Friday, August 29, 2014

زيدان آل خاتم

Selamat datang di dunia, Anakku…
Kau yang ke-empat, dari kumpulan permata hati kami di dunia…
Kami memberimu nama, Zaydan, Tambahan…
El-Khatim, yang terakhir…
Karena mungkin, kaulah yang terakhir dari permata hati kami…
Jadilah muslim tangguh, Anakku! Mengikuti jejak para pahlawan Islam yang meninggikan Dienullah ini…

.:: 14 Agustus 2014 ::.


Read More ..

Thursday, June 19, 2014

AKU MEMILIH AKAL SEHAT

Sahabat,
Kadang-kadang saya merasa cara kita mengekspresikan dukungan dan kecintaan kepada kandidat presiden yang kita cintai melalui sosial media sudah kelewat berlebihan. Bukan karena kita aktif mengkampanyekan kehebatan kandidat dukungan kita atau sibuk menyebarkan tautan informasi negative atas kandidat lawan kita, it’s okay! Itu hal biasa dalam politik. Toh, semua itu kita lakukan agar orang lain bisa memilih calon pemimpinnya dengan “akal sehat”, sama seperti kita kan? Kan!!! ^___^

Yang tak ku fahami adalah ketika perbedaan pilihan politik membuat kita rela mencederai perasaan sahabat kita dengan komentar-komentar yang menyerang pribadi mereka, bahkan harga diri dan kehormatan mereka. Padahal boleh jadi yang kita serang itu adalah seorang sahabat yang bersamanya kita melewati terlalu banyak kesukaran hidup. Dan seolah-olah kata-kata kasar yang terlontar melalui media sosial tersebut hal biasa saja, hanya demi untuk menunjukkan bahwa Andalah pemenangnya.

Sahabat,
Bagi saya, akun sosial media adalah avatar diri kita di dunia maya. Representasi yang mewakili perasaan dan pikiran kita yang sesungguhnya. Dan ketika kita menuliskan ekspresi kemarahan atau kebencian di wall facebook seorang sahabat, atau me-mention akun twitter mereka, maka bagi yang menerimanya kata-kata yang diketikkan tersebut adalah ungkapan yang sungguh mewakili diri kita yang ada di dunia nyata. Seperti itulah memang yang ingin Anda katakan di depan wajah mereka.. iya, kan? Kan!!! ^___^

Dan akal sehat saya tak bisa menerima ketika dua orang sahabat di dunia nyata, yang bersama-sama melewati banyak hal dalam kehidupan mereka, saling menghujat dan merendahkan kehormatan masing-masing hanya karena dukungan calon Presiden. Dimana akal sehatnya? Seolah-olah ketika kandidat mereka nanti berhasil menjadi penguasa maka sang presiden yang mereka cintai itulah yang paling pertama mengulurkan tangannya ketika mereka sedang dalam kesulitan… (esmosi… lap keringat… atur nafas…)

Sahabat,
Aku memilih akal sehat. Tak rela ku korbankan persahabatan kita hanya untuk calon-calon penguasa itu!!! Biarlah pilihanku hanya untuk diriku saja. Persetan jika kita beda pilihan, engkau tetap sahabatku. Peduli setan dengan status-statusmu yang nakal itu, engkau tetap sahabatku. Dari pada hatiku disibukkan dengan persangka buruk dan amarah kepadamu, lebih baik kunikmati hari-hariku dengan mengingat-ingat kebaikanmu, kawan…. Hahahahaha… Dan, akal sehatku mengatakan, lebih baik aku sign out dulu dari Facebook ku hingga pilpres usai. Terserah apa katamu disana, kawan… coret-coretlah… hujatlah… cacilah… hingga kau puas… toh aku tak akan membacanya… dan disini, aku tetap mencitaimu dengan segala sangka baikku kepadamu… Uenak toh! Hehehehe…
Read More ..

Monday, May 26, 2014

PUING 2014

Pemilu legislative 2014 telah usai. Pemilu paling GILA yang pernah saya jalani sejak terjun di dunia politik sepuluh tahun silam. Saya katakan GILA sebab Pemilu kali ini telah meruntuhkan semua teori pemasaran politik yang susah payah dibangun oleh ahlinya (baca: pengamat) dan diimplementasikan oleh para politisi. Akibatnya para tukang survey harus jatuh bangun melakukan justifikasi atas kekeliruan hasil survey mereka. Terlalu banyak anomali yang terjadi. Partai korup dan tidak korup tidak penting bagi pemilih. Caleg melayani dan tidak melayani persetan bagi pemilih. Yang sering nangkring di TV dan yang “ghaib” tak ada bedanya bagi pemilih. Yang penting, “Wani piro?”.

Makanya pasca Pileg, puing-puing korban perang 2014 masih berserakan dimana-mana. Terutama puing hati para Caleg gagal. Saya tahu beberapa sahabat saya yang gagal adalah sosok yang begitu aktif memperjuangkan aspirasi masyarakat di kantor Dewan. Tapi bagi sebagian besar pemilih itu semua hanya masa lalu. Yang penting saat ini kata mereka, adalah “yang ada di depan mata”.

Salahkah mereka? Tidak juga. Perilaku pemilih seperti ini adalah hasil dari jualan politisi yang diproduksi oleh partai politik. Tak ada penjual, tak ada pembeli! Terlalu banyak anggota Dewan yang setelah Pemilu selesai tak pernah lagi menyapa konstituennya. Padahal ketika kampanye dulu janjinya segudang. Akhirnya para pemilih mulai belajar, dari pada jadi korban janji Caleg lagi, lebih baik janjinya disetor di depan. Soal janji yang lain, yah nanti sajalah setelah terpilih. Pada saat yang sama, parpol rame-rame merekrut Caleg vote getter dari kalangan pemilik modal. Gayung bersambutlah dengan keinginan Pemilih. Jadilah Pemilu Legislatif 2014 yang lalu ajang transaksi suara terbesar dalam sejarah demokrasi Indonesia.

Yah, miris memang. Tapi setidaknya, selalu ada sisi baik yang dapat dipetik. Dalam Pileg kali ini para pemilih mulai “tega” mengambil uang para Caleg lalu tidak memilihnya. Seperti kampanye yang selama ini didengungkan, “Ambil Uangnya, Jangan Pilih Orangnya!”. Dari lima Caleg yang datang ke pemilih menawarkan uang, pada sebagian pemilih, semua “sumbangan” tersebut diambil, dan hanya memilih satu di antaranya. Dari aspek “teganya” sudah bagus. Semoga kedepan “ke-tega-an” ini tetap terpelihara untuk memberi efek jera kepada politisi karbitan berkantong tebal. Tinggal bagaimana mengajak masyarakat agar memilih calon-calon legislative yang kredibel, dekat dan lebih peduli dengan mereka. Wallahu ‘alam…
Read More ..

Monday, March 10, 2014

SELAMAT JALAN USTADZ MUHAMMAD

Ahad pagi menjelang siang, saya masih sibuk di depan laptop menyelesaikan desain Flyer untuk bahan Direct Selling besok. Lalu ada pesan yang masuk di ponsel. Setengah terkantuk-kantuk karena kurang waktu tidur semalam saya membaca isi pesan dari un-register number. “Innalillahi wa Innailaihi Roji’un!”, saya tersentak kaget. Sebuah informasi duka cita, Ustadz Muhammad Abdullah telah wafat sejam yang lalu. Setengah tak percaya, namun fikiranku telah melayang mengingat sosok sahabat yang sederhana dan bersahaja itu. Bulan lalu saya memang mendengar kabar sakit Beliau dan keluarganya.

Segera saya bergegas menuju rumah duka. Sambil menyetir bayangan Ustadz Muhammad terus melayang dalam fikiranku. Berusaha mengingat penggalan-penggalan memori kebersamaan dengan Beliau . Saya bahkan tidak lagi mengingat kapan terakhir kali bertemu dengannya. Pernah suatu ketika saya I’tikaf Ramadhan dengan Beliau , entah berapa tahun yang lalu. Ia bercerita tentang putrinya yang masih kelas satu SD. Putrinya yang masih sekecil itu menulis surat untuknya, yang isinya menggambbarkan kecintaan kepada Abi dan Umminya, juga cita-citanya, dan keinginannya untuk masuk Surga jika mati kelak. “Subhanallah, anak sekecil itu…”, kata Ustadz Muhammad dengan mata berkaca-kaca waktu itu…

Tidak sadar, air mata telah menganak sungai di wajahku. Mengingat kebersahajaan dan kesederhaan Beliau . Seorang kader senior yang kebersahajaannya tidak luntur oleh perubahan mihwar dakwah. Tiba-tiba terbersit rasa penyesalan dalam hatiku. Penyesalan yang sangat dalam. Sekitar sebulan yang lalu beredar pesan informasi tentang Beliau dan keluarganya yang sedang dirawat di RS. Wahidin. Tak terlalu jauh dari rumah. Tapi saya tak pernah mampir disana menjenguk keluarganya. “Astagfirullah!, Saudara macam apa saya ini???" Saya hanya sempat meminta nomor rekening untuk bisa membantu meringankan beban Beliau , tapi informasi nomor rekening itu tak pernah dikirimkan oleh pemberi informasi duka. Hingga Beliau wafat hari ini, saya tak pernah memberi apa-apa padanya…

Setibanya di rumah duka saya menyeka air mata yang sedari tadi mengalir seperti tak mau berhenti. Hanya mata yang masih terlihat sembab, tapi biarlah, toh namanya sedang berduka. Disana telah berkumpul beberapa ikhwah dan ustdaz senior. Setelah salaman dan bercengkrama sejenak, saya masuk ke ruang tengah tempat jenazah Beliau berada. Di dekat jenazah itu, saya tak kuasa menahan deras air mata yang terus mengalir, seiring mengalirnya do’a-do’a keselamatan dan keindahan tempat kembali untuknya. Hanya air mata, dan unataian do’a…

Lalu saya mendekat ke jenazah, membuka kain penutup jenazah dan melihat wajahnya untuk terakhir kali. Dan ketika kain yang menutupi wajah Beliau tersingkap, tak sadar tangis saya pecah. Badan saya terguncang hebat! “Subhanallah!!!” Beliau nampak tersenyum bahagia, dengan wajah yang putih bersih penuh damai. Beliau tersenyum, ya Allah… Saya tak peduli lagi dengan keheranan kerabat Beliau yang berkumpul mengelilingi jenazah Almarhum. Saya terus menangis. Tangisan luapan kecintaan saya kepada Beliau yang tak pernah ia terima semasa hidup.

“Uhibbuka Fillah, ya Ustadz… Aku mencintaimu karena Allah. Cinta seorang saudara yang lalai memenuhi hak-hak saudaranya. Cinta yang menunggu maafmu, meski ku tahu pintu maafmu selalu terbuka lebar untuk saudaramu ini. Semoga kau temukan apa yang selalu kita semua rindukan, surga! Semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan dan amal ibadahmu serta pengorbananmu yang begitu banyak bagi dakwah ini dengan balasan yang berlipat-lipat jumlahnya. Semoga kebaikan-kebaikanmu, dan pahala jariahmu, terus mengalir menyinari kuburan dan melapangkan jalanmu menghadap-Nya… Amin Ya Rabbal Alamiin… Selamat Jalan Ustadz Muhammad… Sahabat yang bersahaja…”
Read More ..

Tuesday, March 04, 2014

TIGA RAHASIA 3

Pemilu tinggal menghitung hari. Makin dekat, perasaan makin bercampur aduk antara cemas, optimis dan pasrah. Bagi caleg seperti saya, hari-hari ini mungkin adalah momentum penuh tekanan. Rasa lelah selama berbulan-bulan bekerja, ditambah tingginya gesekan antar caleg di lapangan dan semakin meinipisnya logistik menciptakan tekanan yang bisa menjatuhkan mental jauh sebelum perang sesungguhnya di hari pemungutan suara tiba. Salah melangkah, bisa-bisa jadi GILA…

Di tengah tekanan seperti ini, salah satu rahasia agar tetap bugar sampai di tujuan adalah FOKUS. Seperti kata Jendral perang Rasulullah, Khalid Bin Walid dalam suatu pertempuran dahsyat yang tidak seimbang, “Daripada sibuk menghitung-hitung jumlah musuh, lebih baik sibuk memenggal leher mereka!”. Sesederhana itu, FOKUS! Daripada sibuk mengkalkulasi kekuatan dan sumberdaya lawan, yang pastinya jauh lebih besar dari sumberdaya kita, lebih baik sibuk men-closing satu demi satu suara pemilih dengan sumberdaya yang ada… Sekali lagi, FOKUS!!!

Selain itu, tidak ada yang lebih indah dari urusan seorang muslim kecuali keimanannya. Seorang muslim yang beriman akan meyakini bahwa kursi-kursi dewan, kursi presiden, dan kursi apa pun yang diinginkan oleh seseorang sesungguhnya telah tertulis namanya di Lauhul Mahfudz. Ini rahasia kedua. Karena itu seorang mukmin berjuang dan berdo’a untuk meraih sesuatu hanyalah sebuah ikhtiar untuk mencocokkan antara yang tertulis di atas dengan kejadian di Bumi. Sehingga apa pun yang terjadi pada akhirnya adalah sebuah takdir yang telah ditetntukan oleh Yang Maha Bijaksana…

Dan terakhir, rahasia ketiga untuk tetap eksist dalam kontestansi Pemilu 2014 ini adalah menghadapinya dengan FUN! Gembira dan bahagia. Tanpa itu, kontestansi ini akan menjadi permainan yang terlalu serius dan melelahkan. Padahal kehidupan ini bukan hanya soal Pemilu, Kursi dan kekuasaan. Kehidupan ini jauh lebih besar dari itu semua. Dan yang paling indah dari kehidupan kita ini adalah interaksi sosial antar manusia tanpa sekat warna bendera, ras dan keyakinan, apalagi hanya karena bendera politik yang berbeda. Terlalu kecil urusan seperti itu untuk merusak kebahagiaan kita dalam menjalani kehidupan ini. Jadi, ikuti saja permainan ini dengan gembira, ceria dan bahagia…
Read More ..

Monday, February 17, 2014

PERANG KOTA

Saat ini terasa seperti suasana perang. Bukan perang militer, tapi perang politik. Jelang Pemilu 2014, partai politik dan caleg-caleg berlomba merebut hati rakyat indonesia dengan berbagai cara. Ya, berbagai cara, segala cara dihalalkan. Mulai dari pembunuhan karakter melalui media, kriminalisasi melalui lembaga negara, pencitraan melalui iklan, hingga sosialisasi dengan membanjiri kota dengan baliho, spanduk, reklame, banner dsb. “Yah, ini tahun politik!”, kata orang-orang pinter.

Di Kota Makassar, suasana jelang pemilu seperti perang kota. Ramai, dekat, dan berhadap-hadapan. Setidaknya ada 600 Caleg Kota yang gentayangan setiap hari di kampung-kampung dan kompleks perumahan warga. Mereka datang dengan bendera beraneka warna, dan tentu saja ribuan janji-janji untuk rakyat jika terpilih kelak. Waspadalah…

Di masyarakat juga bermunculan tim-tim sukses, yang tak kalah hebatnya janji-janjinya kepada para Caleg. Wajarlah, hukum ekonomi sudah demikian. Jika ada permintaan, pasti ada pemenuhan. Tim-tim sukses yang bertebaran di tengah masyarakat ini ibarat pasukan-pasukan tempur para caleg. Ada yang loyal, tapi tidak sedikit yang berwajah dua. Bahkan ada yang berwajah lima. Namanya tim sukses, pasti mereka sukses, meskipun sang caleg belum pasti sukses. Itulah dinamika politik. Orang makassar bilang, “kehidupanga…”

Pertarungan para caleg ini menarik untuk disimak, bahkan bagi sebagian masyarakat yang melek politik peperangan ini menjadi bahan ceritra yang mengasyikkan di pojok-pojok warung kopi. Diselingi dengan analisa-analisa khas warung kopi, kisah pertarungan para caleg menjadi sesuatu yang menarik dan mendebarkan. Ada caleg kaya, yang membanjiri timnya dengan uang dan sembako. Ada juga caleg, maaf bukan miskin, tapi ikhlas, yang dimana-mana mengajak orang untuk memilihnya karena ikhlas. Ada juga caleg titipan, yang jadi caleg karena anaknya pejabat anu, atau istrinya kepala anu, atau ponakannya jendral anu. Hehehe… memang sebuah ceritra yang membuat penasaran…

Trus, saya dimana? Heheheh.. sayalah salah satu dari 600 caleg yang sedang “berjuang” itu. Saya telah bertemu dengan bermacam-macam jenis caleg di lapangan. Dan sebagai caleg yang pas-pasan, saya mesti mengandalkan strategi berbeda dengan caleg yang lain, terutama caleg-caleg kaya dan caleg titipan. Kalo tidak, bisa-bisa mati konyol di medan perang, Jendral! ^___^

Tapi saya meyakini, strategi hebat apa pun yang dipakai pada peperangan ini, yang paling efektif adalah bertemu, bertemu dan bertemu dengan sebanyak mungkin orang. Ada peluru atau tak ada peluru, bertemulah dengan pemilih. Dan biarkan mereka yang memilih. Bertemu dengan orang saja belum tentu kita yang dipilih, apalagi kalau sama sekali tak pernah bertatap muka. Hehehe.. bijak sekali…

Trus, apakah saya memberikan janji? Ya, saya juga memberikan janji, sebab janji adalah ikatan komitmen antara Caleg dengan pemilihnya. Tapi, saya meberikan janji hanya yang bisa saya tepati. Ada juga caleg DPRD Kota tapi janjinya macam janji calon Walikota… alamak! Yang begini, sumpah! Banyak yang beredar di tengah masyarakat.

So, do’akan kami pemirsa… semoga Benteng Takeshi dapat direbut kembali… Ganbatte!!!
Read More ..

Thursday, February 13, 2014

HARI-HARI CINTA

Sudah hampir dua pekan tidak masuk kantor. Sampai-sampai kemarin teman wartawan sempat nelfon, katanya nama saya akan dimasukkan kelompok Anggota Dewan termalas bulan ini. Yah, seperti biasa... pasrah saja kalo soal itu... Hampir dua pekan ini saya mendapat ujian kesabaran dari Yang Di Atas. Awalnya si Misyal yang sakit demam tinggi, kemudian disusul Kakak Ziyadah dan adik Qaireen bersamaan dua hari kemudian. Saya sendirian merawat dan menangani anak-anak yang pada sakit. Ummi mereka juga sedang tak sehat benar, lagi hamil muda pula.


Belum sempat melihat anak-anak baikan, besoknya adik saya yang laki juga jatuh sakit, gejala tipes. Demam tinggi dan muntah-muntah. Dokter sarankan Opname minimal 3 hari. Duh, Gusti... ingin menangis rasanya. Tapi, tentu saja menangis tak membantu menyelesaikan apa-apa. Segera saya berinisiatif membawa Ummi dan anak-anak yang masih pada demam ke rumah Nenenknya di Pangkep. Nitip dulu sementara, mustahil saya bisa menjaga mereka sekaligus. Berharap mudah-mudahan selusin obat-obatan dari dokter dapat meyembuhkan mereka.

Setelah mengantar anak-anak, besoknya giliran saya yang sakit. Drop! hampir 3 malam kurang tidur. Demam tinggi, mual-mual dan sakit kepala. Tapi saya memilih tidak ke dokter. Pengalaman saya, kalau sakit begini pasti diopname beberapa hari. Kalau opname, siapa yang jaga? dan adik saya juga tidak ada yang menjaga. Saya lalu bertaruh, tidak ke dokter dan hanya akan mengkonsumsi obat-obatan tradisional di rumah.

Untung ada Deng Jafar, sodara, sahabat dan rekan seperjuangan. Beliau dan istrinya tak bosan membawakan obat-obatan tradisional. Hari pertama demam tinggi saya hanya minum air perahan dari buah Labu Air pemberian Deng Jafar. Hasilnya Tok Cer! Demam saya turun hari itu juga. Tapi kepala saya masih sakit. Hari kedua, mulai minum macam-macam herbal. Jahe merah, buah sawo, kasumba turate, hingga air sakti VO2 dari Ustadz Umar Qasim, Juragan Kambing dan Herbal. Hari ketiga, kondisi saya mulai membaik, tinggal memulihkan tenaga yang rasanya hilang selama sakit.

Lalu, ada telfon dari Ummi di Pangkep, katanya Qaireen demam tinggi lagi. Masya Allah.. Gusti, ampuni hamba dan keluarga hamba... Saya minta tolong adik-adik di PKS buat jemput anak-anak di Pangkep. Hari itu juga Qaireen dibawa ke klinik dokter. Besoknya Kakak Ziyadah yang sudah dua hari keadaanya membaik, juga demam lagi. Dokter sempat curiga Ziayadah terserang DB. Malam itu juga periksa darah, dan alhamdulillah negatif. Biar beban saya terbagi, Qaireen dan Ummi saya ttitip di Pangkep, sementara Ziyadah dan Misyal saya rawat di rumah. Dan, seperti inilah hari ini. Saya masih harus istirahat sambil merawat anak-anak hingga benar-benar sembuh...

Well, selain kewajiban kantor yang tidak dijalankan, saya juga harus melewatkan dua pekan agenda sosialisasi bersama tim di Dapil. Dan juga tak sempat menghadiri pelantikan Kak Amru Saher sebagai Wakil Bupati Luwu, tanggal 15 Februari besok. Mungkin, memang sudah waktunya saya harus beristirahat sejenak... untuk keluarga yang terlalu sering saya tinggalkan...Memberikan mereka hari-hari penuh cinta...
Read More ..

Saturday, February 08, 2014

MEMULAI HARI (SEBUAH TRADISI)

Sahabat,

Diantara sekian banyak petuah orang-orang sukses yang pernah saya baca, salah satu yang cukup jamak dikalangan mereka adalah memulai hari dengan hati, pikiran dan sikap positif. Ini bukan sekedar teori, tetapi merupakan implementasi praktis secara turun temurun dari mereka yang saat ini kita kenal sebagai orang-orang hebat. Para ahli psikologi dan hypnotheraphi bahkan melakukan percobaan-percobaan untuk menguji kebenaran pendapat ini. Saya punya salah satu film produksi BBC yang menunjukkan bagaimana perbedaan sikap sepasang saudara kembar yang mendapatkan sugesti berbeda di awal hari ternyata mempengaruhi sikap dan pilihan-pilihan mereka sepanjang hari tersebut…

Baru saya sadari, ternyata tradisi seperti ini (memulai hari dengan positif) bukanlah hal baru dalam kehidupan sebagian besar kita orang Indonesia, hem.. setidaknya bukan hal baru bagi saya. Saya masih ingat betul, dulu almarhumah Ibu saya setiap pagi selepas memunaikan shalat Subuh memulai harinya dengan membuka pintu rumah bagian depan selebar-lebarnya sambil merapal mantra-mantra tertentu. Ketika saya tanya kenapa? Jawab beliau, “Supaya rezki kita bisa masuk ke rumah ini sebanyak-banyaknya, Nak!”. Luar biasa, sebuah sikap dan keyakinan yang sangat positif. Dan tradisi ini terus beliau lakukan hingga kanker darah merenggut nyawa beliau saat saya masih kuliah…

Bukan hanya itu, dulu di kampung saya para tetua-tetua kampung juga sering memberikan petuah bijak kepada anak-anak muda, terutama yang ingin sekolah di kota atau hendak merantau. Salah satu yang populer adalah merekayasa suasana hati ketika mata baru saja terbuka selepas tidur. Kata mereka, jangan buru-buru langsung bangun. Tapi mulailah dengan “mengingat”. Mengingat Sumber Segala Kekuatan yang akan dipakai hari itu. Ubah posisi badan sebelum bangun dengan menghadap ke kanan. Tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan melalui hidung. Dan beberapa ritual yang lain. Tapi menurut saya, inti petuah ini adalah memualai hari dengan optimisme, rasa syukur dan kesadaran akan Kekuatan berlimpah dari pemilih dan perencana segala sesuatu, Allah SWT…

Sahabat,

Tentu saja mereka yang memiliki tradisi positif memulai hari seperti yang saya ceritakan diatas itu tak pernah membaca buku-buku Dale Carnagie, atau menyaksikan penampilan Anthonny Robbins, atau mengikuti sesi Andrie Wongso. Hehe.. bahkan mungkin mereka yang saya sebutkan namanya barusan ini pada saat itu juga sedang berjuang menuju tangga sukses. Tetapi kebijaksanaan (wisdom) lahir dalam tradisi setiap generasi yang tidak mesti kita buang semuanya. Mungkin tak perlu kita ikuti rapalan mantra-mantranya, atau berbagai posisi badan saat bangun pagi, tetapi bagaimana substansi pikiran dan sikap positif setiap memlaui hari menjadi tradisi kita juga, bila ingin sukses… hehehe…

Dan itu baru pengalaman Saya. Pengalaman Anda tentu lebih banyak lagi. Ceritakanlah dan berbagai kepada sesama… Success Is My Right! – Andrie Wongso
Read More ..

Thursday, January 30, 2014

MENJADI "AYAH"

Saat ini saya sedang menikmati peran menjadi Ayah yang sebenarnya. Bukan karena baru akan mendapatkan momomngan… Bukan! Anak sudah tiga, sebentar lagi (insya Allah) menjadi empat bocah. Tapi karena saya harus mengurus dua anak saya yang ditinggal Umminya ke kampung buat istirahat menjaga jabang bayi dalam kandungannya yang baru berumur kurang lebih dua bulan. Bersamanya ikut si bungsu Qaireen dalam penjagaan Kakek dan Neneknya. Sudah sebulan lebih…

Jadilah saya saat ini seorang Ayah yang sibuk. Setiap pagi mengurusin anak-anak berangkat ke sekolah. Padahal biasanya menambah jam tidur ba’da subuh ^__^. Kakak Ziyadah yang susah bangun pagi butuh kesabaran ekstra membujuknya hingga masuk kamar mandi. Bahkan di kamar mandi pun terkadang masish sempat-sempatnya tertidur. Menyiapkan air mandi, seragam sekolah, alat tulis dan perlengkapan belajar, hingga membuat sarapan.

Sukses membereskan si Kakak, beralih ke putra cakep ku satu-satunya, Misyal. Dede Misyal sih serba gampang. Bangun Gampang. Mandi apalagi, hobi! Yang ribet karena Misyal butuh waktu yang agak lama kalau mandi. Pertama berendam air hangat, lamaaaaaaa… Puas berendam, baru pakai sabun dan gosok gigi. Habis sarapan, masuk ke ritual wajib buat Misyal, sisir rambut! Kadang mau model Clark Kent alias Superman, kadang juga mau model rambut Loki, itu adiknya si Thor dari Asgard. Soalnya Misyal ngefans sama Loki… (wkwkwwkwk… aneh ya?)

Setelah beres, pertama antar Ziyadah ke sekolahnya, SDIT Ar-Rahmah. Tidak terlalu jauh dari rumah, sekitar lima kilo mungkin. Dan seperti biasa, Ziyadah langganan terlambat. Maklum, bangun paginya susah. Setelah itu anterin Misyal ke sekolahnya nun jauh di tengah kota, Sekolah Cendikia. Biasanya memakan waktu satu jam. Bukan karena jaraknya jadi lama, tapi karena harus melewati beberapa titik kemacetan rutin di kota ini.

Beginilah setiap pagi. Kesibukan yang dinikmati. Merasakan peran sebagai Ayah yang hadir dalam setiap milio kehidupan anak-anak di usia-usia mereka memang membutuhkan kehadiran seorang figur Ayah. Jujur, selama ini kesibukan pekerjaan telah memisahkan saya dan kehidupan anak-anak. Hampir setiap malam pulang larut saat anak-anak sudah pulas. Dan memluai aktivitas justru setelah anak-anak sudah meninggalkan rumah ke sekolah masing-masing.

Semuanya terasa nikmat. Mendengarkan celoteh ringan anak-anak tentang pengalaman belajar di sekolahnya. Mendengarkan letup-letup emosi mereka, tentang sahabat dan juga rasa marah pada si ini dan si itu yang menurut mereka jahat. Hehehe… selalu ada kelucuan dalam setiap cerita mereka. Dan juga banjir pertanyaan atas segala hal yang mereka tak fahami. Subhanallah… indah nia rezki-Mu ini yaa Allah… Fabi’ayyi ‘ala irabbikuma tukazzibaan…

Terimakasih yaa Allah… di tengah beratnya tantangan hari ini, Kau masih memberikan ruang-ruang kebahagiaan kepada saya dan keluarga…
Read More ..