Tuesday, December 30, 2008

WHEN WE HUNGRY, LOVE WILL KEEP US ALIVE

…When we hungry,
Love will keep us alive..
.

Potongan lagu ini milik kelompok musik asal Amerika, Eagles. Salah satu kelompok musik favoritku waktu SMA dulu. Lagunya ini berjudul Love Will Keep us Alive. Salah satu lagu Eagles yang paling aku suka. Dan bait lagu ini: …when we hungry… love will keep us alive…, adalah potongan kalimat yang paling berkesan dari lagu ini. Jika diterjemahkan kira-kira maknanya: “Ketika kita lapar, cinta akan membuat kita terus hidup”.

Hampir lima belas tahun berlalu, satu-satunya syair dari lagu Eagles yang aku ingat hanya bait ini. Kekuatan kata-katanya melekat sempurna dalam memori otakku. Hingga terkadang tanpa sadar aku menyanyikannya dalam lirih, penggalan pendek lagu ini: …when we hungry… love will keep us alive.... Lalu, apa makna penggalan syair ini hingga begitu kuat?

Sahabat, seperti juga kebanyakan kita, aku terlahir dari keluarga sederhana. Sangat sederhana. Hingga lapar bagi kami hanyalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Waktu kuliah, lapar menjadi sesuatu yang lebih dekat lagi. Teman hari-hari. Sahabat sejati. Namun aku tak pernah sendiri. Bersamaku terdapat anak-anak muda yang sama. Sama-sama bersahabat dengan kelaparan. Dan kami tetap hidup, hingga hari ini. Sebab bersama mereka, kami taklukkan kelaparan dengan cinta. Cinta yang mengokohkan tali persahabatan, kebersamaan dan pengorbanan.

Sahabat, mungkin di antara kita ada yang bernasib serupa. Mungkin juga sebagian kita telah mampu menaklukkan kelaparan itu dengan cinta. Dan kebenaran penggalan lagu ini akan selalu menemukan bentuknya. Pada situasi yang berbeda. Pada tempat yang berbeda. Pada orang yang berbeda. Tapi kenyataan bahwa, “love will keep us alive”, akan selalu menemukan jalan kehadirannya. Dalam rumah, dalam negara, bahkan dalam sejarah peradaban manusia…

Seperti hari ini, dalam sebuah keluarga. Saat sang suami tak lagi mampu memberi apa-apa. Saat sang anak merengek meminta makanan yang memang haknya. Saat sang istri menangis diam-diam menahan rasa laparnya. Saat mereka hanya memiliki satu harta yang tersisa, yaitu cinta. Maka cinta itulah yang membantu mereka melanjutkan hidupnya. Sebab tanpa cinta, beribu keputusan dapat saja mereka ambil sebagai jalan keluarnya.

Sang suami dapat saja menenggelamkan anaknya atau membakar rumah dan keluarganya. Sang istri dapat saja meneguk racun atau menggantung dirinya. Sang anak dapat saja lari dari rumah dan mengakhiri penderitaannya. Keputusan-keputusan yang setiap hari menghiasi layar televisi kita. Tapi tidak, keluarga ini tidak melakukan itu semua. Sebab cinta telah membantu mereka untuk saling percaya. Bahwa seburuk apa pun hari ini, esok akan selalu memberikan sesuatu yang mungkin berbeda…

Seperti juga hari ini, di Gaza. Saat bom-bom pembunuh bangsa Yahudi menghancurkan rumah-rumah muslim Palestina. Saat jalan untuk lari dan menyelamatkan diri justru di tutup oleh saudara-saudara mereka di negeri yang berbeda. Saat kelaparan mengahantui hari-hari mereka selanjutnya. Tapi mereka tak pernah putus asa. Sebab di kedalaman hati kecilnya mereka meyakini tentang masih hadirnya cinta. Cinta dari saudara seiman di seluruh belahan dunia. Cinta dari manusia-manusia yang masih memelihara fitrah kemanusiaanya.

Mereka yakin bahwa cinta itu akan hadir di negeri mereka, di tanah mereka, untuk melenyapkan kelaparan dan ketakutan mereka. Bahkan mereka yakin, jika kumpulan cinta itu akan menghancurkan sang penjajah, Yahudi laknatullah…

Sahabat, hari ini kita di ajak untuk mengobarkan cinta. Cinta yang dengannya sebuah keluarga, sebuah negara, sebuah peradaban, dapat kita selamatkan. Sebab hanya dengan cinta itulah, love will keep us alive…

Read More ..

HIDUP PERLU ARAH

Hidup ini seperti keramaian jalan raya. Ramai, padat, tapi terus bergerak. Setiap kendaraan bebas kemana saja, tapi tetap harus mematuhi setiap rambu-rambunya. Rambu-rambu inilah yang menciptakan harmoni dari kehadiran ribuan kendaraan yang berseliweran itu. Terkadang, ada juga kendaraan yang tidak mematuhinya, hingga terjadilah kecelakaan yang merenggut nyawa.

Seperti itulah hidup. Kita berjalan di atasnya bersama jutaan manusia yang lain di sekitar kita. Kita bebas kemana saja, selama kita mematuhi aturan-aturan yang berlaku di tengah-tengah mereka. Menyusuri semua jalan kehidupan ini tak akan ada habisnya. Sebab setiap jalan yang kita lalui akan mengantarkan kita pada ratusan jalan yang lain, bahkan dapat juga membawa kita kembali ke jalan sebelumnya. Yang kita butuhkan hanya satu, yaitu tujuan.

Sahabat, hidup perlu arah, yaitu tujuan. Sepanjang apa pun usia kita nantinya, semua itu tak akan ada artinya jika kita tak punya arah, tak punya tujuan. Kemana pun kita melangkah dalam hidup yang begitu ramai ini, akan dibatasi oleh “time limit” takdir kita, usia. Maka cukuplah usia ini menjadi sia-sia jika langkah-langkah yang kita tapak dengan susah payah itu ternyata tak punya arah.

Sahabat. Hari ini begitu banyak manusia melangkah dengan susah payah, tapi langkah-langkah itu tak pernah pasti. Kaki-kaki mereka terseret sejengkal demi sejengkal entah hendak kemana. Mereka memang tertawa, mereka gembira, bahkan mereka telah menghabiskan semua bekal mereka. Tapi mereka ambigu. Mereka tak pernah yakin bahwa langkah itu sudah mengarah pada sesuatu yang ingin dituju. Sebab sejak awalnya, mereka memang tak pernah yakin kemana mereka menuju…

Sahabat, mudah-mudahan kita tak seperti itu. Atau kalau pun begitu, sebaiknya kita segera berbenah. Menetapkan tujuan sesungguhnya perkara mudah. Yang membuatnya menjadi susah hanya karena kita terlalu menganggapnya remeh dan tak pernah memulai. Padahal tujuan itulah yang memberikan kita petunjuk, apakah perjalanan kita ini telah berada pada arah yang tepat, atau kita tidak. Tujuan itulah yang membantu kita memilih jalan-jalan termudah dan tercepat untuk sampai kesana. Tujuan itulah yang member kita semangat, pada jarak yang sudah semakin dekat. Tujuan itulah yang member kita harapan, bahwa setidaknya kita semakin dekat pada tujuan.

Sahabat, mari memberi arah pada hidup kita. Agar usia ini tidak percuma. Agar energi ini tidak sia-sia. Agar hati ini, tenang melangkah melalui badai ujian yang memang tak pernah ada habisnya….

Read More ..

Sunday, December 28, 2008

PR BUAT 7 TEMAN TERBAIKKU

Di tengah-tengah tumpukan kesibukan hari ini, sahabat kecilku nun jauh d ujung barat Indonesia, Cici Silent menyelinap ke room INSPIRASI ku, tanpa ketok-ketok, tanpa permisi, tanpa basa-basi, tanpa uang angpaw, meletakkan Pekerjaan Rumah di meja kerjaku. Aaaahhhhh… Ciciiiiiiiiiiiiii…

Bukannya ngasih duit, malah nambah-nambah daftar pekerjaan hari ini. Tapi setelah dihitung-hitung pake rumus mate-matika + kimia + fisika + sedikit teori antropologi dan geografi, yah gak ada ruginya. Setidaknya, ada peluang kerjain 7 orang sahabat yang laen dengan “PR” ini. Hik…hik…hik…

Dan sobatku yang memperoleh kehormatan mengerjakan PR ini adalah:

1. Andi Has http://www.andihas.co.cc/

2. Mentari http://dearmentari.blogspot.com/

3. Mba’ Else http://berbagibersana.blogspot.com/

4. Fee3 http://oaseqalbu.blogspot.com/

5. Mutiah http://mutiah-arsyuddin.blogspot.com/

6. Misbah Etos http://misbahuddin-azis.blogspot.com/

7. De’ Wafi http://akuwafi.blogspot.com/


So, buat kalian sobat terbaikku yang ketiban rezki nyelesaiin PR ini, jangan menyerah ya…



RULE:
The rules are simple.
Use google image to search the answers to the quetions below. Then you must choose a picture in the first page of results, and post it as your answer. After that tag 7 people

1. The Age of Next Birthday

27 years old. Masya Allah, dah ketuaan. Blon insyaf-insyaf juga..ck..ck..ck…





2. A Place I'd Like to Travel

Masjidil Aqso at Palestine. Aku rindu untuk bisa shalat d Kiblat Pertama kaum muslimin itu. Aku juga rindu pada suasana jihadnya. University of Jihad, Palestine…



3. A Favourite Place

Book store. Jika stress, ke toko bukulah obatnya. Pusing dikit, ke toko buku solusinya. Kantong lagi kosong, ke toko buku juga, yah…liat-liat buku baru sambil nelan air liur…





4. A Favourite Food

Konro. Makanan tradisional bugis Makassar dari iga sapi atau kerbau. Ma’ nyoss…






5. A Favourite Thing

Toshiba Satellite L310. Otak ku yang ke dua. Semua data, ide, gagasan, dan keluh kesah ada di dalamnya. Tanpanya, kadang-kadang otakku “hang”. I don’t know what must I do! Aku menatapanya sekurang-kurangnya 5 jam sehari. Gimana gak jatuh cinta…




6. A City I was Born

Palopo. Kota kecil sebelah selatan kota Makassar. There is no something special with this town. Nothing…





7. A Nickname I Had

Bang Izz. Aku suka menulis. Dan dalam setiap tulisan-tulisanku aku suka menggunakan nick “Izz”. Singkatan dari kata “izzah”. Artinya “harga diri”. Kata “izzah“ adalah simbol keterhormatan, pada tujuan, cita-cita, juga perjuangan. Karena aku seorang pejuang…




8. A Favorite Color

Blue Color. Biru langit simbol cakrawala berfikir. Biru laut simbol kedalaman makna. Mata biru, simbol kecantikan bidadari surga…(amiin)




9. College Major

Engineering. Kuliah 6 taon lamanya sampe jidat sedikit lumutan di Universitas Hasanuddin Makassar. Masuk berdarah-darah, keluarnya juga berdarah-darah. Kamsudnya: penuh perjuangan!




10. Name of My Love

Yaumil Jannah. Tulang rusukku yang hilang. Di kampus, dia adalah seteru abadiku. Bahkan hingga sedetik sebelum biodatanya ku baca. Dan ternyata, setelah itu aku jatuh cinta…




11. A Hobby

Reading. Every day in my life, I must rajin membaca. Biar otak tidak keram. Karenanya, aku cinta pada buku. Sahabatku, kekasihku, teman tidurku…






12. A Bad Habbit

Game. Yah… susah menolak godaannya. Apalagi game bola, wuiiihhh… FIFA 2009, Mantap ding! Btw, I love El Barca FC…




13. Wishlist

Honda CRV. But, when? Yah, setidaknya kalo habis baca “The Secret” harapan itu muncul kembali….


Read More ..

Friday, December 26, 2008

REZKI ITU TAK AKAN KEMANA

Selalu ada hikmah dalam setiap jengkal hidup kita, seperti hari ini. Karena mobil masuk bengkel, aku beraktivitas menggunakan angkot. Yang membuatku termenung adalah pada cara Allah membagi-bagi rezkinya pada sopir-sopir angkot yang seabrek-abrek banyaknya. Ada begitu banyak penumpang yang menunggu angkot di pinggir jalan. Juga begitu banyak angkot yang berseliweran cari penumpang. Kadang-kadang sopir angkot sudah klakson calon penumpang di depan, ternyata tidak ada respon. Giliran angkot belakangnya yang klakson, si penumpang melambaikan tangan. Subhanallah…

Padahal hampir tak ada difrensiasi kedua angkot tadi. Persoalannya hanyalah pada momentum mana si penumpang melambaikan tangannya pada deretan angkot yang tujuannya sama itu. Dan sopir-sopir itu tak perlu merasa ngotot nungguin setiap penumpang yang dilaluinya untuk melambaikan tangan, sebab di depan sana, pada momentum yang berbeda, penumpang lain akan melambaikan tangan untuknya. Jika terlalu cepat, atau terlalu lambat, maka momentum rezki Allah itu bukan untuk dirinya. Subhanallah…

Sepajang jalan yang ku lalui ada begitu banyak fenomena yang sama. Pada deretan ruko di sebuah komples pertokoan, berjejer beberapa toko dengan jualan yang sama, mungkin juga harganya sama, sumber produknya sama, tapi masing-masing memiliki pembeli yang berbeda-beda. Di depan kampus pun demikian. Ada puluhan jasa foto copy di areal yang sama, tapi tetap saja menghadirkan pelanggannya masing-masing. Subhanallah, betapa indahnya cara Allah membagi-bagi rezkinya…

Kalau direnung-renungi, sebenarnya tak ada alasan bagi siapa saja hamba Allah untuk ngotot dengan rezkinya. Sebab Allah pasti Maha Adil. Yang diperlukan hanya ikhtiar dan do’a. Mungkin keyakinan seperti inilah yang tidak dimilki oleh mereka-mereka yang saling bunuh karena berebut rezki yang sebenarnya sudah ditetapkan. Mereka tak memahami, bahwa jika ikhtiar telah optimal, do’a pun telah terlafadzkan, selebihnya tinggallah urusan Allah saja. Dan Allah Maha Segala-galanya…

Itulah sebabnya, hati ini rasanya menangis melihat anak-anak bangsa ini yang kekurangan, saling jegal dan saling injak pada setiap momentum pembagian sembako, daging Qurban, atau uang yang nilainya tak seberapa. Mereka rela kehilangan nyawa demi sebuah pertarungan yang tak ada judulnya. Bayi-bayi mereka rela tergilas, untuk sebuah kompetisi hidup yang tak pernah ada habisnya. Ya Allah…ampuni kami atas kelamahan dan ketakberdayaan ini…
Read More ..

Monday, December 22, 2008

MEMAKNAI HARI IBU

IBU

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

lewati rintangan untuk aku anakmu
ibuku sayang masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Seperti udara kasih yang engkau berikan

tak mampu ku membalas, Ibu...


Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu

Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
lalu doa - doa baluri sekujur tubuhku

dengan apa membalas, Ibu...

(Iwan Fals)

Sahabat, entah apa yang ada di pikiran setiap kita hari ini. Hari dimana sebuah bangsa mengapresiasi kemualiaan seorang ibu, Hari Ibu. Seperti bait-bait lagu Bang Iwan Fals di atas. Sebuah ekspresi lewat karya untuk memuliakan seorang Ibu, bahkan semua Ibu di muka bumi ini. Adakah hari ini sempat terpikirkan oleh kita? Menyadarkan kita tentang sosok yang paling berjasa atas hidup kita. Sosok yang dari dalam dirinya kita hadir ke dunia. Sosok yang penuh cinta, bagaimana pun keadaan kita.

Sahabat, laku kita terkadang menyakitinya. Tutur kita sering melukainya. Tapi kita tahu, bahwa semua itu tak pernah menyurutkan cinta dan kasih sayangnya. Lembut jemarinyalah yang membesarkan kita. Air susunya yang memenuhi dahaga kita. Air matanyalah yang menenangkan hati kita. Merdu nyanyiannyalah yang mengantarkan tidur kita. Lalu, apa balasan kita?

Sahabat, anugerah terindah seorang anak adalah kesempatan untuk berbakti pada orang tua. Maka kesyukuran yang tiada habisnya adalah kesyukuran seorang anak atas kesempatan membersamai orang tuanya. Jika Ibu masih bersama kita, tidalah nikmat yang lebih indah selainnya.

Sahabat, jika masih ada waktu…
Bersegeralah mencintai Ibu…

Read More ..

SURAT RINDU BUAT BUNDA

Bunda…
Hari ini di negeri kita adalah harimu. Banyak kaummu yang memperingatinya. Hari yang istimewa, sebab menelusuri sejarah pun tak akan membantuku menemukan apresiasi yang sama pada lelaki dengan memperingati Hari Bapak. Banyak orang mengapresiasi harimu ini, entah seperti apa apresiasi mereka. Yang ku tahu, untukmu Bunda, aku ingin menyatakan cintaku. Bukan hanya hari ini, tapi di setiap hari yang nafasku masih ada untuk merindukanmu…

Bunda…
Tak terasa, telah tujuh tahun lamanya engkau pergi, dan tentu saja tak akan pernah kembali. Sebab kepergianmu itu adalah kepulangan ke kampung yang sesungguhnya. Engkau pergi saat aku sedang membutuhkanmu, Bunda. Saat usia ini beranjak dewasa dan menapaki setapak demi setapak ujian hidup yang sesungguhnya. Saat kepala ini membutuhkan pundak, sebagai sandaran berkeluh kesah atas badai ujian yang tak ada habisnya…

Bunda…
Tapi engkau patut bangga. Sebab aku tidak tumbuh menjadi anak yang manja. Aku kuat, Bunda! Aku tak jatuh saat engkau tiada. Aku memutuskan menerima tanggung jawab hidup ku ini apa adanya. Sebab kusadari, tenggelam dalam kesedihan hanyalah memperumit keadaan. Bahkan aku tak menangis, Bunda. Sebab aku tak ingin air mata ini menjadi jangkar kepulanganmu, ke pangkuan-Nya…

Bunda…
Di tengah pertarungan hidup yang begitu keras, tak lupa ku kirimkan do’a buatmu. Di setiap akhir sujud-sujudku, senantiasa kusempatkan bermunajat untuk kebahagianmu di sana, setiap hari. Berharap, Allah yang Kuasa mempertemukan kita kelak di tempat yang sama, di Surga-Nya…

Bunda…
Terima kasih untuk semua yang telah kau beri. Terima kasih karena engkau telah mengajarkan aku tentang agama, meski dengan segala keterbatasanmu. Terima kasih telah mengajarkan aku untuk pantang menyerah, atas setiap realitas hidup yang menghampiri. Terima kasih telah mengajarkan aku untuk rendah hati dalam setiap keadaan, kapan pun, dimana pun, sebab Allah lah yang Maha Tinggi. Semuanya begitu bermakana, Bunda…

Bunda…
Telah banyak yang berubah. Anak-anak mu telah tumbuh dewasa. Tumbuh menjadi manusia yang sesungguhnya. Meninggalkan tanah kelahiran tempat kami engkau besarkan. Menantang hidup menyongsong masa depan. Merealisasikan sebagian mimpi yang sempat kau ceritakan. Mimpi tentang anak-anak yang berbakti kepadamu. Tentang rumah, tentang keluarga, juga tentang Surga…

Oh ya Bunda…
Sebagian mimpimu itu telah terwujud. Entah ketajaman mata hati seperti apa yang kau miliki hingga mampu melihat masa depan, semuanya persis seperti yang engkau ceritakan. Tentang aku yang akan pertama kali berkeluarga. Tentang pasangan hidup yang jauh dari tanah kelahiran kita. Juga tentang obsesi yang membawa kami merantau ke tanah orang. Saat ini, semua itu nyata. Meski aku hanya menganggap semua kebetulan saja…

Satu lagi Bunda,
Cucu pertamamu telah genap 3 tahun. Seorang perempuan yang manis dan lucu (setidaknya kata teman-teman dan tetanggaku). Di wajahnya ada raut wajahmu yang cantik. Ia mengisi kekosongan hatiku sejak engkau pergi tujuh tahun yang lalu.

Bunda…
Terakhir ingin ku ucapkan, permohonan maaf atas segala khilaf dan dosaku, sejak lahir hingga membersamaimu di akhir hidup. Maafkan atas ketiadaanku saat terakhir kali kau memanggil-manggil namaku, sebelum malaikut mengambil jiwamu. Entah bagaimana menghaturkannya, pengganti cium tangan yang setiap Ied Mubarok aku lakukan untukmu. Maafkan aku, Bunda…

Read More ..

Friday, December 19, 2008

KEBAHAGIAAN TIDAK SELALU OLEH UANG

Hari ini kesadaranku kembali diusik oleh sebuah potret hidup yang sederhana. Saat mobilku berhenti di persimpangan lampu merah. Di tengah rintik hujan yang tak begitu deras. Mataku berhenti pada sebuah motor tua dan butut dalam antrian puluhan kendaraan yang sedang menunggu lampu lalulintas berubah warna menjadi hijau. Di atas motor itu seorang Bapak yang hanya menggunkan celana selutut dan baju kaos putih yang terlihat sobekan pada beberapa bagiannya, begitu ceria tanpa menunjukkan ekspresi kedinginan oleh siraman hujan dan terpaan angin di jalan yang terbuka. Di belakangnya membonceng seorang wanita paruh baya, mungkin istrinya, yang memeluk erat sang Bapak, juga dengan pakain sederhana.

Yang membuat mataku terpaku dan enggan tuk mengalihkan pandangan ke tempat lain adalah tingkah keduanya. Ditengah cuaca yang sebenarnya tak bersahabat, mereka terlihat begitu cerah ceria. Sesekali sang Bapak bercerita lalu menoleh ke belakang dan disambut tawa oleh istrinya sambil memukul-mukul lembut punggung sang Bapak. Kemudian sang Istri juga asik bercerita lalu disambut gelak tawa sang Bapak diiringi sedikit gelengan kepala. Mereka seperti tak peduli pada hujan dan pengendara lain di sekitarnya. Mereka seperti telah memiliki dunia ini berdua saja. Dan ,mereka terus tertawa…

Sahabat, potret hari ini hanyalah satu dari sejuta potret yang mungkin ada di sekitar kita. Potret sederhana yang sepertinya ingin bercerita bahwa kebahagiaan tidak harus selalu dengan uang. Meskipun tak jarang ketiadaan uang membuat hidup tak bahagia. Namun bukan pada kepemilikan uang atau tidak yang jadi masalahnya, melainkan pada bagaimana setiap kita merespon kenyataannya. Sang Bapak dan istrinya tadi, setidaknya mengajarkan kita tentang sebuah respon bijaksana pada ketiadaan harta. Bahwa kebahagian tak harus hadir setelah ada uang…

Meskipun kita tahu, bahwa mungkin dalam penggalan hidupnya yang lain mereka harus menangis. Saat uang yang ada hanya cukup untuk membeli makan sehari, saat si anak harus menahan sakit karena tak memiliki biaya berobat ke dokter, atau saat kontrakan rumah harus segera di lunasi. Di bagian itu mungkin ada tangis. Tapi bagian itu tak mengurangi semangat mereka untuk bersyukur dan bahagia. Karena kebahagiaan adalah hak mereka…

Sahabat, terkadang pikiran kita menjadi sangat picik. Mengukur segalanya dengan uang. Bahkan kebahagiaan sekalipun. Padahal kebahagian tidak ada hubungannya dengan uang. Kebahagiaan adalah urusan hati. Jika hati kita telah dipenuhi oleh ketergantungan dan kesarakahan pada materi, maka kebahagiaan itu hanya datang ketika materi itu melimpah. Tapi bagi hati yang kaya, yang tak meletakkan materi dalam ruang-ruangnya, maka kebahagian akan meliputinya setiap saat, setiap waktu, pada setiap tempat dan suasana. Sebab kebahagiaan adalah hak setiap kita…

Sahabat, mari sejenak merenung. Membuka-buka ruang dalam hati kita. Membersihkannya dari ketergantungan pada materi dan kecintaan yang berlebihan pada dunia. Menikmati hidup apa adanya. Memaknai setiap menit yang berlalu dalam balutan syukur yang tak ada ujungnya…

Read More ..

Thursday, December 18, 2008

ARTI SERIBU RUPIAH

Sahabat, pernahkan Anda merasakan arti dari nilai uang seribu rupiah? Bagi Anda pengguna internet mungkin nilai itu sangat kecil untuk harus dimengerti dan dimaknai nilainya. Bahkan terkadang recehan seribu rupiah di kantong kita yang tercecer tak pernah kita pusingkan. Toh nilainya hampir-hampir tidak cukup untuk membeli sesuatu yang cukup berharga di masa yang serba mahal seperti saat ini. Tapi bagaimana dengan orang lain?

Beberapa malam yang lalu, saat aku sedang menunggu tukang martabak langgananku meracik sebungkus martabak istemewa pesananku, sebuah kejadian menggugah terjadi. Seorang anak muda dengan penampilan yang sangat sederhana menghampiri tukang martabak. Lalu si anak muda merogoh kantong celananya dalam-dalam, -seperti begitu susah menemukan yang dia cari- lalu menarik keluar selembar uang seribu rupiah yang sudah lusuh dan lecek. Uang itu terlipat sedemikian rupa hingga ukurannya sangat kecil, seperti sempat terendam dalam cucian yang sudah dikeringkan. Lalu menyerahkan kepada tukang martabak sambil meminta, “Tahu gorengnya, Mas!”

Tukang martabak mempersilahkan si anak muda mengambil sendiri tahu goreng yang memang masih dalam jangkauannya. Sambil berdiri si anak muda melahap satu demi satu tahu goreng yang ada di hadapannya. Lahap sekali. Seperti tahu itu adalah makan pertama yang masuk ke perutnya yang kurus untuk hari itu. Aku dan tukang martabak agak terperangah menyaksikannya. Hanya dalam beberapa tarikan nafas, empat biji tahu goreng yang senilai dengan seribu rupiah itu pun ludes. Seperti sangat memahami, tukang martabak memperilahkan si anak muda menambah lagi satu buah tahu goreng miliknya sebagai bonus.

Si anak muda menyelesaikan tugasnya. Setelah selesai, tampak raut berseri dan penuh kesyukuran tepancar dari wajah si anak muda. Seperti ingin mengatakan, “Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberikan Aku kehidupan hari ini…”, Lalu si anak muda berlalu, tentu saja setelah mengucapkan terimakasih pada tukang martabak, dan senyum ramah kepadaku…

Sahabat, begitu bermaknanya nilai seribu rupiah bagi si anak muda tadi. Sesuatu yang mungkin bagi kita hampir tak memiliki nilai, tapi baginya, seribu itu adalah sehari kehidupan. Itu hanyalah satu potret dari sekian banyak orang di sekitar kita yang memaknai seribu rupiah seperti pemuda tadi. Lalu, masihkah kita mau meremehkan nilai seribu rupiah?

Read More ..

Wednesday, December 17, 2008

MENSIASATI KEBOSANAN

Sahabat, tak jarang dalam hidup ini rasa bosan datang menghampiri. Bosan pada rutinitas kerja. Bosan pada situasi yang selalu sama. Bosan pada hidup yang datar-datar saja. Lalu rasa bosan itu menyerang otak kita, melahirkan kemalasan, patah semangat, lemas, loyo, dan ingin tidur saja. Dunia tiba-tiba berubah menjadi monochrome dalam kacamata kita. Tak ada warna, tak ada letupan ceria, apalagi tawa…

Nah, sahabat, itu namanya virus kebosanan. Sesuatu yang manusiawi dan biasa-biasa saja. Tapi kemudian menjadi masalah besar ketika virus kebosanan ini bersarang dalam waktu yang lama. Akibatnya sangat fatal, yaitu matinya produktifitas. Celakanya jika tidak segera mendapatkan penanganan, maka ia akan menjelma menjadi habit (kebiasaan), dan lama kelamaan menjadi karakter. Jika virus kebosanan telah sampai pada level ini, maka matilah kita. Sebab untuk mengubahnya dibutuhkan perjuangan yang keras dan waktu yang lama…

Lalu, bagaimana caranya agar kebosanan yang menghinggapi tidak berlarut-larut dan mengubah hidup kita seluruhnya? Berita baiknya adalah fakta bahwa kebosanan bukanlah virus biologis, melainkan virus mental. Dan oleh karenanya kebosanan dapat disiasati. Beberapa tips sederhana untuk mensiasati kebosasnan adalah…

Pertama, buatlah hidup kita lebih berwarna. Caranya, keluarlah dari orbit rutinitas yang selama ini kita lakoni. Jika senin sampai jum’at adalah waktu kerja, maka sabtu dan ahad menjadi waktu out door kita. Terserah, kita bisa berwisata, camping, mancing atau traveling. Asal jangan berhubungan dengan kantor dan pekerjaan. Tapi usahakan aktivitas-aktivitas tersebut dinamis dan melibatkan seluruh diri kita, bukan hanya otak, seperti play station atau catur nonton TV.

Kedua, bergabunglah dengan komunitas. Jika kantor dan rekan kerja kita adalah satu komunitas sendiri, maka buatlah komunitas yang lain. Kita bisa bergabung dengan berbagai komunitas yang secara ekstrim berbeda dengan profesi kita. Jika kita orang kantoran, tak ada salahnya bergabung dengan komunitas bikers yang lebih sering di jalanan. Atau jika kita pelajar dan akademisi, tak ada salahnya bergabung dengan komunitas pencinta alam, tentu sangat menantang. Berkenalan dengan orang baru setiap saat adalah warna hidup yang paling indah. Ada ribuan komunitas dengan berbagai segmen yang tersebar di sekitar kita.

Ketiga, menciptakan hobi dan kebiasaan-kebiasaan baru. Mungkin kita perlu mencoba dunia kuliner dengan belajar resep-resep baru. Tidak harus kursus, apalagi jika kita sejak awal sudah bergelut dengan dunia edukasi, bisa menambah rasa bosan. Atau mencoba-coba bakat kita dalam dunia seni lukis, rasanya tak kalah menarik. Atau yang lebih keren, bergabung dalam perguruan bela diri, rasanya banyak manfaatnya.

Keempat, milikilah obsesi. Sebab orang-orang yang hidupnya penuh dengan obsesi akan menjadikan setiap hari yang dialauinya sebagai momentum perburuan. Ya, perburuan obsesi dan cita-cita yang tinggi. Sebab obsesi adalah immune bagi mental kita untuk tidak terserang virus kebosanan dalam rentang waktu yang lama. Sesekali ia mungkin datang, tapi tak cukup kuat untuk menarik perhatian kita dari perburuan obsesi yang tak pernah padam…

Read More ..

Saturday, December 13, 2008

DI SINI, SEMUA TELAH BERUBAH

Hari ini banjir datang lagi, sama seperti tahun kemarin. Sebuah silkus tahunan yang tak perlu lagi diratapi, tapi dinikmati. Namun, ada yang hilang pada banjir tahun ini. Tentu saja bukan panitia penyambutan banjir yang belum terbentuk. Melainkan sesuatu yang sangat berharga, sebuah tradisi…

Di tahun-tahun kemarin banjir memberikan kesempatan pada warga kompleksku untuk saling membantu membersihkan sisa-sisa banjir bersama-sama, dalam canda dan tawa yang garing. Sementara ibu-ibu menyiapkan kopi hangat dan pisang goreng bertabur coklat serta sebungkus rokok untuk remaja kompleks yang suka merokok. Lalu anak-anak di evakuasi ke rumah-rumah tetangga yang tidak kebanjiran. Tapi, tahun ini semuanya telah hilang. Tradisi berharga itu telah hilang…

Aku baru sadar, ternyata semuanya telah berubah. Kehidupan di kompleks ini tak seperti dulu lagi. Sahabat-sahabat muda yang kemarin masih menghidupkan kompleks dengan berbagai aktivitas bersama warga, satu persatu telah pergi. Ada yang pulang kampung karena sudah sarjana. Ada yang telah menikah dan menata hidup sendiri di luar sana. Ada yang harus pergi untuk mengejar cita-cita di tanah yang lain.

Tak terasa, anak-anak ingusan yang kemarin masih ikut lomba tujuh belas agustusan telah tumbuh besar menjadu remaja yang centil dengan dunianya sendiri. Masjid tidak lagi menjadi tempat diskusi yang mengasyikkan, tapi mereka lebih memilih menghabiskan waktu berjam-jam di Warnet yang setahun lalu dibangun di depan kompleks. Mereka menjadi asing dan tak lagi ramah…

Masjid berukuran kecil yang ada di jantung kompleks pun tak seramai dulu lagi. Tak ada lagi Taman Pendidikan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara indah anak-anak TPA melantunkan nasyid Shalawat Nabi. Tak ada lagi acara maulid dan isra’ mi’raj, atau halal bi halal setiap bulan syawal. Tradisi olah raga bersama juga tak kelihatan lagi. Lapangan futsal, badminton dan takraw telah ditumbuhi lumut-lumut yang tebal.

Selain itu, wajah-wajah asing warga baru kerap kelihatan tanpa mengenal namanya. Tidak ada lagi tradisi penyambutan warga baru dengan acara shalawatan dan makan ‘onde-onde’. Tetangga-tetangga berseliweran dengan mobil mewahnya tanpa senyum sedikit pun. Tak ada waktu mengenal mereka, sebab masjid pun tak pernah mereka kunjungi.

Yah…semuanya telah berubah, dan memang harus berubah. Itulah Sunnatullah. Yang membuatku sedih dari perubahan itu hanyalah fakta bahwa aku pun telah jauh berubah. Tak pernah lagi ku sempatkan bercengkrama dengan jamaah masjid selepas shalat isya. Tak lagi hadir tepat waktu untuk memimpin shalat berjama’ah. Tak lagi sempat memberikan kultum ba’da subuh atau bersiap-siap menjadi na’ib khutbah jum’at. Bahkan sekedar bercengkrama dengan ibu-ibu kompleks setiap sore tentang pendidikan anak pun tak pernah lagi ku lakukan.

Ah…terlalu cepat rasanya. Sepertinya semua itu terjadi diluar pikiran sadarku. Berlalu begitu saja, hingga hari ini kesadaran itu menyeruak dalam hati kecilku. Mengingatkan betapa tradisi indah di komplek ini telah tergerus oleh waktu. Tradisi yang menjadikan kompleks ini indah bagi banyak orang. Tapi kini, semua tinggal cerita…

Read More ..

Friday, December 12, 2008

DIBALIK MAKNA BANJIR

Hari ini, mentari begitu enggan bersinar. Sebagai gantinya, hujan hadir hari ini dengan utuh tanpa jeda. Sungguh hari yang sangat muram. Dan yang pasti, istana sederhanaku banjir lagi. Ah…aku sudah bisa membayangkan beratnya membersihkan seisi rumah sendirian. Membersihakan sisa-sisa lumpur, mengepel semua ruangan, mencuci perabot-perabot yang terendam, dan membersihkan puluhan kain pel pengering yang akan digunakan. Fuihh… pastinya melelahkan….

Yang membuatku lebih sedih lagi adalah tenggelamnya beberapa buku kesayanganku yang tak sempat ku rapihkan. Ada sedikit penyesalan pada kebiasaan burukku yang terbiasa meletakkan buku ditempat terakhir aku membacanya. Pastinya, meskipun nanti ku keringkan, wajahnya tak akan secantik dulu lagi. Yah, apa boleh buat…

Tapi, banjir tak selalu harus dimaknai sebagai bencana. Terkadang banjir memberikan banyak hikmah untuk menyadarkan kita pada sesuatu yang sempat terlupakan. Setidaknya pada hal-hal kecil seperti kebersihan rumah. Ya, ternyata dengan banjir hari ini aku baru sadar, bahwa telah hampir setahun aku tak membersihkan bagian-bagian tersembunyi dari lantai rumahku. Selain itu, aku menemukan banyak sekali benda-benda kecil milikku yang selama ini tercecer. Salah satunya jama tangan funky yang aku beli di pesawat beberapa waktu yang lalu.

Ternyata Tuhan memang selalu Adil, kawan. Hanya kitalah yang terlalu sering berpikir picik pada Keagungan dan Keadilan-Nya. Padahal kita sendiri jarang menghitung-hitung, sudah seberapa besarkan syukur kita atas semua nikmat yang Allah berikan kepada kita itu. Sudah seberapa ikhlaskah kita memenuhi setiap panggilan-Nya.

Akhirnya, harus ku akui jika banjir hari ini hanyalah teguran-teguran kecil dari Allah buatku. Sebuah pesan yang ingin menyampaikan betapa diri yang lemah ini tak akan mampu menolak apa yang Dia kehendaki, dan tak akan mampu mewujudkan apa yang tak Dia kehendaki. Aku ini hanyalah insan lemah yang ada dalam genggaman-Nya…
Yaa Rabb, ampuni hamba atas hati yang selalu lupa untuk mengingat dan menyebut nama-Mu. Di saat lapang atau pun sempit, di saat suka atau pun duka, di saat mau atau pun enggan, aku tetap saja hamba dalam genggaman-MU yaa Rabb….

Read More ..

Wednesday, December 03, 2008

KEBAIKAN ITU MESTI UTUH

Sahabat, tak mudah menjadi orang baik, apa lagi orang baik yang utuh. Di tempat kerja misalnya, dibutuhkan kemauan yang besar untuk menjadi seseorang yang benar-benar disebut baik. Datang tepat waktu, tersenyum sambil menyapa, menahan amarah, menyelesaikan semua pekerjaan, bahkan lembur kalau perlu. Jika kebaikan itu cuma butuh sehari, mungkin semuanya menjadi biasa. Tapi mempertahankan kebaikan itu dalam rentang waktu yang lama, itulah yang membuatnya menjadi tak mudah…

Tapi, bukan pada kemampuan menjadi baik dalam rentang waktu lama itulah kesulitannya. Sebab terlalu banyak orang yang telah suskes melakoninya. Bagian tersulit dari ‘menjadi orang yang baik’ adalah keutuhan kebaikan yang harus muncul pada setiap momentumnya. Banyak professional yang dianggap baik oleh mitra kerjanya, tapi sangat sombong di mata tetangganya. Tak jarang seorang Kiyai begitu dimuliakan oleh santri dan jamaahnya, tetapi menjadi sosok yang kasar bagi keluarganya. Tidak sedikit orang kaya yang dikenal dermawan di kalangan koleganya, tetapi melecehkan harga diri pembantu-pembantu di rumahnya. Kebaikan-kebaikan yang parsial…

Sahabat, terlalu sering kita lupa pada keutuhan kebaikan kita. Kita puas diri dengan gelar karyawan terbaik di tempat kerja, lalu tak ambil pusing dengan orang-orang terdekat kita. Kepada mitra kerja kita berkata lembut, kepada bawhan kita bertutur santun, kepada atasan kita memuji dan menyanjung, lalu giliran istri kita sambut dengan bentakan, kepada anak kita kejar dengan cacian, kepada tetangga kita serang dengan gunjingan. Bahkan (na’udzubillah), terkadang kita menganggap orang tua kita lebih layak memperoleh muka masam dibandingkan kolega bisnis yang tak punya hubungan darah dengan kita…

Sahabat, kebaikan itu mesti utuh. Sebab sejarah kita akan diceritakan oleh mereka yang mengenal diri kita. Dan saksi yang paling terpercaya adalah mereka yang menyaksikan siklus hidup kita secara utuh. Mereka itulah orang tua kita, isteri/suami dan anak-anak kita, tetangga-tetangga kita, pembantu kita, lingkungan masyarakat kita, dan mereka itu tak akan berbohong tentang kebaikan kita. Kebaikan yang utuh tentu saja…

Read More ..

DI TITIK NADIR

Sahabat, ada saat dimana roda hidup membawa kita pada sisi terbawah dari kehidupan. Saat segalanya berjalan bertolak belakang dengan semua harapan. Saat impian jauh dari kenyataan. Saat jiwa kita terasa hampa, pikiran kosong, dan ide-ide terpenjara. Saat kita merasa, tak mampu berbuat apa-apa. Itulah saat kita berada di titik nadir…

Terkadang kita cukup yakin, bahkan mungkin sangat yakin bahwa roda hidup pasti berputar. Bahwa hari ini kita berada dalam keterpurukan, dan esok akan lebih baik. Tak ada yang salah dengan keyakinan itu. Tapi tak jarang, keyakinan itu tergerus oleh waktu yang tak kunjung memberikan gilaran. Hingga suatu saat keyakinan itu berganti menjadi keputusasaan, bahwa memang takdir telah menuliskan demikian…

Sahabat, memang tak ada yang salah dengan keyakinan itu. Tapi yang keliru adalah simplifikasi kita terhadap tamsil putaran roda hidup. Terlalu sering kita menyangka bahwa roda takdir kita berputar dengan sendirinya. Hari ini kita di bawah, lalu esok kita di atas, dan esoknya kita di bawah lagi. Logika yang terlalu sederhana…

Sesungguhnya roda hidup ini bergerak oleh energi. Energi besar yang lahir dari kumpulan ikhtiar kita dalam kehidupan. Setiap tetes keringat dari usaha kita adalah energi. Setiap langkah dari ayunan kaki kita adalah energi. Setiap sengal nafas dari kesungguhan kita adalah energi. Setiap Kristal airmata dari kesabaran kita adalah energi. Kumpulan energi dari seluruh ikhtiar itulah yang melahirkan kekuatan pendorong roda kehidupan…

Setelah itu, kita tinggal membuka kuncinya. Kunci itu adalah do’a. Ya, sebab roda takdir kita hanya dapat berputar oleh energi ikhtiar kita bertemu dengan iradah Allah. Maka, tunggulah saat dimana kita beranjak dari titik nadir menuju titik zenith yang diimpikan….

Read More ..

Saturday, November 29, 2008

DEMI YOUNG MOSLEM


1. Dari Mana Blog Kalian Berasal?
Dari Kota Maya Metropolitan: BLOGSPOT

2. Kapan dilahirkannya blog kalian??
3 Bulan yang lalu

3. Kesulitan apa saja yang ada saat membuat blog kalian??
Nothing. Kan ada mbah Google!

4. Mengapa membahas topik yang kalian bahas sekarang??
Karena setiap orang butuh inspirasi.

5. Kenapa tampilan blog kalian menggunakan template itu??
Warnanya BIRU

6. Apa yang pertama kalian lakukan saat blog kalian baru jadi??
Bengong!

Sudah! So easy! But, this is the last!

Tugas ini kuberikan pada:
1. Wawan
2. Si tukang ngantoek
3. Akhwat 88
4. Irwan,ST
5. Dunia Indah
6. Shinta
7. Priwa
8. sharing ide
9. Andi Has

Read More ..

Saturday, November 15, 2008

JIKA MUSIBAH JADI BIASA

Saat ini musibah sepertinya begitu akrab di telinga kita. Melalui Koran, Radio, TV, Internet, atau cerita-cerita renyah kita saat sedang ngopi di sore hari. Silih berganti musibah-musibah itu menyapa saudara kita, bahkan mungkin juga kita. Ada banjir, tanah longsor, kebakaran, gempa bumi, hingga ancaman tsunami, semuanya dihidangkan hangat melalui media massa setiap harinya…

Mata kita juga disuguhi pemandangan pilu. Ada tangis bocah yang kehilangan orang tua, ada erang kesakitan lelaki yang terhempas gempa, juga jerit pilu perempuan setengah baya yang terbakar seluruh hartanya. Semuanya menyatu dalam suguhan pagi di rumah kita…

Sahabat, terkadang semua kisah itu berlalu begitu saja. Seperti iklan komersil yang tak menarik lagi untuk disimak, apa lagi untuk dihayati dan dimaknai. Apakah ini pertanda telah hilangnya nurani kita? Mungkin tidak! Nurani kita mungkin masih pada tempatnya. Sensitivitas kita juga mungkin masih pada bentuknya. Lalu, apa yang salah?

Yang membuat musibah itu menjadi biasa-biasa saja adalah karena ia hadir setiap hari di telinga kita. Ia muncul setiap saat di depan mata kita. Ia datang silih berganti menggedor-gedor nurani kita. Hingga akhirnya, jeritannya menjadi biasa, pemandangannya menjadi biasa, tragedinya menjadi biasa. Semuanya menjadi biasa. Lalu esok datang, dengan cerita yang lain lagi. Cerita yang biasa…

Sahabat, mungkin yang kita butuhkan adalah memperbanyak taubat. Sebab musibah yang silih berganti itu adalah pesan Allah buat kita semua. Bahwa sepertinya ada yang mesti kita benahi dari diri kita, dari masyarakat kita, dari bangsa kita. Bahkan musibah itu bisa jadi pesan yang lebih keras, semacam peringatan dari Allah bahwa sepertinya kita sudah terlalu jauh meninggalkan-Nya. Sebab Dia mencintai kita, lebih dari cinta kita kepada-Nya…
Read More ..

Friday, November 14, 2008

KETIKA KITA DIPERSIMPANGAN

Sahabat, ada saat dimana kita dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit dalam hidup. Pilihan-pilihan yang terkadang menyakitkan dan menuntut pengorbanan. Menjadi begitu rumit, sebab pilihan-pilihan itu membutuhkan keikhlasan yang dalam dan keberanian yang besar. Sebab terkadang pilihan-pilihan itu sangat menentukan keberlanjutan hidup kita. Itulah momentum, saat kita di persimpangan…

Sulit memang, tapi kita harus menentukan pilihan. Bahkan, berdiam diri dan membiarkan segalanya berjalan apa adanya juga adalah sebuah pilihan. Hanya saja, pilihan yang kita ambil dari sebuah kepasrahan atau menyerah, adalah pilihan yang selalu diikuti penyesalan. Penyesalan atas kelemahan jiwa yang telah membiarkan segalanya berlalu tanpa pendirian.

Sahabat, kita memang harus memilih. Meskipun saat pilihan-pilihan itu datang, perang batin berkecamuk di dalam dada. Perang yang melahirkan air mata, juga tangis, dan meledak pada waktu sendiri, dalam sepi, dalam sunyi. Mengalir bersama ratapan khusyuk kepasrahan di hadapan Allah yang kuasa menentukan nasib setiap hamba-Nya. Tak peduli, siapa pun ia…

Sahabat, kita harus mengambil pilihan. Sebab pilihan yang kita ambil itulah yang melahirkan keterhormatan. Keterhormatan diri atas pendirian yang tak goyah oleh beratnya pilihan-pilihan. Apa pun hasilnya kemudian. Entah menyakitkan, atau sesuai harapan, tak perlu kita risaukan. Sebab hasil itu, Allah lah yang memutuskan, kita hanya bisa merencanakan.

Sahabat, saat kita telah di persimpangan, ambillah sebuah pilihan. Seberat apa pun itu. Sesakit apa pun itu. Serumit apa pun itu. Sebab, pilihan kita itulah yang memberikan pelajaran berharga tentang suatu keputusan. Sebab persimpangan itu, mungkin akan hadir kembali di masa yang berbeda, kelak, dalam rentang usia yang tak seberapa.

(Aku tulis untuk saudaraku, sahabatku, teman seperjuanganku di jalan da’wah, yang tengah di persimpangan, untuk memutuskan nasib bahtera rumah tangganya yang sedang goyah. Sebab jarak, tak mengizinkan kita bertukar asa dalam cengkrama seperti biasa. Akhuna fillah fi Papua, uhibbuka fillah, ya akhi! Uhibbuka fillah…)
Read More ..

Thursday, November 13, 2008

DIALOG PENGANTIN

Sahabat, biar otak kagak kram dan bisa fresh sedikit, ada baiknya kita ikuti dialog dibawah ini. Dialog ini membandingkan bagaimana percakapan sepasang pengantin baru dan bagaimana dialog pasangan yang sudah sangaaat lama, tentu saja ini hanya guyon. Dialog ini aku peroleh dari email teman kuliah dulu, namanya Idwar Zulkifli (Ewa’). Dialognya aku edit sedikit, biar lebih sopan…



Berselang 5 JAM setelah menikah, sepasang pengantin baru saling bercengkrama…

Suami : Akhirnya aku sudah menunggu saat ini tiba sejak lama…
Istri : Apakah kau rela kalau aku pergi ?
Suami : Tentu Tidak!! Jangan pernah kau berpikiran seperti itu…
Istri : Apakah Kau mencintaiku ??
Suami : Tentu !! Selamanya akan tetap begitu…
Istri : Apakah kau pernah selingkuh ??
Suami : Tidak !! Aku tak akan pernah melakukan hal itu…
Istri : Maukah kau menciumku ??
Suami : Ya!
Istri : Sayangku.... ...


Berselang 5 TAHUN setelah menikah, sepasang suami istri bercengkrama...
Bacalah dialog di atas dari BAWAH ke ATAS

Read More ..

JADILAH MATAHARI

Sahabat, perhatikanlah rembulan. Indah, sejuk, romantis, damai, memberi arah, penuh makna, sarat cerita. Tapi, tetap saja rembulan hanyalah benda langit yang cahayanya tergantung matahari. Dan ketika matahari enggan member sinarnya, maka rembulan hanyalah benda langit biasa. Lalu, perhatikan pula matahari. Panas, silau, membakar, penat dan segala kesukaran yang ada didalamnya. Tetapi, mataharilah sumber cahaya. Ia ada meski yang lain tiada. Dan ia akan tetap ada, meski yang lain enggan untuk ada.

Sahabat, setiap kita memiliki sifat seperti bulan atau matahari. Seperti bulan, kita ada ketika orang lain memberi. Kita hanya berharga ketika orang lain memuji. Kita merasa bermakna ketika orang lain mengapresiasi. Dan ketika orang lain enggan, maka kita pun menjadi manusia biasa kembali. Seperti itulah seorang bulan. Maka kebaikannya hanya muncul disaat datang hujan pujian. Kelembutannya hanya hadir saat mengalir kekaguman. Dan ketika pujian dan kekaguman itu tiada, maka dia pun tak punya makna.

Seorang matahari, sungguh jauh berbeda. Dialah yang menerangi apa yang ada di sekitarnya. Tak peduli dengan pujian ataupun gunjingan, kebaikan harus diamalkan, kebenaran harus disebarkan. Terkadang memang ada awan yang menjadi halangan, atau sekedar perputaran siang dan malam, tetapi itu tak membuatnya berhenti bersinar, memberikan makna bagi kehidupan.

Sahabat, jadilah matahari! Hiduplah apa adanya tanpa bergantung pada pujian. Berjalanlah dengan sederhana tanpa beban kekaguman. Melangkahlah dengan pasti tanpa mencederai keikhlasan. Sebab takdir adalah rahasia semesta yang harus kita raih dengan keyakinan, bukan ketergantungan.

Sahabat, jadilah matahari!
Read More ..

Wednesday, November 12, 2008

DO'A SEORANG BUJANG

Sahabat, selama ini postinganku terkesan serius. Sampai ada sahabat yang memberikan saran dan kritiknya, namanya Conan. Trus, ada lagi yang kasih masukan, katanya humor itu penting, biar gak cepat tua. Soalnya anti aging sudah semakin mahal. Itu kata Wina, Bos BHSC Bandung. Jadi, iseng-iseng aku berselancar mencari ide-ide garing nan legit, hingga sampailah aku di 'rumah' blog mas Yudhi (www.yudhim.blogspot.com), dan ternyata ada sebuah DO'A disana. DO'A untuk para lajang yang kepengen sekali menikah...


"Ya Tuhan, kalau dia memang jodohku,
dekatkan lah...
Tapi kalau bukan jodohku,
Jodohkan lah....

Jika dia tidak berjodoh denganku,
maka jadikanlah kami jodoh...

Kalau dia bukan jodohku,
jangan sampai dia dapet jodoh yang
lain, selain aku...

Kalau dia tidak bisa di jodohkan
denganku ,
jangan sampai dia dapet jodoh yang lain,
biarkan dia tidak berjodoh sama seperti
diriku...

Dan saat dia telah tidak memiliki jodoh,
jodohkanlah kami kembali...

Kalau dia jodoh orang lain,
putuskanlah ! Jodohkanlah dengan ku....

Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain,
lempar orang tersebut ke laut dan
kemudian jodohkan kembali dia dengan
ku ...

"Amin..." .

Read More ..

Tuesday, November 11, 2008

PAHLAWAN ITU ADALAH KITA

Sahabat, hari ini tanggal 10 Nopember, Hari Pahlawan. Sebuah momentum yang menyadarkan kita kembali tentang sejarah bangsa ini, Indonesia. Bangsa yang dibangun oleh parade para pahlawan dalam setiap episod sejarahnya. Bangsa yang bangkit dari kubangan darah dan air mata founding fathers-nya. Bangsa yang besar dalam keberagaman rakyatnya.

Lalu apa makna hari pahlawan tahun ini bagi kita?

Sahabat, bagiku hari pahlawan tahun ini adalah momentum lahirnya kembali para pahlawan sejati. Untuk membawa bangsa yang sedang krisis ini menjadi Indonesia yang berkah. Hari pahlawan tahun ini adalah momentum bagi kita untuk menyeka air mata ibu pertiwi, atas rasa duka pada kondisi perempuan Indonesia yang tak kunjung mampu melahirkan pahlawan-pahlawan baru.

Maka bagiku, para pahlawan itu bukan untuk ditunggu kelahirannya. Sebab mereka telah lahir ke dunia bersama pusaran krisis yang melanda negeri kita. Hanya saja mereka belum menyadari takdir sejarahnya, bahwa di tangan merekalah sebuah bangsa sedang menggantungkan nasib dan harapannya. Mereka hanya perlu tamparan-tamparan kecil untuk membangunkan dari tidur panjangnya.

Sahabat, para pahlawan itu adalah kita! Anak bangsa yang sedang tumbuh menjadi para ksatria. Pada awalnya memang kita bukan siapa-siapa, dan tak punya senjata apa-apa. Tapi hidup telah membentuk kita, krisis telah mendewasakan kita, dan sejarah telah mengajari kita, bahwa takdir kepahlawanan itu harus diraih oleh anak-anak muda yang semangatnya tak pernah mati. Sebab kita masih memilki energy ini, OPTIMISME…

Sahabat, tak perlu pertanyakan kemana takdir akan membawa kita. Tak perlu diskusikan sisi mana dari kepahlawanan itu yang menjadi bagian kita. Kita hanya perlu berjanji, bahwa setiap tarikan nafas kita, dan setiap ayunan langkah kita, adalah untuk kabangkitan Indonesia…

Ibu Pertiwi


Kulihat ibu pertiwi, Sedang bersusah hati
Air matamu berlinang, Mas intanmu terkenang
Hutan gunung sawah lautan, Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah, Merintih dan berdoa
Kulihat ibu pertiwi, Kami datang berbakti
Lihatlah putra-putrimu, Menggembirakan ibu
Ibu kami tetap cinta, Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka, Untuk nusa dan bangsa


Read More ..

Monday, November 10, 2008

GAIRAH HIDUP

Sahabat, sering kita melihat seorang kakek yang sudah bercicit, namun masih memilki semangat hidup yang luar biasa. Usia senja tak menghalanginya dari berbagai aktivitas produktif setiap harinya. Aku mengenal beberapa orang yang seperti ini, salah satunya Kakekku. Meskipun usia beliau sudah 78 tahun lebih, namun semangat hidupnya tak pernah kalah oleh cucunya yang masih muda.

Setiap hari beliau berangkat ke kebun dan membawa pulang berbagai jenis buah di sore harinya. Pada hari minggu, beliau tak pernah luput mengunjungi teman-teman seperjuangannya dengan menggunakan sependa ontel dan topi khas pejuang ’45 miliknya. Jarak tempuhnya bisa sampai 40 kilometer dalam sehari. Sebuah semangat yang luar biasa…

Tapi di saat yang sama pada tempat yang berbeda, aku juga sering menemukan kondisi yang sebaliknya. Terlalu sering aku menemukan adik-adikku yang masih mahasiswa telah kehilangan semangat hidup jauh sebelum mereka menemukan tantangan hidup yang sesungguhnya. Aku pernah memiliki teman kuliah yang seperti itu. Setiap hari dia mengeluh atas apa yang terjadi pada dirinya. Semua kesalahan ditimpakan pada pihak lain, entah itu dosen, asisten, teman kuliah, bahkan papan tulis yang tak bersalah sekalipun menjadi pelampiasannya…

Sahabat, apa yang menjelaskan itu semua? Rahasianya ada pada kata: gairah hidup. Gairah hidup adalah energi yang menghidupkan motivasi setiap orang. Gairah hiduplah yang membakar setiap potensi seseorang menjadi ledakan tindakan yang terus menerus mengalir. Dan gairah hidup tak pernah memandang usia, tua atau muda, jika gairah hidup telah membakar jiwa, maka raga akan lelah mengikuti kehendaknya…

Sahabat, darimana lahirnya gairah hidup?

Pahamilah, gairah hidup lahir dari kedalaman cinta yang bertemu dengan ketinggian optimisme. Cinta menjadi akarnya yang menghunjam, dan optimisme menjadi pohonnya yang menjulang. Cinta kepada semua yang masih ada bertemu dengan optimisme pada harapan yang akan datang. Seperti itulah cinta dan optimism bertemu, melahirkan energi gairah hidup yang bergelombang…

Sahabat, nyalakanlah gairah hidup anda! Sebab gairah inilah yang membantu kita senantiasa bangkit dalam setiap kejatuhan. Gairah inilah yang membuat kita tetap tegak berdiri ditengah badai ujian yang silih berganti. Gairah inilah yang menguatkan kita mengukir takdir sejarah dengan gagah, hingga manusia kelak menceritakan kisahnya…

Gairah inilah, gairah hidup…
Read More ..

Sunday, November 09, 2008

APA YANG KAU CARI?

Sahabat, tak jarang kita membanggakan banyak hal dalam hidup ini. Atas apa yang telah kita raih dengan bersusah payah. Atau pun hanya karena kebetulan takdir baik yang menghampiri kita. Entah itu jabatan, jenjang karir, kendaraan mewah, deposito milyaran rupiah, atau hanya karena Tuhan memberikan karunia wajah yang lebih tampan atau cantik, kulit yang lebih putih dan halus, atau sekadar tubuh yang lebih ramping dan tinggi semampai.

Sahabat, semua itu adalah karunia Allah yang wajib disyukuri. Sebab tidak semua orang diberikan nikmat yang serupa. Akan tetapi, apakah itulah yang kita cari dalam hidup? Apakah memang itulah yang menjadi tujuan akhir dari perjalanan panjang kita?

Sahabat, ada sebuah kisah yang patut untuk direnungi. Dahulu ada 3 pemuda yang hidupnya serba kekurangan. Suatu hari mereka bertemu dengan seorang tua bijaksana yang menjanjikan akan mengubah hidup mereka. Si tua bijaksana meminta 3 pemuda melakukan sebuah pekerjaan. Mereka diminta masuk ke dalam sebuah goa yang gelap gulita tanpa membawa penerangan. Kemudian mereka diminta mengambil batu sebanyak mungkin yang mereka bisa dari dalam goa tersebut.

Pemuda pertama berpikir, bukankah si tua bijaksana meminta aku mengambil batu sesuai yang aku bisa? Buat apa menyusahkan diri dengan mengambil banyak. Maka dia pun mengambil 2 bongkah kecil batu seukuran genggaman tangan, satu di tangan kanan dan satunya lagi di tangan kiri. Lalu beranjak keluar…

Pemuda kedua berpikir, aku hanya akan mengambil batu sesuai kemampuanku, seperti permintaan si tua bijaksana. Maka, dia pun meraup beberapa bongkah batu dan membawanya dalam pelukan tangan. Lalu beranjak keluar…

Pemuda ketiga berpikir, si tua bijak sana meminta aku mengambil sebanyak mungkin yang aku bisa. Bukankah dia berjanji akan memberikan yang lebih baik sebagai imbalan pekerjaan ini? lagi pula, si tua bijaksana sudah terlalu tua untuk melakukan pekerjaan ini sendiri. Maka, dia pun membuka baju yang dia pakai. Di atas baju tersebut dia menyusun bongkahan-bongkahan batu dengan rapih. Kemudian memikulnya keluar goa dengan susah payah…

Sahabat, ketika ketiga pemuda tersebut sampai di luar dengan bawaan mereka masing-masing, tiba-tiba mulut goa telah tertutup oleh bongkahan batu yang sangat besar. Ketiga pemuda tidak mungkin masuk kembali. Di depan mulut goa si tua bijaksana telah menunggu mereka. Lalu si tua bijaksana meminta tiga pemuda melihat apa yang telah mereka bawa dari dalam goa yang gelap gulita itu. Ketiga pemuda terpeanjat kaget tak percaya. Yang mereka bawa adalah bongkahan-b ongkahan emas murni berbentu batu.

Pemuda pertama meraung-raung menyesali nasibnya yang baru saja berlalu. Penyesalan atas kemalasan diri yang harusnya tidak perlu. Pemuda kedua menangis keras sambil memukul-mukul kepalanya. Menyesali jiwa yang hanya mampu menakar diri dengan takaran sederhana. Pemuda ketiga tak kalah histeris, menyumpahi kobodohan pikiran yang tak sempat digunakan. Padahal jika ia masuk membawa gerobak, tentu hidupnya akan jauh lebih baik dari sebelumnya.

Nah, sahabat. Pesan moralnya bukanlah pada nilai kerja keras ketiganya yang berbeda. Tapi pada ketidaktahuan mereka terhadap apa yang mereka cari di dalam goa. Seperti juga hidup kita. Allah telah memberikan waktu dan kesempatan yang sama. Lalu setiap kita mengisinya dengan kerja keras yang berbeda-beda. Tapi persoalnnya bukanlah seberapa keras kita bekerja, tapi apa yang kita cari dengan bekerja?

Sahabat, banyak orang yang menghabiskan seluruh usianya dengan kerja keras, membangun dinasti bisnis raksasa dan tak terkalahkan. Namun ketika semua telah diraihnya, dia tetap merasa hampa. Ternyata, apa yang dikerjakannya sepanjang usia, tidaklah membawanya pada apa yang dicari dalam hidupnya.

Dan tak jarang kita menemukan seseorang yang biasa-biasa saja. Hidup pas-pasan dengan keluarga sederhana. Menjalani hidup apa adanya. Tapi dari gurat wajahnya tergambar kesyukuran atas hidup yang telah dijalaninya. Keluarga sakinah, anak sholeh dan sholehah, kebutuhan tercukupi, tempat tinggal yang teduh, tetangga yang ramah, ketenangan jiwa, semua menyatu dibalik ekspresi sujud panjangnya…

Jadi, apa yang kau cari sobat? Tidak lelahkah jiwamu mengembara dalam putaran ruang dan waktu untuk mencari sesuatu yang tak kau ketahui apakah itu? Tidak resahkah hatimu melihat penggalan usia yang makin senja dan tujuan hidup itu belum nyata juga? Kembalilah… kembalilah merumuskan lagi jawaban dari pertenyaan yang sederhana… Apa yang kau cari, sobat?
Read More ..

Saturday, November 08, 2008

JANGAN REMEHKAN SEBUTIR PASIR

Sahabat, hidup ini tidak datar. Terkadang kita harus mendaki, menapaki tebing tinggi untuk sampai di puncak. Namun tak jarang kita pun harus merangkak, menuruni jurang terjal yang tak bersahabat. Seperti itulah harmoni hidup ini dibentuk menjadi lukisan berjuta warna yang mengagumkan. Kadang mudah, dan tak jarang begitu sulit…

Seperti seorang pendaki, mereka jarang menyerah oleh tingginya tebing atau terjalnya jurang. Tapi terkadang yang membuat mereka berhenti adalah sebutir pasir. Ya, sebutir pasir yang masuk ke balik kuku kaki, lalu membuat kaki sang pendaki terluka dan akhirnya harus menyerah.

Seperti juga kita, terkadang yang menjatuhkan kita bukanlah tantangan hidup yang terlalu berat. Melainkan hal-hal kecil yang terlalu disepelekan. Seperti janji yang terabaikan, senyum yang tak ditampakkan, kata maaf yang tak sempat diucapkan, atau hanya sekedar terima kasih yang lupa dihaturkan. Ya, terlalu sederhana. Tapi hal kecil itulah yang menyebabkan retaknya persahabatan, rengganya hubungan, dan hilangnya kepercayaan…

Sahabat, jangan remehkan sebutir pasir. Jangan remehkan hal-hal kecil dalam hidup kita. Bukankah kita lebih sering tergelincir oleh batu kecil yang tak terlihat ketimbang bongkahan batu besar yang nyata di depan mata. Berikanlah apresiasi kepada setiap orang apa adanya saat kita masih sempat melakukannya, agar sifat kita yang suka lupa tidak sampai menghancurkan perjalanan hidup kita…
Read More ..

Friday, November 07, 2008

SENJA YANG MENYADARKAN

Senja ini, seperti senja yang kemarin. Kendaraan merangkak perlahan dalam antrian panjang para pekerja yang hendak pulang. Seperti deretan rapih burung-burung yang juga hendak kembali ke sarang. Berhias bunyi klakson bersahut-sahutan tanda hilangnya kesabaran. Seperti juga nyanyian burung yang gembira sambil terbang pulang. Seperti sebuah simfoni, melantunkan syair-sayir kehidupan…

Dalam gerak maju sejengkal demi sejengkal mobil yang ku setir sendirian. Terdengar sayup suara azan maghrib dari radio mobil yang ku setel untuk melepas kebosanan. Ada keteduhan, saat panggilan Tuhan menggema di telinga. Ada kesejukan, saat ajakan kemenangan meresap ke dalam jiwa. Juga ada penyesalan, pada keterbatasan yang membuat diri ini tak mampu bersegera memenuhi panggilan-Nya…

Ah… betapa indah senja ini. Senja yang membawa kesadaranku pada kesendirian. Bahwa setiap kita akan kembali kepada-Nya kelak, dengan sendiri-sendiri. Hiruk pikuk kehidupan, adalah ujian-ujian yang mesti dipertanggungjawabkan, sendirian…

Ah… betapa damai senja ini. Senja yang membuatku terharu, tanpa sadar, meneteskan butir bening air mata penyesalan. Atas ketidak mampuan mensyukuri nikmat hidup yang begitu berharga. Atas kesombongan diri, yang tak pernah mau mengakui kekuasaan-Nya atas setiap peristiwa.

Ah.. senja ini. Mengingatkanku pada usia. Ya, usia yang sedang berjalan kea rah senja. Oleh waktu yang tak pernah kompromi. Dan ketika senja itu tiba, entah diri ini berada di bagian senja yang mana…
Read More ..