Senin, Januari 25, 2010

KETENANGAN HIDUP

Suatu ketika teman kantor saya bertanya, “Wan, kenapa kamu selalu kelihatan tenang?”. Saya menjawabnya hanya dengan melempar senyum. Tersenyum oleh pujian teman saya itu. Momentumnya kemudian berlalu. Tetapi pertanyaan kawan saya itu terus menggelayut dipikiran selama berhari-hari. Sepertinya ada yang tidak tuntas pada cara saya menyikapi pertanyaan itu. Mungkin hanya sebuah pertanyaan basa-basi, atau sekadar cara seorang sahabat memuji. Tapi sesungguhnya pertanyaan itu telah mendekonstruksi pemahaman dan keyakinan saya tentang ketenangan hidup.


Sahabat,

Ketenangan hidup itu adalah impian dan harapan setiap orang. Kesanalah muara semua perjuangan hidup manusia di muka bumi ini. Sebuah keadaan yang damai dan jauh dari ketegangan-ketegangan. Ratusan bahkan ribuan buku ditulis untuk menuntun manusia mendapatkannya. Bahkan sebagian manusia rela mengorbankan apa saja untuknya. Ada yang harus menanggalkan jabatannya, atau meninggalkan keluarganya, demi sebuah ketenangan hidup. Ada juga orang yang rela melakukan perjalanan jauh melintasi benua hanya untuk menemukan ketenangan hidup. Juga ada yang memilih mengisolasi diri dari bisingnya interaksi manusia hanya untuk merasakan nikmatnya ketenangan hidup. Sebab disanalah dahaga jiwa menemukan mata air kebahagiaannya.

Tapi sahabat,

Mungkin ada yang perlu kita maknai ulang dari ketenangan hidup itu. Sebab ketenangan itu bisa jadi jebakan. Jebakan untuk memaksa jiwa berhenti mengalir. Jebakan yang dapat membuat pikiran berhenti mengembara. Seperti air di dalam nampan, tenang, dan berhenti menciptakan jeram. Lalu akhirnya membusuk oleh sampah-sampah kehidupan. Seperti itulah, ketenangan dapat menjadi akhir dari perjuangan. Mematikan obsesi untuk bergerak dan berubah. Mengekang jiwa agar berhenti bercita-cita. Membiarkan segalanya terjadi begitu saja disekitar kita. Seperti para sufi yang bibirnya terus basah oleh lantunan dzikir sementara darah ummatnya terus mengalir oleh tebasan pedang para durjana. Mereka hidup tenang di alam jiwa, sementara kerusakan di muka bumi telah sedemikian parah…

Sahabat,

Inilah yang ku takutkan. Inilah yang kutakutkan dari ketenangan yang dipertanyakan oleh kawanku tadi. Jangan-jangan diri ini memang sudah sedemikian tenang, sehingga mata tak dapat lagi melihat ketidak adilan yang terjadi. Jangan-jangan, telinga ini pun telah tuli dari teriakan dan isak tangis mereka yang terdzalimi. Jangan-jangan, jiwa ini sungguh tak gelisah lagi pada berbagai kerusakan di muka bumi. Jangan-jangan, kaki ini pun telah lelah berlari dan memilih berhenti. Disini, dalam damainya ketenangan…

Ada yang menangis disini, kawan! Di dada ini! Ketika kenyamanan telah meninabobokkan jiwa pejuang dalam diri kita. Ketika hujan fasilitas telah memadamkan bara amarah idealisme kita. Ketika badai fitnah menghentikan gelora obsesi kita. Sebab tiba-tiba semuanya menjadi tenang, senyap dan sunyi. Menenggelamkan suara-suara serak yang ingin berteriak. Dan menurunkan telunjuk yang ingin terus mengacung menantang raja bajingan di tengah bangsa kita ini. Lalu meluncurlah berjuta justifikasi dari pikiran yang tak lagi jernih, agar diri ini seolah-olah tetap tampak suci.

Sahabat,

Berhati-hatilah dengan ketenangan hidup. Kesanalah jiwa ini ingin berlabuh. Tetapi bukan untuk mengentikan geloranya. Kesanalah hati ini ingin singgah. Tetapi bukan untuk membunuh obsesi-obsesinya. Ketenangan hidup itu adalah suluh yang membantu kita menemukan jalan ditengah kegelapan. Seperti mercusuar yang menuntun kita ditengah badai kehidupan. Agar kita tidak terjatuh oleh banyaknya tantangan hidup yang datang silih berganti. Atau pun jebakan-jebakan yang terbentang disepanjang jalan. Maka bangkitlah sobat. Kobarkan amarah idealisme dan gelora perjuangan. Katakan tidak untuk setiap kedzaliman dan ketidakadilan. Sebab disini, kau hanya berada diantara dua pilihan, hidup mulia atau mati sebagai syuhada!

2 komentar:

Ayat Al-Akras mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Anonim mengatakan...

Betul harapan itu masih ada, tapi sudah bergeser arah dan tujuannya! coba tinjau fitrah awal yang hakiki, sehingga bukan pembenaran2 logika yang muncul.

Poskan Komentar