kesyahidan telah pun ia buktikan dengan luka-luka peperangan yang memenuhi sekujur tubuhnya.

Dan aku cemburu! Aku cemburu pada obsesinya yang tak sepadan dengan usianya yang telah renta. Aku cemburu pada kekerdilan obsesiku yang belum bisa menyala, bahkan hanya untuk menopang jiwaku yang selalu lelah, selalu kalah. Padahal aku telah memahami dengan baik nasihat-nasihat Rasulullah tentang obsesi syuhada. Bahwa kematian seorang mu’min yang tidak pernah membangun obsesi syahid fii sabilillah di kedalaman jiwanya, adalah kematian yang sia-sia. Na’udzu billah…

Lalu beliau menutup percakapan kami senja itu dengan sebuah nasihat: “Nak! Jangan pernah hidup dalam kebohongan. Hentikan berbohong, maka kau akan bahagia…”. Sebuah nasehat yang lain. Nasihat yang semakin menguatkan pesan moral yang sedang beliau ajarkan kepadaku. Bahwa keterhormatan kita dalam hidup ini, hanyalah dengan kejujuran kepada diri sendiri, kepada Allah, juga kejujuran pada manusia seluruhnya…

Terima kasih, Pak Haji…
Read More ..

Friday, February 13, 2009

SUDAHKAH SAYA BERSYUKUR?

Ada yang aneh di subuh ini. Saat sayup-sayup bunyi speaker masjid melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an pertanda sebentar lagi waktu shalat subuh segera masuk. Aku terjaga dengan sebuah kesadaran baru, betapa Allah Maha Memberi. Telah ku lewatkan satu hari usiaku hanya dengan izin-Nya. Kesadaran yang menyeruak dan memenuhi segenap ruang batinku. Dan sebelum lembar-lembar mushaf itu aku buka dan aku baca seperti biasa, keharuan itu perlahan mendesak air mata kesyukuran yang mengalir deras dalam kekerdilan jiwaku. Betapa kecilnya diriku ini ya Allah… Betapa angkuhnya hamba-Mu ini ya Robbi… Betapa aku telah lupa untuk bersyukur kepada-Mu…

Sahabat, sudahkah kita bersyukur hari ini?

Atas nikmat Allah yang begitu banyak dan terhitung jumlahnya itu. Nikmat yang membuat kita masih sempat tersenyum setiap harinya. Nikmat yang memberikan energi untuk senantiasa bergerak dan bernafas lega. Nikmat atas cinta yang membuat kita masih memiliki kasih sayang satu sama lainnya. Nikmat yang tak ada batasnya. Tak pantaskah dengan seluruh nikmat itu kita mestinya pandai bersyukur?

Jauh sebelum kita bertanya, “mengapa harus bersyukur?“, maka Allah telah menjawabnya dengan pertanyaan pula, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? QS: Ar-Rahman:13 ”. Maha Suci Engkau ya Allah… Maha Kayalah Engkau dengan segala kekuasaan-Mu…

Atas nikmat hidup ini…
Atas nikmat usia ini…
Atas nikmat kesehatan ini…
Atas nikmat kesempurnaan fisik ini…
Atas nikmat materi yang cukup ini…
Atas keluarga yang barokah ini…
Atas lingkungan yang ramah ini…
Atas sahabat-sahabat yang baik ini…
Atas harakah da’wah ini…
Atas keimanan ini…
Atas kesadaran ini…
Atas segala hal yang tak mungkin mampu kutuliskan dan kusebutkan lagi,
Karena banyaknya nikmat-Mu ya Allah…
Karena besarnya kemurahan-Mu ya Robbi…

Fabi ayyi aalaa irobbikumaa tukazzibaan… “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?
Read More ..

Tuesday, February 10, 2009

My Sixteen Things

Ditengah kesibukan yang tak ada habisnya, Neng Cici dan De’ Mutiah sungguh teganya memberikan PR buat aku. Tapi, atas nama kemanusiaan, dan berdasarkan syiar Islam, serta sesuai dengan UUD 45 dan Pancasila, serta berbagai atauran di negera kita, maka dengan ini aku mengerjakan PR yang keliwat panjang ini.

So, according to me, Bang Irwan is some one who…

1. Baik hati
Tak dapat dipungkiri, fakta telah membuktikan bahwa Bang Irwan sungguh baik hati. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh MYSELF Institute, kebaikan hatinya telah mencapai popularitas tertinggi di dalam keluarganya sendiri. (Heheheheh… ya iyalah, masak sama keluarga sendiri jahat…). Kalo gak percaya tanyakan saja pada Ebiet G. Ade, nanti beliau yang bertanya pada rumput yang bergoyang…
Wakakakakaka….

2. Romantis
Wedew…kalo yang ini jangan ditanya. Telah berpulu-puluh puisi cinta lahir dari lubuk jiwanya. Hanya saja, romantismenya bukan tentang cinta yang terlarang, tapi cinta yang berkah. Juga bukan melulu kisah cinta tentang manusia, tapi juga kecintaan pada Sang Pencipta…

3. Cinta Buku
Ekspresi kecintaannya pada buku telah tertuang dengan begitu dalam. Setiap saat, setiap tempat, setiap waktu, buku selalu adalah teman terbaik baginya. Bahkan pada titik ekstrem, buku orang lain pun diam-diam diklaim sebagai miliknya (ck..ck..ck..sungguh rasa kepemilikan yang tinggi). Itulah sebabnya, prinsip hidupnya tentang buku adalah: “Sungguh bodoh orang yang meminjamkan bukunya, tapi lebih bodoh lagi orang yang meminjam buku dan mengembalikannya!” Wakakakakaka….sungguh prinsip hidup yang aneh pemirsa…

4. Barcelona FC
This is about soccer! Barcelona FC adalah tim favorit & kesayangannya. Bukan kenapa-kenapa, El Barca saat ini adalah raksasa katalan yang dipenuhi bintang-bintang Eropa. Sebut saja The Magician Lionel Messi, Samuel Eto’o, Tiery Henry, Xavi Hernandez, Charles Puyol, dan kawan-kawannya. Tapi tahukah anda, bahwa kecintaan itu bermula dari UEFACL 2008. Setiap memilih El Barca sebagai tim yang dimainkan, tak tanggung-tanggung seabrek gol bisa tercipta…

5. Penderita Ashma
Menderita ashma sejak kecil. Lalu diterapi tradisional hingga sembuh saat masih SMP. Lalu kambuh lagi dan mencapai titik terparah saat aktif di dunia pergerakan mahasiswa tahun 2002-2003. Saat itulah berkenalan dengan obat hisap (inhaler) sebagai pencegah. Lalu lama kleamaan inhaler tidak lagi mampu mengatasinya. Setahun terakhir beralih ke obat pencegah yang lebih ekstrem, turbuhaler, semacam powder yang juga dihisap melalui mulut. Dan masih digunakan hingga sekarang. Pokoknya, PARAH….

6. Perfeksionis
Lebih pada soal kinerja. Kurang nyaman melihat kinerja yang memiliki banyak kekurangan dan cacat disana-sini. Akibatnya, sangat sering kedapatan mengambil alih pekerjaan orang lain di lapangan. Sangat berhati-hati dalam mendelegasikan pekerjaan. Dan lebih banyak kecewa pada inkonsistensi orang-orang yang telah dia percaya…

7. Trainer
Entah apa namanya! Bisa profesi, hobi, skill, bakat, semua bergabung jadi satu. Tapi satu hal yang pasti, dengan menjadi trainerlah, tradisi pembelajaran seumur hidupnya tumbuh menjadi habit. Haus dan rakus terhadap knowledge dan temuan-temuan terbaru, itulah Bang Irwan…

8. Kreatif
Selalu saja ada yang aneh dan baru dari ide-idenya. Orang-orang menyebutnya kreatif. Mungkin karena usia yang belum terlalu tua. Atau karena matematikanya selalu merah sehingga otak yang banyak bekerja adalah otak kanan yang kreatif. Karena itu, Bang Irwan selalu suka dengan perubahan-perubahan…

9. Biru
“Blue is my color!” kata Bang Irwan. Bukan celana kolor maksudnya. Biru itu, cakrawala. Biru itu, angkasa raya. Biru itu, simbol semesta. Biru itu, keadalaman lautan. Biru itu, simbol keluasan…

10. PKS
“PKS is my political party!” tegas Bang Irwan. Partai bersih, peduli dan professional. Bekerja mengabdi dan melayani ummat.

11. Leadership
Concern pada berbagai tema-tema kepemimpinan. Sebab mencintai pengembangan aspek kepemimpinan. Senantiasa belajar untuk meningkatkan leadership capacity.

12. Otodidak
Belajar tentang banyak hal by my self. Sebab bagi Bang Irwan, sekolah sesungguhnya adalah kehidupan itu sendiri. Tidak pernah berhenti untuk belajar hanya karena keterbatasan institusi. Prinsip hidupnya adalah: “Jadilah Pembelajar Seumur Hidup!!!”

13. Honda CRV
Hehehe..ini mobil yang Bang Irwan idam-idamkan. Mudah-mudahan taon depan dah bisa beli. Amiiinn…

14. Facebooker
Aktif membangun jejaring melalui Face Book. Terlepas dari kontroversinya, Bang Irwan telah bertemu kembali dengan banyak sahabat-sahabatnya…

15. Konseptor
Lebih banyak menjadi seorang konseptor dalam organisasi. Tapi bukan berarti tidak memahami aspek teknis. Hanya saja, pengalaman organisasi senantiasa menempatkannya sebagai seorang konseptor.

16. Pemimpi
Of course!!! Sebab: …mimpi adalah kunci…untuk kita…menaklukkan dunia…
Jangan pernah berhenti bermimpi, agar hidup ini senantiasa memiliki energi-energi baru untuk menjalaninya…

Kemudian PR ini aku tidak delegasikan kepada siapa pun…byar gak ada yang terzalimi..wakakakakkakaka...bercanda neng Cici.. :D

Read More ..

Wednesday, February 04, 2009

SETELAH KITA KEHILANGAN

Sahabat,
Pernahkah kita merasa kehilangan? Ya, kehilangan sesuatu yang kita cintai atau kah seseorang yang begitu berarti. Lalu apa yang kita rasakan setelah kehilangan itu? Hampa? Sedih? Menjadi tak berarti?

Sahabat,
betapa sering kita lalai akan kehadiran sesuatu ataupun seseorang dalam hidup kita. Sesuatu yang keberadaannya tak terasa, hingga suatu saat ia pun menghilang. Dan setelah kita kehilangan itulah keberartiannya menemukan bentuk, membangunkan kesadaran tentang betapa pentingnya ia. Sesuatu itu tak selalu orang atau sebuah benda berharga. Ia dapat pula berupa kesehatan, semangat, motivasi, akhlak, tardisi atau pun kebiasaan positif.

Itulah yang kurasakan saat ini. Semangat yang meluap-luap ketika menggeluti dunia pergerakan mahasiswa sewaktu masih kuliah dulu telah merenggut sesuatu yang berharga dalam hidupku, kesehatan. Penyakit masa kecilku muncul kembali, ashma. Aktivitas yang sangat padat dikala itu ditambah dengan pola hidup yang tidak teratur menjadikan ashma-ku semakin parah, hingga hari ini. Dan ketika hampir setiap tengah malam aku terbangun karena nafas yang saling memburu. Lalu tersedak dikerongkongan hingga terkadang rasanya ajal kian dekat, maka disaat seperti itulah perasaan telah kehilangan sesuatu yang berarti muncul kembali. Dan tak jarang, dalam perjuanganku berusaha tetap sadar untuk terus menarik nafas agar jantung ini tetap bekerja, lirih do’a perlahan mengalir, “ya Allah… jika pun saat ini adalah garis ajal hamba, matikanlah aku dalam keadaan syahadah di jalan-MU!”. Lalu bulir-bulir air bening mengalir deras dari mata yang sedang berjuang untuk tetap fokus dan menyala…

Sahabat,
Masih banyak hal dalam hidupku, dan mungkin juga kita semua yang kita selali karena telah kehilangannya. Mungkin seorang sahabat yang kita cintai, atau sebuah kendaraan yang begitu berarti, atau kenangan indah dimasa muda yang tak mungkin kembali, atau bahkan sebuah tradisi yang dulu menjadikan hidup kita indah dan penuh warna, dan kini semua telah pergi.

Olehnya itulah baginda Rasul telah berpesan, untuk menjaga beberapa hal dalam hidup kita sebelum ia benar-benar hilang dan takkan pernah kembali: usia muda sebelum masa tua kita, waktu lapang sebelum waktu sempit kita, kondisi sehat sebelum kondisi sakit kita, takdir kaya sebelum takdir miskin kita, dan kesempatan hidup sebelum datangnya kematian. Subhanallah…betapa indahnya pesan baginda Rasul ini…

Kita diingatkan tentang hakikat waktu dan kualitas hidup. Sebuah pelajaran indah betapa menit demi menit yang kita lalui dalam hidup ini seharusnya menjadi stasiun-stasiun kenangan yang tak terlupakan. Meletakkan prasasti-prasati kebahagian dalam setiap hari-hari yang kita lalui. Menciptakan amal-amal raksasa untuk memenuhi timbangan kebajikan kita kelak di hari perhitungan. Menciptkan sejarah tentang kumpulan kebaikan-kebaikan atas manusia, sehingga cerita tentang hidup kita di dunia nantinya adalah cerita tentang kebajikan, cinta, keberanian, dan kepahlawanan…

Sahabat,
Jagalah waktu kita... Ciumlah kening anak kita setiap pagi selagi sempat. Genggamlah tangan istri kita setiap hari dan ucapkan I Love You selagi bisa. Rengkuhlah kedua kaki orang tua kita dan memohon maaf atas segala dosa kepadanya selagi mampu. Waqafkanlah hidup kita untuk ummat selagi masih muda. Infaqkanlah harta kita dimedan-medan jariyah selagi berpunya. Sebab akan tiba masanya… dan pasti akan tiba masanya, ketika kita ingin melakukan semua itu namun kehidupan telah merenggutnya. Sebab penyesalan itu selalu hadir setelah kita kehilangan…

Read More ..

Tuesday, February 03, 2009

GELAR ITU KINERJA SEJARAH

Sahabat,
Seberapa pentingkah gelar itu dalam kehidupan kita? Saya yakin sebagain besar kita menganggapnya tidak penting. Saya pun berpikir demikian. Apalagi jika hanya sekedar gelar akademik yang dibangga-banggakan oleh banyak orang itu, terlalu naïf rasanya. Tetapi ada gelar lain yang mengusik pandanganku itu, yaitu gelar sosial.

Jika kita membaca kembali sejarah baginda Rasul dan para sahabatnya (sirah nabawiyah), maka kita justeru akan menemukan banyak gelar-gelar sosial di dalamnya. Rasulullah sendiri sebelum diangkat menjadi Rasul, oleh masyarakat Arab saat itu diberi gelar Al-Amiin (orang yang amanah). Empat sahabat utama bergelar khulafaurrasyidiin. Abu Bakar bergelar Ash-Shiddiq (Orang yang jujur). Ummar bin Khattab bergelar Al-Faruq (pembeda kebenaran). Ali bin Abi Thalib bergelar Baabul Ilm (pintu-pintu ilmu). Hamzah bin Abdul Muthalib bergelar As-Sayyid Asy-Syuhada (penghulu para syuhada). Khalid bin Walid bergelar Syaifullah (pedang Allah). Dan masih banyak gelar bagi para sahabat-sahabat Rasul yang mulia itu.

Tentu saja gelar-gelar itu bukan tanpa sebab. Seluruh gelar-gelar mulia para sahabat baginda Rasul adalah buah dari kinerja sejarah mereka. Gelar Ash-Shiddiq untuk Abu Bakar ada sejarahnya, seperti juga gelar Syaifullah untuk Khalid bin Walid ada sejarahnya. Dan sejarah mereka itu sungguh-sungguh adalah sejarah besar tentang peristiwa luar biasa yang mereka toreh, bukan peristiwa biasa-biasa saja. Itulah sebabnya sebagain besar pahlawan memiliki gelar-gelar mulia bagi masyarakatnya.

Memberikan gelar (label) kepada seseorang juga adalah tradisi masyarakat kita. Sebut saja misalanya Syamsyul Haeruddin striker PSM Makassar mendapat gelar “Nedved” di tengah namanya. Atau teman saya di kampus lain masa kuliah dulu diberi gelar “Tiger” oleh mahasiswa di kampusnya. Gelar itu pun tentu ada sejarahnya. Entah itu sejarah mulia atau sejarah kelam yang meninggalkan luka.

Sahabat,
Bisa jadi gelar-gelar itu merupakan potret kontribusi kita. Kinerja sejarah kita. Sehingga kita patut bertanya, sudahkah kita berkontribusi bagi ummat dan bangsa ini? Boleh jadi nama kita belum mendapat gelar apa-apa hanya karena kita memang belum bekerja apa-apa. Lebih parah lagi jika kita sudah punya gelar, tapi gelar itu adalah cermin keburukan kita. Meskipun perspektif seperti ini rasanya memang sangat naïf untuk menjadi ukuran kinerja sejarah kita. Tapi setidaknya menurut saya, kekosongan gelar untuk kita itu merupakan bukti bahwa kita belum menciptkan sebuah maha karya yang luar biasa.

So, bagaimana dengan Bang Irwan?

Hahahahaha… tentu tak pernah lebih dari anda sekalian. Tapi setidaknya bagi sebuah komunitas kecil dalam hidupku, namaku sempat ditambahkan 3 huruf dibelakangya, BEM. Irwan BEM. Bukan sebuah gelar, tapi lebih dari sekedar penanda bahwa aku pernah ditakdirkan untuk bergelut dalam dunia pergerakan mahasiswa yang lebih solid dan memiliki daya dobrak menakutkan bagi pemerintah saat itu. Sebuah kenangan pahit buat Ibu Megawati Soekarnoputri yang harus berakhir dengan tragis pada Pemilu 2004.

Read More ..

Sunday, February 01, 2009

BUKANLAH JARAK YANG MEMISAHKAN

Semalam aku bertemu dangan sahabat karibku. Sengaja aku mengunjunginya setelah hampir setahun lamanya tidak bertemu. Tapi tahukah anda, rumah dan tempat kerja sahabatku ini hanya berkisar 5 km dari kediamanku. Jika menggunakan mobil mungkin hanya butuh waktu lima sampai sepuluh menit untuk tiba di rumahnya. Nomor telepon dan HP-nya juga lengkap di phone book ku. Tapi anehnya, mengapa butuh waktu setahun lamanya untuk bisa bersua? Yah, banyak alasan untuk menemukan pembenarannya. Kesibukan yang sangat padatlah. Kesempatan yang tidak adalah. Atau alasan klise andalan kita semua, lupa.

Sahabat,
Bukanlah jarak yang memisahkan persahabatan kita, tapi rentang perhatian yang memang sudah semakin pudar. Betapa banyak orang yang pernah menyandang status sahabat sejati kita, lalu hilang begitu saja dalam rekaman kehidupan kita. Orbit aktivitas yang memang tidak pernah bertemu, perlahan tapi pasti telah menghapus namanya dalam memori kita. Padahal boleh jadi sebagian diantara mereka adalah orang-orang yang pernah menciptakan stasiun-stasiun kenangan penuh makna ketika masih bersamanya.

Sahabat,
Sebagian besar dari kita memang tak pernah sengaja untuk melupakan mereka. Tetapi kehidupan tak pernah mau tahu itu. Penggalan-penggalan sejarah hidup kita pada akhirnya akan diceritakan oleh mereka. Dan cukuplah kualitas persahabatan itu kita itu yang mengikat hati dan pikiran mereka untuk menceritakan kembali sejarah kita kepada manusia. Buram dan indahnya, tergantung lensa mereka. Dan warna lensa itu terbentuk dari akumulasi pengalaman panjang mereka bersama kita, bahkan hingga kita telah jauh dari kehidupan mereka…

Kelihatannya memang sederhana, “ah… kan cuma satu orang…”. Bukan pada jumlah orangnya saya kira, tapi pada cara kita mengapresiasi nilai persahabatan dalam ruang hidup yang dinamis dan terus bergerak ini. Dan justeru persahabatan sejati itu sebagian besarnya lahir dari situasi-situasi yang begitu rumit untuk dikelola tetapi menemukan bentuk apresiasinya disaat yang sama.

Sahabat,
Jangan remehkan kualitas persahabtan kita. Sebab roda hidup terkadang menuntun jalan takdir kita untuk bertemu kembali dengan orang-orang dan sahabat-sahabat yang sama dalam situasi yang berbeda. Maka menyesallah mereka yang acuh dengan kualitas persahabatannya, lalu suatu ketika dia begitu membutuhkan alasan persahabtan itu untuk kesuksesan hidupnya. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi yang perlu kita tahu, bahwa menjaga kualitas persahabatn itu adalah kunci-kunci kesuksesan di masa yang akan datang…

Who knows?

Read More ..