Saturday, January 24, 2009

SANG GURU


Dia guruku. Mengajarkan aku tentang gerak kehidupan. Mengajak aku untuk memiliki cita-cita tentang peradaban. Menasehati aku untuk belajar dari kesalahan-kesalahan. Membimbing aku untuk rendah hati dalam kebersamaan. Tetapi sekaligus menggelora dalam semangat perjuangan. Pelajarannya tentang kepahlawanan. Ide-idenya tentang keberanian. Tapi hakikat ilmunya tentang keikhlasan…

Dia motivatorku. Membakar jiwaku yang selalu gelisah pada ketakberdayaan. Merobek-robek zona kenyamanan. Membangunkan asa yang terlelap untuk bangkit dan berisap siaga, sebab takdir kepahlawanan telah melambaikan tangan. Dia hadir dengan obsesi gila untuk bangsa dan ummat yang memang sedang gila. Tapi, dia juga manusia. Dan justeru karena kemanusiaannya itulah aku berpikir bahwa aku pun memang bisa. Bahwa proyek kebangkitan peradaban baru itu memang untuk diwujudkan oleh manusia-manusia seperti dia, aku dan kita semua.


Dia aliran sungai. Deras memprovokasi mimpi-mimpi yang menggenang untuk mengalir seperti bah. Mendobrak kejumudan. Melampaui batas kebiasaan dan tradisi. Dan ketahuilah bahwa dia terkadang berada di depan. Memberikan keteladanan. Bahkan jika harus patah karena benturan. Maka tangan-tangan kekar itulah yang terlebih dahulu patah dalam keterhormatan.

Dia embun pagi hari. Memberi kesejukan pada jiwa-jiwa yang kelelahan. Memberi inspirasi bagi gelora muda yang kehausan. Memberi jenak bagi nafas-nafas yang memburu. Memberi ruang bagi semangat yang meledak-ledak. Kata-katanya adalah sentuhan kebijaksanaan. Nasehatnya dalam, mengalir deras diantara syaraf-syaraf yang telah menyala. Merengkuh hati dengan cinta dan kemuliaan.

Dia matahari. Membakar jiwa yang beku. Menerangi hati yang kelam dan confuse. Memberikan makna baru tentang arti dan hakikat kehidupan. Menyala tiada habisnya, seolah-olah nyala itulah energi kehidupan yang tak boleh padam. Sebab jika nyala itu padam, maka berantakanlah seluruh gerak peradaban yang sedang menemukan bentuk ini. Sebab nyala itu adalah rambu yang menuntun dan memberi arah. Merelaisasikan mimpi-mimpi gila yang telah tergambar indah lewat nubuwah.

Dia, Sang Guru… http://gerakmulia.blogspot.com/

7 comments:

Senoaji said...

tidak akan selesai dalam dua halaman saja ketika kita membicarakan seorang guru, apalagi gur favorit kita

tabiek
senoaji

Bang Irwan said...

Betul sekali kang Seno...
Aku malah pernah berfikir untuk membuat tulisan tentang kesitimewaan setiap guru yang pernah mengajariku. Yang membentuk kepribadianku menjadi rangkaian unik dan aneh. Yang pasti, mereka semua LUAR BIASA!!!

Umi Rina said...

Guru, pahlawan tanpa tanda jasa... :)
Udah mampir tadi ke tempat Pak Gurunya... :)

Mutiah said...

engkau bagai pelita dalam kegelapan...
engkau laksana embun peyejuk dalam kehausan...
engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa...

cici_silent said...

Sang Murobbi, hmm... more than just a teacher. Dia mengajarkan bagaimana memaknai hidup, menyikapi dan menghadapi tantangannya dengan cerdas. Dan yang terpenting bagi seorang guru adalah, keikhlasannya.

young_moslem said...

Guru=murabbi=teacher atau apapun namanya adalah manusia2 super pencetak peradaban. Mencetak para pencipta peradaban.
Guru,gelar yg takkan pernah pudar. belum ada sejarahnya org menyebut mantan guruku.

tree said...

tidak! dia guruku alvonzo

Post a Comment