Monday, October 19, 2009

BANGKIT!

Malu rasanya, pada diri, pada sahabat, pada para pencinta, juga pada sang guru, Muhammad Iqbal, ketika ia menyampaikan pesan:

Aku harapkan pemuda inilah yang akan sanggup
membangunkan zaman yang baru
memperbaru kekuatan iman
menjalankan pelita hidayat
menyebarkan ajaran khatamul-anbiya’
menancapkan di tengah medan pokok ajaran Ibrahim
Api ini akan hidup kembali dan membakar




Ketika sesekali kubuka blog INSPIRASI-ku dan kembali kutemukan halaman-halaman buram disana. Hanya untuk segores ide, pun tak lagi mampu ku toreh dalam paragraph-paragraf singkat, dan bait-bait yang biasa. Atas nama kesibukan dan tugas-tugas penting yang terkadang tak penting benar. Telah kutinggalkan tradisi itu, tradisi para pengukir sejarah, tradisi para ulama, tradisi para pemimpin besar, tradisi para pahlawan. Sekali lagi, atas nama kesibukan dan pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk, dalam samudra waktu yang sesungguhnya terlalu luas untuk diarungi seluruhnya…

Aku kecewa pada diriku. Meski sang guru, jua membujuk jiwa yang nelangsa…

jangan mengeluh jua , hai orang yang mengadu
Jangan putus asa , melihat lengang kebunmu
Cahaya pagi telah terhampar bersih
Dan kembang-kembang telah menyebar harum narwastu


Ya, setidaknya obsesi untuk bertumbuh tak pernah padam disini, di dada ini. Seperti pohon, engkau melihat ranting-rantingnya patah dan terkubur oleh tanah. Tetapi akarnya, terus menghunjam ke dalam bumi, bermandi lumpur dan menembus cadas di dalamnya. Hanya untuk memastikan, bahwa kelak, ketika obsesi itu telah berbuah, topan dan badai tidak akan cukup untuk mencerabutnya dari akar cita-cita yang mulia…

Khilafatul-Ard akan diserahkan kembali ke tanganmu
Bersedialah dari sekarang
Tegaklah untuk menetapkan engkau ada
Denganmulah Nur Tauhid akan disempurnakan kembali
Engkaulah minyak atar itu , meskipun masih tersimpan dalam
kuntum yang akan mekar

Seperti itulah sang guru, membujuk jiwa-jiwa kami. Membangkitkan semangat yang jatuh bangun tergerus kemewahan dan maksiat. Membesarkan kembali asa yang telah kerdil oleh ketajaman lidah para pencela, atas nama idealisme. Menyiram kembali motivasi yang hampir mati. Menariknya dari kubangan kesia-siaan dan tipuan kenyamanan. Seolah ia ada disini, dan menepuk-nepuk pundak ini, lalu berkata…

Tegaklah, dan pikullah amanat ini atas pundakmu
Hembuslah panas nafasmu di atas kebun ini
Agar harum-harum narwastu meliputi segala
Dan janganlah dipilih hidup ini bagai nyanyian ombak
hanya berbunyi ketika terhempas di pantai
Tetapi jadilah kamu air-bah , mengubah dunia dengan amalmu

Kipaskan sayap mu di seluruh ufuk
Sinarilah zaman dengan nur imanmu
Kirimkan cahaya dengan kuat yakinmu
Patrikan segala dengan nama Muhammad


Maka aku kan bangkit, Guru. Mencoba menapak sejengkal demi sejengkal jejak ajaranmu. Meraih kembali kehormatan itu, keterhormatan sebagai manusia atas makhluk-Nya….


Sudahkah engkau hapuskan sketsa harapan dari kanvas jiwamu? Dari debu-debu kegelapanmu sendiri cahaya akan bersinar.

Pengetahuan manusia akan mendesak menguasai angkasa, cintanya akan mengaku Yang Tak Terhingga.

Dengan mata yang lebih terjaga ketimbang milik jibril, ia akan menemukan jalan meski tanpa bimbingan.

Terbentuk dari lempung, manusia akan membumbung seperti malaikat hingga langit menjadi kedai minuman tua di pinggir jalan-jalan yang ditempuhnya.

Kubah-kubah langit kan ditembusnya bagai jarum menusuk sutra.
Dan ia akan mencuci kehidupan dari segala nodanya.

Tatapan matanya akan membuat suram kabut bumi cerah berseri.
Meski hanya sedikit berdoa dan banyak menumpahkan darah, namun dia tetap melaju selamanya.

Dari semesta ia akan belajar memahami sifat-sifat sang wujud, “Siapa yang tenggelam dalam pesona kecantikan Tuhan, maka ia akan menjadi raja segenap makhluk ciptaan.”
Read More ..

Tuesday, August 04, 2009

KEBUN MIMPI

Sahabat,

Aku telah memimpikannya. Engkau telah memimpikannya. Dan mereka juga telah memimpikannya. Ya, mimpi tentang kebun-kebun indah di lahan kehidupan kita masing-masing. Aroma dan simfoni keindahanya pun begitu jelas dan terasa. Tapi, sepertinya ada yang salah. Ya, rasa-rasanya ada yang salah. Sebab tidak semua kebun-kebun itu menumbuhkan tanaman yang seharusnya. Sebagian dari kebun-kebun kehidupan yang kita impikan itu jutru dipenuhi rumput dan semak belukar. Bahkan tak jarang tanaman yang kita impi-impikan justru layu dan akhirnya mati…

Sahabat,

Seperti itulah fakta kehidupan. Telah begitu banyak mimpi-mimpi luar biasa yang telah kita ciptakan. Dan sebnyak itu pulalah mimpi-mimpi yang berhasil kita kuburkan. Telah begitu banyak habit dan bibit karakter yang kita tanam, namun justru habit-habit liar dan karakter-karakter lain yang tumbuh subur dalam kepribadian kita. Ada apa? Apa yang salah dengan semua mimpi-mimpi obsesif dan luar biasa itu? Apa yang keliru dari bibit habit dan karakter yang telah kita mulai tanam itu?


Sahabat,

Seorang tukang kebun bijaksana pernah menasehati. Bahwa sebagian besar tukang kebun yang kurang berhasil itu bukan karena kesalahan mimpinya atau pun kekeliruan dalam memilih bibit-bibitnya. Tetapi karena mereka gagal dalam memeliharanya. Seperti itulah sebagian besar kita dengan mimpi-mimpi luar biasa itu. Kita berpikir, jika bibit mimpi telah ditancapkan maka waktulah yang akan bekerja membesarkannya. Anda salah! Justru setelah kita menanam, pekerjaan yang paling lama dan membutuhkan kesungguhan kita adalah pemeliharaan…

Jika waktu itu ibarat air, dan setiap menit dari waktu kita itu adalah setetes air. Maka berapa teteskah dari air itu yang kita siramkan kepada bibit-bibit mimpi yang kita tanam itu setiap harinya? Disnilah jawabannya, sobat! Sebagian orang yang gagal mewujudkan mimpi-mimpinya itu hanya memberikan setetes dua tetes air dalam sehari. Sementara sebagian besar waktunya yang lain digunakan untuk tidur, bersenda gurau, bermain, ber-face book ria, dan berbuat sia-sia.

Tetapi orang-orang sukses, mereka sungguh berbeda. Sebagian besar tetes-tetes air yang mereka miliki digunakan untuk menyiram seluruh bibit mimpi mereka. Mereka bekerja lebih tekun dari orang biasa. Mereka bekerja lebih keras dari orang biasa. Dan mereka bekerja lebih lama dari orang biasa. Bukan sembarang bekerja, tetapi pekerjaan untuk merawat dan menumbuhkan mimpi mereka.

Sahabat,

Sekarang mari bertanya, jenis tukang kebun yang manakah kita? Ya, jawaban kita itulah yang juga menjawab mengapa mimpi-mimpi sebagian besar kita terwujud atau tertunda. Kita lupa untuk focus merawatnya, kawan! Bahkan seringkali kita lebih suka menggerutu pada rumput dan ilalang yang tumbuh disekitar tanaman mimpi kita. Kita lebih sering marah pada hambatan dan tantangan yang hinggap pada cita-cita kita. Bahkan kita lebih sering kecewa pada kegagalan demi kegagalan yang menghampiri obsesi-obsesi kita. Padahal, seandainya kita mau untuk fokus pada tanaman mimpi itu saja. Menyiraminya dengan tetes-tetas air yang cukup hanya pada tanaman mimpi itu saja, maka dengan sendirinya rumput dan ilalang yang ada disekitanya akan kering dan mati.

Sahabat,

Mungkin kita harus berubah! Mungkin saatnya kita mesti berbenah! Menata ulang setiap detik waktu yang hadir dalam kehidupan kita, agar ia dapat menjadi tetes-tetes air yang dapat menumbuhkan semua mimpi dan obsesi-obsesi kita.

Sahabat,

Kita tidak tahu seberapa luas lagi lahan kehidupan untuk kita. Maka mulailah bekerja sobat! Wakuli’malu fasayarallahu ‘amalakum, wa rasuluhu wal mu’minuun…

Read More ..

LAHAN KEHIDUPAN

Sahabat,

Terkadang saya membayangkan kehidupan ini seperti sebuah lahan yang sangat luas. Dan setiap orang memiliki lahannya sendiri. Ada orang lahannya menjadi hutan lebat yang ditumbuhi berbagai pohon liar dan didalamnya hidup berbagai hewan buas yang tak dapat ia jinakkan. Namun ada pula orang yang lahannya menjadi sebuah kebun yang indah. Di dalam kebun itu tumbuh dengan teratur berbagai jenis tanaman yang dapat memberi manfaat. Setiap jenis tanaman ditata sedemikan rupa hingga kebun itu menjadi indah dan memiliki estetika bernilai tinggi.

Sahabat,

Seperti itulah saya membayangkan perbedaan kehidupan setiap manusia. Mereka yang menjalani kehidupan ini tanpa visi dan perencanaan ibarat orang yang tidak merencanakan lahannya. Berbagai tanaman tumbuh disana. Tak ada keteraturan. Hidupnya mengalir mengikuti arus waktu. Hingga suatu ketika, saat usianya telah senja barulah mereka menyadari bahwa lahan kehidupan mereka telah menjadi hutan belantara. Lalu ia hanya bisa menyesali masa mudanya yang tak pernah memiliki arah. Itulah kehidupan yang tidak direncanakan, mereka tak pernah menuai apa-apa…


Lalu sebagian kecil orang yang memiliki mimpi dan perencanaan, mereka itulah para pemilik kebun. Seluruh waktu dalam hidupnya digunakan untuk menanam, memelihara dan menuai. Ketika lahan kehidupan diberikan kepadanya, maka tergambarlah dalam mimpi dan pikirannya sebuah master plan kebun yang luar biasa. Mereka membayangkan jenis tanaman apa saja yang akan tumbuh disana. Mereka juga membayangkan manfaat apa saja yang akan dituai nantinya. Seperti itulah, waktu terus berlalu. Dan mereka terus menanam, memelihara hingga pada akhirnya menuai manfaat yang luar biasa. Dan di usia senja, mereka tersenyum bahagia…

Sahabat,

Seperti apakah wajah lahan kehidupan kita saat ini? Jika sekiranya kita mendapati lahan kehidupan kita itu sebentar lagi menjadi hutan belantara, maka segeralah berbenah. Semuanya masih bisa kita ubah. Kita hanya perlu memulainya dengan sebuah mimpi. Mimpi tentang kebun seperti apa yang ingin kita tumbuhkan di lahan kita itu. Lalu lanjutkanlah dengan perencanaan. Perencanaan tentang jenis tumbuhan apa yang akan kita tanam di lahan kita itu. Kemudian jangan menunggu esok! Setelah kita membabat habis seluruh rumput dan pepohonan liar yang tumbuh di dalamnya, maka mulailah MENANAM. Ya, menanam sebanyak mungkin investasi positif dalam hidup kita. Setelah itu kita tinggal merawatnya, menyiraminya, menyianginya, memberi pupuk, dan tunggulah masanya untuk kita menuai manfaat yang luar biasa…

Sahabat,

Itulah seni kehidupan. Semua tergantung pada cara kita mengelolanya. Maka mulailah dengan keberanian untuk bermimpi, sobat! Keberanian untuk melihat kehidupan kita jauh di masa depan. Dan buatlah mimpi itu menjadi jelas sejela-jelasnya. Bahkan hingga kau mampu merasakan aroma dan simfoni keindahannya. Rasakan… dan simpanlah dalam hati dan pikiranmu, dalam setiap tarikan nafasmu, dalam setiap detak jantungmu, dalam aliran darah di nadimu, dan dalam derap langkah kakimu untuk meraihnya. Fa idzaa ‘azzamta, fatawakkal ‘alallah…

Read More ..

Wednesday, July 29, 2009

My July, Bad Spirit...

Gak terasa sudah di penghujung bulan Juli. Sedih juga melihat wajah blog ku ini. Tidak ada postingan sama sekali untuk bulan Juli. Fiuh… masa-masa yang gak produktif! Kesibukan bisa saja menjadi alasan: pilpreslah, urusan menjelang kelahiran anaklah, many things and many reasons… Tapi ‘excuse’ itu bukan aku banget. Intinya sih lagi gak ada ide. Ato mungkin pernah sempat ada, tapi semangat yang lagi padam… huhu…

Never mind! Setidaknya aku masih menyadari jika sebulan ini aku tidak produktif. So, segera harus bangkit dan berbenah. Paling tidak, selain untuk diriku, beberapa pengunjung setia blog ini juga harus mendapatkan hak-haknya. Setidaknya aku tidak dituduh telah meninggalkan tradisi menulisku. Yah…penulis kelas cemen untuk ukuran kampoang… hehhehe….


Sahabat, begitulah hidup…

Meskipun kita telah memiliki arah berupa mimpi, cita-cita dan obsesi, namun kita tidak akan pernah sampai kesana tanpa energi. Energi itulah yang menggerakkan kita. Energi itulah yang mendorong kita. Energi itu, adalah MOTIVASI…

Tetapi, motivasi itu seperti iman, yazidu wa yankuz, naik dan turun. Kadang kita mendapati diri ini ‘On Fire’, hingga raga kita tak lagi mampu mengikuti kehendak jiwa. Namun tak jarang sebaliknya, raga ini tak berdaya oleh jiwa kita yang sedang ringkih. Keduanya silih berganti menguasai diri.
Sahabat,

Tak ada yang salah pada kenyataan seperti itu. Sungguh manusiawi. Bahkan sangat manusiawi. Tapi manusia yang smart adalah mereka yang mampu mengelalola fakta manusiawi ini dengan baik. Mereka tahu kapan harus bangkit dari keterpurukan motivasi, dan mereka mengerti bagaimana melakukannya. Orang-orang hebat disekitar kita bukanlah manusia yang tak pernah down motivasinya. Tetapi sebagian besar mereka memahami rahasia untuk bangkit dari keterpurukan setelah kejatuhannya…

So… bangkitlah dan terus bergerak!

Read More ..

Tuesday, June 16, 2009

PARA PEMBERANI

Entah apa yang ada dalam benak pasukan muslimin saat itu, ketika sang Jenderal, Thariq bin Ziyad, memerintahkan mereka untuk membakar seluruh kapal yang membawa 7.000 pasukan muslim menginjakkan kakinya di daratan Eropa, Spanyol. Lalu di atas bukit Gibraltar, sambil menghunus pedang sang Jenderal yang baru berusia 25 tahun itu menjawab kebingungan pasukannya: “Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan: menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa! Wahai seluruh pasukan, kalau sudah begini ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian ada laut dan di depan kalian ada musuh. Demi Allah swt., satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan!”.


Terjawab sudah! Terjawab sudah keheranan pasukan pemberani itu! Jiwa mereka menyala, sadar bahwa mereka sedang dipimpin oleh seorang anak muda berhati singa. Seperti kata pepatah arab: “Sepasukan domba yang dipimpin oleh seekor singa akan mengalahkan pasukan singa yang dipimpin seekor domba”. Maka tak sedikitpun rasa takut menyentuh jiwa mereka, ketika 7.000 pasukan kecil muslim harus menghadapi 100.000 tentara Raja Roderick yang memerintah Spanyol. Sebuah perbandingan pasukan yang tidak berimbang. Hanya saja, 100.000 tentara Spanyol itu tidak sadar jika pasukan kecil yang mereka hadapi ini adalah para pemberani yang dipimpin oleh seorang lelaki berhati singa. Dan Sungai Barbate pun memerah oleh tumpahan darah Raja Roderick dan sebagian besar pasukannya di tangan para pemberani itu…

Sahabat, sesungguhnya sejarah setiap bangsa dimuka bumi ini senantiasa diukir dengan keringat dan darah para pemberani. Mereka hadir dalam kebangkitannya. Mereka hadir dalam kejayaannya. Dan mereka juga hadir dalam kejatuhan dan keruntuhannya. Tidak penting benar pada masa apa mereka hadir. Bagi mereka, keberanian itu adalah keterhormatan yang ditakdirkan hadir dalam persitiwa-peristiwanya sendiri…

Seperti itulah, bangsa Inggris mengenang Ratu Elizabeth I sebagai seorang pemberani. Usianya yang masih muda (25 tahun) tidak menghalangi keberaniannya melawan sekaligus menghancurkan armada laut terkuat di dunia, The Invincible Armada Imperium Spanyol. Bahkan masa kepemimpinannya dianggap sebagai awal lahirnya Imperium Inggris Raya.

Seperti itu pulalah, bangsa Jepang mengenang Saigo Takamori, The Last Samurai, sebagai seorang ksatria pemberani. Ksatria samurai yang mengakhiri masa kekuasaan para Shogun dan mengawali lahirnya Restorasi Meiji. Sebuah proses reformasi yang membawa Jepang menjadi Negara teknologi terkuat di dunia.

Begitu pun bangsa Amerika mengenang George Washington, bangsa China mengenang Jengis Khan, bangsa India mengenang Gandhi, dan bangsa-bangsa lain mengenang para pemberaninya sendiri-sendiri.

Dan bangsa kita, bangsa yang besar ini, juga diukir oleh darah para pemberani. Bangsa ini bangkit dari kubangan nyawa para pemberani. Bangsa ini tegak dari tetesan keringat dan air mata para pemberani. Keteguhan hati Diponegoro, ketajaman mata Hasanuddin, kebeningan jiwa Cokroaminoto, kecerdasan Soedirman, semangat baja Soekarno, dan jiwa menyala para aktivis mahasiswa. Dan masih terlalu banyak manusia-manusia pemberani yang menghiasi lembar-lembar sejarah bangsa kita. Sebagiannya terekam dalam tinta, tetapi jauh lebih banyak lagi yang kisahnya hilang bersama tiupan angin senja. Seperti dedaunan yang jatuh memberi kesuburan pada tanah, memberi kita hidup, dan kita tak pernah tahu berapa jumlahnya serta dari pohon manakah asal mereka…

Sahabat, keberanian itu adalah energi jiwa. Ia dapat dimiliki oleh siapa saja yang memutuskan untuk memilikinya. Hanya saja, keberanian itu adalah energi jiwa yang tak punya arah. Dia bisa meledak ke arah mana saja ia dikehendaki oleh pemiliknya. Itulah sebabnya, keberanian Adolf Hitler digunakan untuk membantai 30 juta manusia. Keberanian Jengis Khan dipakai untuk mengancurkan peradaban-peradaban lain di seluruh dunia. Namun keberanian itu pulalah yang menggerakkan Nelson Mandela untuk mendapatkan hak-hak azasi bangsa dan rasnya, bahkan lebih dari itu menjadi inspirator perjuangan HAM jutaan ummat manusia…

Sahabat, negeri kita ini sedang rindu pada kehadiran kembali para pemberani di atas tanahnya. Bangsa kita ini sedang mencari-cari para pemberani untuk menuntunnya keluar dari keterpurukan menuju kebangkitan peradaban. Negara yang kita cintai ini sedang menanti sekelompok manusia-maniusia pemberani yang akan membawa bendera merah putih untuk memimpin dunia. Para pemberani itu, mungkin saja adalah kita wahai sahabat-sahabatku. Karena itu, persiapkanlah dirimu…

Read More ..

Saturday, June 13, 2009

BERJIWA BESAR

Lelaki itu terus berlari bersama sahabatnya untuk mengindari lemparan batu dan amuk massa. Meski demikian, tetap saja ada puluhan bahkan mungkin ratusan batu sebesar kepalan tangan menerjang mereka, diiring cacian dan hinaan yang merendahkan. Tubuh mereka terluka. Kaki-kaki mereka penuh darah. Bukan hanya Zaid, sang sahabat yang ingin menangis menyaksikan perlakuan Bani Thaif itu kepada Rasulullah, tetapi juga alam semesta. Begitu memilukannya peristiwa itu, hingga malaikat Jibril As datang menghampiri sang Nabi bersama malaikat penjaga gunung. Ekspresi amarah semesta terwakili oleh ucapan sang malaikat: "Perintahkanlah aku! Seandainya engkau menghendaki kedua bukit ini dihimpitkan kepada mereka, niscaya akan aku lakukan dengan segera!".


Tapi Rasulullah menjawab berbeda. Yah, berbeda dari jawaban yang biasanya diberikan oleh manusia pada umumnya. Rasulullah menjawab seluruh hinaan, perlakuan, dan siksaan Bani Thaif itu dengan do’a: "Allahummahdii qawmii fainnahum laa ya'lamuun" (Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku ini, karena mereka masih juga belum faham tentang arti Islam). Bahkan Rasulullah juga mendoakan agar keturunan mereka nanti akan menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukanNya dengan apa pun. Dan benarlah, bertahun-tahun setelahnya para prajurit Islam dari Thaif terkenal dengan keberaniannya di medan-medan jihad menegakkan agama Allah…

Sahabat, seandainya kita adalah manusia yang didzalimi itu. Seandainya kita adalah lelaki yang kehormatannya diinjak-injak oleh kaum itu. Lalu tiba-tiba hadir sebuah kekuatan dan kekuasaan besar yang siap untuk menjalankan apa pun perintah kita sebagai balasannya. Maka hukuman apa yang akan kita berikan kepada mereka?

Sahabat, Sang Rasul mulia Muhammad Saw tengah mengajarkan kita tentang sebuah pelajaran: BERJIWA BESAR! Pelajaran yang tak pernah dapat terangkum dalam berlembar-lembar teori, tetapi pelajaran hidup yang selalu hadir bersama manusia-manusia besar dalam sejarah manusia. Ia tidak akan benar-benar dapat dipahami sampai suatu waktu kehidupan menuntun kita untuk mengalami dan mengambil pilihan-pilihan sulit dalam kehadirannya: menjadi manusia biasa atau manusia dengan kebesaran jiwa…

Kebesaran jiwa inilah yang dimiliki oleh pemimpin besar legendaris kaum muslimin, Umar bin Khattab Ra, saat beliau dengan pundaknya memanggul sendiri sekarung beras pada malam hari kepada rakyatnya yang kelaparan. Atau keridhoan beliau ketika di depan publik harus dikritik oleh seorang perempuan dengan kritikan yang memerahkan telinga. Padahal, beliau adalah seorang pemimpin yang ditangannya Islam berubah secara fenomenal, dari agama yang kecil di kota Mekkah menjadi salah satu kekuatan dunia yang akan segera menyaingi Imperium Romawi dan Persia. Pemimpin besar yang jauh lebih brilliant dari pada Julius Caesar, Charlemagne, bahkan Alexander the Great…

Kebesaran jiwa ini pulalah yang dimiliki oleh seorang jenderal perang sekaliber Salahuddin Al-Ayyubi ketika membebaskan Palestina (Jerusalem) tanpa harus membalas perlakuan yang sama pasukan salib saat menaklukkan Palestina. Seluruh kaum muslimin dibantai, rumah-rumah dan masjid dibakar, perempuan diperkosa dan anak-anak dibunuh didepan orang tua mereka. Sang Jenderal memasuki kota suci dengan penuh kerendahan hati. Rumah-rumah ibadah dibiarkan tegak, para pemeluknya dilindungi, dan para knight of templar dipersilahkan memilih untuk tinggal atau pergi meninggalkan kota suci. Atau ketika sang Jenderal mengirimkan seorang dokter untuk menyembuhkan sakit yang diderita oleh musuhnya dalam perang, Raja Richard ‘The Lion Heart’ dari Inggris. Kebesaran jiwa yang menggetarkan kawan mau pun lawan, membuat sang Jenderal menjadi legenda bagi musuh-musuhnya…

Sahabat, kebesaran jiwa itu adalah pilihan. Ketika godaan amarah untuk membalas, menyiksa dan menjadi superior begitu dekat di depan mata, lalu kita lebih memilih untuk memaafkan, bersabar dan berlapang dada atas segalanya. Kebesaran jiwa itu adalah keteduhan saat segalanya menjadi panas amarah. Kebesaran jiwa itu adalah ketenangan saat semuanya menjadi rumit. Kebesaran jiwa itu adalah saat kekuatan menjadi kasih sayang. Kebesaran jiwa itu adalah saat kekerasan menjadi kelembutan. Tetapi kebesaran jiwa itu bukanlah kelemahan, kekalahan apalagi kepengecutan. Kebesaran jiwa itu adalah perpaduan antara keberanian, kekuatan, kasih sayang dan pemaafan…

Sahabat, mungkin suatu saat kita dihadapkan pada situasi yang sama. Kita mampu untuk marah. Kita bisa untuk menhina. Kita sanggup untuk membalas. Atas nama sakit hati yang tak terperih. Atas nama dendam yang teramat dalam. Atas nama amarah yang membara. Maka saat itulah kebesaran jiwa menemukan ujiannya. Hidup adalah pilihan-pilihan, Kawan. Dan manusia-manusia besar dalam sejarah adalah orang-orang yang ketika hidupnya menemukan pilihan yang sama, mereka memilih untuk berbesar jiwa. Mereka berani, mereka punya kekuatan, mereka juga marah, benci dan dendam, tetapi mereka lebih memilih jalan kasih sayang dan memaafkan. Bagaimana dengan kita?

Read More ..

Thursday, June 11, 2009

NALURI PEMBELAJAR

Namanya Ziyadah, putri kecilku. Usianya baru 3 tahun lebih. Usia anak yang bagi kebanyakan orang tua paling merepotkan. Betapa tidak, di usia seperti inilah mulai tumbuh jiwa ekplorasi anak-anak untuk mengetahui segala hal. Di alam pikiran mereka selalu hadir banyak tanda tanya tentang lingkungannya. Begitupun Ziyadah, putriku. Karena hampir setiap akhir pekan aku mengajaknya melakukan perjalanan jauh menemui ibunya yang berjarak 200 km dari kota kami dengan berkendaraan mobil, jiwa observasinya pun tumbuh. Awalnya dia ingin tahu bagaimana rasanya menyetir mobil. Ia mulai rewel dan ngotot untuk memegang setir mobil. Akhirnya di track-track lurus aku memberinya kesempatan memegang kendali setir sambil duduk dipangkuanku. Bukan main senangnya Ziyadah…


Tapi dalam perjalanan-perjalanan selanjutnya Ziyadah mulai mencari hal baru. Kali ini dia ngotot ingin mengendalikan perseneling. Setelah sedikit mengajarinya cara menggerakkan perseneling, akhirnya ia pun bisa. Aku tinggal memberi perintah dan Ziyadah menggerakkan persenelingnya. Alangkah senangnya hati putriku. Selanjutnya dia terus belajar hal baru: aturan lampu wesser, menyalakan lampu malam, hingga membersihkan kaca dari air hujan. Tinggal bagaimana menggunakan gas, rem dan kopling saja yang belum dia pelajari. Itu pun karena kakinya memang belum cukup panjang untuk menggunakannya…

Sahabat, sesungguhnya belajar itu adalah dorongan naluriah manusia. Belajar itu adalah fitrah dasar sejak lahir sampai mati. Dengan belajarlah manusia membangun peradabanya. Dengan belajar pulalah manusia menciptakan sejarahnya. Bahkan, dengan belajarlah manusia mencapai kemuliaannya sebagai human being. Status yang membuat kita berbeda dengan binatang dan mahluk lainnya. Tetapi bagaimana menjelaskan kenyataan bahwa sangat banyak manusia yang malas dan enggan untuk belajar?

Sesungguhnya dorongan belajar manusia lahir dari keingintahuan-keingintahuan yang muncul dalam pikirannya. Semakin besar rasa ingin tahu seseorang maka semakin besar pulalah dorongan belajar dalam dirinya. Itulah sebabnya, di usia-usia belia seperti Ziyadah, anak-anak cenderung sangat eksploratif dan ingin tahu banyak hal. Segala cara dilakukan, mulai dari meraba, menggigit, mengulum, menelan, dan mencoba segala sesuatu yang menarik rasa keingintahuannya. Karena berbagai keingintahuan mereka itulah seringkali anak-anak di cap bandel, nakal, atau hyperaktif oleh orang tuanya. Padahal, mereka sedang melakoni proses sebagai human being, manusia yang mulia…

Banyak manusia yang malas untuk belajar, terutama orang dewasa. Ini seiring dengan semakin berkurangnya rasa keingintahuan orang dewasa terhadap berbagai hal disekitarnya. Kadang mereka tidak benar-benar sudah tahu, tetapi lebih karena hambatan-hambatan psikologis manusia, seperti gengsi, takut, malu atau karena kesombongan. Itulah sebabnya Imam Al-Ghazali mengatakan: barang siapa yang merasa dia sudah tahu, maka dialah orang yang paling tidak tahu. Tetapi barang siapa yang selalu merasa belum cukup tahu, maka mereka itulah orang-orang yang pandai.

Sahabat, Allah telah memberikan kita potensi belajar yang luar biasa. Selain dorongan naluri belajar, Allah juga menciptakan OTAK untuk kita. Benda biologis yang diletakkan pada bagian teratas tubuh dan dilindungi oleh batok kepala yang keras. Riset para ahli menemukan bahwa potensi informasi yang dapat ditampung oleh OTAK kita hampir-hampir tanpa batas. Jika dituliskan dalam angka, maka jumlahnya sebanyak angka 1 standar dan dibelakangnya ditambah deretan angka 0 sepanjang 10,5 km, LUAR BIASA!!! Dari riset para ahli ini pula ditemukan fakta bahwa otak yang jarang dimanfaatkan cenderung mengalami penurunan kemampuan dan daya tangkap.

Nah sahabat, tak ada alasan bagi kita untuk berhenti belajar. Setidaknya ada 3 alasan sederhana mengapa setiap kita harus tetap belajar: Pertama, karena Allah telah memberikan kita potensi belajar (otak) yang luar biasa, sungguh sayang jika kita tidak memanfaatkannya. Padahal boleh jadi kita akan dimintai pertanggungjawaban untuk apa otak itu kita gunakan. Kedua, karena masih terlalu banyak hal yang tidak kita ketahui ketimbang yang sudah kita ketahui. Kecuali jika kita termasuk orang yang sombong, maka wajarlah jika kita merasa telah mengetahui tentang banyak hal. Dan alasan ketiga, karena hanya dengan memiliki kita baru bisa memberi. Hanya dengan ilmulah kita dapat mengajarkan ilmu. Dan salah satu amalan yang tidak putus pahalanya meskipun kita telah mati adalah ilmu bermanfaat yang diajarkan kepada manusia. Cukup dengan alasan ini saja mestinya setiap kita saling berlomba-lomba untuk terus belajar, apalagi jika kita memiliki lebih banyak alasan lagi. Maka kita akan menemukan diri kita menjadi manusia sesungguhnya (human being)…

Read More ..

Wednesday, June 10, 2009

MASA-MASA SULIT

Manusia agung itu berduka. Air matanya menetes. Meski tak ditampakkan kepada orang-orang yang mencintainya. Belum hilang rasanya perih hati beliau kala mendengarkan tangis kelaparan bayi-bayi kaum muslimin akibat embargo Quraisy selama 3 tahun. Belum kering kiranya rasa pahit dedaunan yang beliau harus makan bersama kaum muslimin akibat boikot ekonomi musuh-musuh Allah itu. Tiba-tiba saja Allah memanggil 2 manusia yang sangat dicintainya. Pertama pamannya, Abu Thalib. Lelaki yang sejak kecil memeliharanya, bahkan melindunginya hingga beliau diangkat menjadi Rasul Allah. Lalu tak lama kemudian istrinya, Khadijah binti Khuwailid. Perempuan mulia yang selalu setia mendampinginya dalam menyebarkan Risalah Allah. Sungguh kesedihan yang teramat dalam bagi Sang Nabi. Tahun itu adalah tahun kesedihan (‘amul huzn). Sebuah penggalan masa-masa sulit bagi manusia agung yang kelak melahirkan peradaban baru di muka bumi, Muhammad Saw.


Begitu pula kesedihan yang menimpa seorang patriot Amerika, FD Roosevelt. Di tengah kesibukannya mempersiapkan diri menghadapi pemilihan Presiden Amerika, ujian terberat untuk keputusan-keputusan berat datang menghampirinya. Senator muda itu terserang Polio, penyakit lumpuh yang pada masanya dianggap nista. Telah datang masa-masa sulit untuk pahlawan Amerika itu. Ia harus berkompetisi di atas kursi roda untuk menjadi pemimpin yang akan memenangkan Amerika dalam perang dunia dan menyelamatkan rakyatnya dari depresi ekonomi terbesar dalam sejarah bangsanya.

Untuk sejenak sang senator gundah, putus asa, dan tenggelam dalam lara. Bagaimana mungkin ia mampu memimpin sebuah bangsa yang menganggap hina penderita Polio seperti dirinya? Lalu sang senator membuat keputusan besar dalam hidupnya. Keputusan yang kelak membawa bangsanya memenangkan Perang Dunia dan menyelamatkan rakyat Amerika dari bencana depresi ekonomi untuk selanjutnya menjadi negara adidaya…

Masa-masa sulit itu adalah sebuah siklus kehidupan. Ia senantiasa hadir menyapa orang-orang yang memilki mimpi-mimpi besar. Masa-masa sulit itu hadir bukan untuk menghambat jalan tegaknya sang mimpi, tetapi untuk membentuk jiwa-jiwa obsesif mereka yang mengusung panji-panjinya, menjadi kokoh dan menyala. Memang ada kesedihan di dalamanya. Memang ada duka lara di setiap hadirnya. Tetapi bagi jiwa-jiwa raksasa, kesedihan dan duka lara itu tak sedikitpun mengubah mimpi mereka. Mereka menangis, tapi jiwa mereka selalu optimis. Mereka sedih, dan pada saat yang sama pikiran mereka terus bekerja untuk menyusun kembali bangunan mimpinya tegak dalam kehidupan…

Masa-masa sulit itu tak pernah pasti kapan datangnya. Juga tak pernah bertoleransi untuk berapa lama waktunya. Ia dapat menimpa siapa saja: saya, mereka dan juga anda. Terkadang masa sulit itu terjadi dalam skala yang luas seperti masyarakat atau bangsa kita. Namun ia lebih sering hadir hanya untuk kita dan orang-orang yang kita cintai. Bagi mereka yang jiwanya kerdil, masa-masa sulit itu terasa sangat lama dan menyiksa. Seringkali ia melahirkan kesedihan yang teramat dalam dan berujung pada keputus-asaan. Ia hadir bukan hanya melemahkan, tetapi sekaligus bencana yang menghancurkan. Karena di mata mereka, masa-masa sulit itu adalah hukuman dan ketidak-adilan Tuhan yang telah memporak-porandakan hidup dan mimpi mereka…

Sahabat, mungkin masa-masa sulit itu pernah hinggap dalam hidup kita. Atau mungkin saja saat ini adalah masa-masa sulit itu bagi kita. Masa-masa yang penuh himpitan hidup, atau bahkan potongan waktu yang bertabur peristiwa kehilangan orang-orang yang kita cintai dan harapkan. Ada airmata yang mengalir di setiap fragmenya. Ada perih yang membuncah ketika jiwa terpaksa menjalaninya. Ada sesal yang mendera saat teringat pada berbagai kealfaan di masa-masa sebelumnya. Semua itu hal yang wajar, karena kita memang manusia…

Tapi ketahuilah sahabatku, bahkan Sang Nabi kekasih Allah pun mendapatkan giliran masa-masa sulit itu. Dan beliau telah memberikan keteladanan bagaimana melaluinya. Sudah sunnatullah, bahwa kadar kesulitan yang dihadapi oleh setiap manusia itu berbeda. Kehormatan untuk memikul kesulitan-kesulitan terbesar diberikan Allah kepada para Nabi-Nya. Lalu kepada para ulama dan da’i yang menjadi pewaris para Nabi-Nya. Lalu kepada ummat yang istiqamah memegang Risalah-Nya. Lalu kepada manusia-manusia yang memiliki mimpi-mimpi besar untuk kemaslahatan ummat manusia. Lalu kepada setiap manusia di muka bumi dengan berbagai obsesinya.

Sahabat, masa-masa sulit itu senantiasa hadir pada takaran-takaran kemampuan setiap kita. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, itu firman-Nya. Maka tak pernah ada alasan untuk sesorang yang memiliki keimanan dalam hatinya untuk berhenti dan menyerah. Apalagi untuk manusia yang memiliki mimpi dan obsesi-obsesi raksasa, TIDAK! Hingga ia mampu mengukir sejarah. Apalagi untuk kita yang bercita-cita untuk menjadi pewaris Nabi dan menyebarkan Risalahnya atas manusia di muka bumi, hingga Risalah Allah itu tegak di muka bumi…

Read More ..

Sunday, June 07, 2009

JIWA-JIWA OBSESIF

Joan of Arc tak bisa tenang menyakisakan kelemahan rajanya. Charles VII Sang Raja Prancis, lebih memilih bertahan di istana terakhirnya dan menunggu tibanya saat kekalahan di bawah pedang tentara Inggris. Setelah gagal meyakinkan Raja Prancis itu untuk bangkit, akhirnya Joan of Arc lebih memilih mengikuti panggilan jiwanya, jiwa yang obsesif. Bersama sekelompok pasukan kecilnya, Joan menyelesaikan sendiri misinya. Satu demi satu daerah jajahan Inggris dibebaskan. Selanjutnya jiwa obsesif Joan perlahan membangunkan tentara dan rakyat Prancis dari kubangan ketakutannya. Jiwa Joan memanggil mereka: “for those who love me.. follow me!!". Meski mimpinya tak sempat selesai, Joan of Arc telah mengajarkan kepada Raja dan rakyat Prancis bagaimana cara memulainya…


Di masa yang berbeda, Sang manusia agung, Rasulullah Saw memancangkan mimpi bagi kaum muslimin. Suatu ketika Rasulullah bersabda: “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]. Sejak itu, mimpi menaklukkan pusat peradaban Romawi Timur, kota Heraklius, dan menjadi sebaik-baik pemimpin dan pasukan telah menggoda pemiliki jiwa-jiwa yang obsesif selama 800 tahun untuk tampil menoreh sejarah. Diawali oleh sahabat yang mulia Abu Ayyub Al-Anshary dan ditutup oleh Muhammad Al-Fatih di usianya yang baru 22 tahun. Di tangan anak muda inilah, Kota Konstantinopel jatuh pada tanggal 29 Mei 1453 M. Sebuah mimpi telah berdiri. Tetapi, jiwa-jiwa obsesif itulah yang membawa panji-panjinya...

Sahabat, seperti itulah cerita kepahlawanan silih berganti dalam lembaran-lembaran sejarah. Setiap halamannya senantiasa diukir oleh pemilik jiwa-jiwa yang obsesif. Mimpi hanyalah titik cahaya yang menjadi arahnya. Sementara jiwa-jiwa obsesif itulah yang menggerakkan dan membawa panji-panjinya. Bagi pemilik jiwa-jiwa obsesif itu, waktu hanyalah putaran masa yang hanya mampu menggerus tubuh mereka, tapi tidak dengan mimpi mereka. Itulah sebabnya, diantara mereka banyak yang sudah lapuk dimakan usia, tetapi jiwanya terus menyala…

Pemilik jiwa-jiwa obsesif itu juga pada umumnya tak manja. Kesedihan, cobaan, tantangan, bahkan fitnah tak pernah melukai jiwa mereka. Bahkan badai ujian yang selalu datang itu semakin menempa tekad mereka menjadi baja. Mereka pun tak suka mengeluh, apalagi mencari-cari alasan. Bagi mereka, hambatan dan tantangan hidup itu adalah anak-anak tangga yang harus ditaklukkan. Sebab untuk sampai kesana, jalan yang ditempuh memang tak slalu mudah…

Sahabat, demikianlah jiwa yang obsesif itu seharusnya menjadi bagian dari mimpi-mimpi kita. Sebab tanpa jiwa obsesif, mimpi kita tak akan pernah meningglkan kepala ini untuk tegak dalam kehidupan. Mimpi-mimpi itu sungguh terlalu tinggi untuk didaki oleh jiwa-jiwa yang biasa. Harapan-harapan itu sungguh terlalu terjal untuk dilalui oleh jiwa-jiwa yang lemah. Padahal kita tahu, dibalik jalan menuju mimpi-mimpi itu telah terbentang kerikil tajam dan medan yang mendaki untuk meraihnya. Dan tantangan pertama dalam mewujudkan semua mimpi kita adalah kebesaran tekad. Nah sahabat,tekad raksasa itu hanyalah milik mereka yang berjiwa obsesif...

Read More ..

Thursday, June 04, 2009

MIMPI INDONESIA

MIMPI, kata yang sederhana, tapi menyimpan gelora raksasa. Ia mengalir lembut dalam pikiran, tapi meledak dan berkecamuk dalam peradaban. Mimpi Rasulullah Saw tentang penaklukan Persia dan Romawi-lah yang membawa Ziyad bin Thariq dan pasukannya menaklukkan spanyol dan sebagian dataran Eropa, jauh setelah Rasulullah tiada. Mimpi Hitler pulalah tentang keagungan bangsa Arya yang melahirkan perang dunia dan membantai 30 juta manusia. Mimpi tentang Negara Israel dan Solomon Temple-lah yang mendorong bangsa Yahudi hingga kini tak pernah berhenti menguasai dan membantai muslim Palestina. Sejarah kita, adalah kisah tentang amuk amarah mimpi-mimpi manusia…


Bangsa kita pernah bangkit, berkali-kali. Tapi kebangkitan yang paling prestisius dalam sejarah adalah kemerdekaan 45. Setelah itu, tak ada lagi kebangkitan mensejarah yang diciptakan oleh bangsa ini. Hanya satu penjelasannya, karena mimpi tentang MERDEKA, adalah satu-satunya mimpi manusia Indonesia kala itu. Energi mimpi tentang MERDEKA telah merasuk ke dalam jiwa rakyat Indonesia. Seperti virus, ia menguasai pikiran, hati, keasadaran, bahkan mimpi-mimpi di dalam tidur setiap orang Indonesia. Pekik merdeka dimana-mana. Mereka tak pernah menghitung berapa nyawa yang harus melayang. Mereka tak pernah pusing berapa deras darah yang harus mengalir. Mimpi tentang merdeka telah menjadi nyanyian sunyi setiap langkah gerak perjuangan mereka…

Dari mimpi itulah kita lahir. Dari kubangan nyawa itulah kita bangkit. Dari tetes-tetes darah itulah kita hidup. Dan setelah itu mimpi-mimpi Indonesia pun berhenti. Setiap kita memiliki potongan-potongan mimpinya sendiri. Kita bertumbuh dalam egoisme dan keserakahan kita masing-masing. Bangsa kita tak pernah lagi mampu menyatukan mimpi-mimpinya. Hanya secuil mahasiswa yang meyatukan potongan kecil puzzle mimpi mereka saat menumbangkan Orde Lama tahun 66 dan Orde Baru tahun 98. Tapi bangsa ini, butuh lebih dari itu. Bangsa ini memerlukan satu mimpi yang sama untuk bangkit kembali dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Bahkan lebih dari itu, bangsa ini perlu bermimpi untuk suatu saat memimpin dunia…

Sahabatku, jangan pernah pesimis bahwa bangsa kita terlalu besar untuk memiliki satu mimpi. Bangsa kita sudah pernah melakukannya dan sekarang pun kita mampu melakukannya, bahkan nanti kita tetap mampu melakukannya. Tahun 45, Jepang dan Indonesia sama hancurnya. Perbedaan kita dengan jepang saat itu adalah karena kita baru saja meraih mimpi terbesar kita, MERDEKA. Tapi bangsa Jepang sedang memulai mimpi-mimpi baru mereka. Enampuluh tahun kemudian, antara kita dan Jepang sungguh jauh perbedaannya. Karena mimpi kita berhenti setelah kita merdeka, sedangkan Jepang tak pernah menghentikan mimpinya. Bangsa Jepang membangun satu mimpi yang sama…

Sahabatku, bangsa kita memang sedang sakit. Negeri kita memang sedang terpuruk. Ibu pertiwi memang sedang menangis. Terhadap kehormatan bangsa kita yang diinjak-injak. Terhadap hukum kita yang diperjual belikan. Terhadap rakyat kita yang jadi budak di tanahnya sendiri. Tapi itu bukan alasan untuk kita berhenti. Apalagi hanya untuk menghujat dan mengutuk gelap negeri kita. Sebab ibu pertiwi lebih membutuhkan CINTA dari pada AMARAH. Ibu pertiwi sedang menanti bangkitnya anak-anak negeri ini untuk mulai membangun sebuah mimpi yang sama, lalu bangkit dalam gelora jiwa yang menyala dan membawa Indonesia ke tempat terhormat diantara bangsa-bangsa lain di dunia. Kita hanya perlu berjanji, Sahabatku. Untuk berhenti mengutuk gelap dan menyalakan obor kebangkitan bangsa kita. INDONESIA JAYA!!!

Read More ..

Wednesday, June 03, 2009

BINTANG, SAHABATKU YANG HILANG

Sahabatku, Bintang…

Akhirnya kutemukan jejakmu, meski dalam ruang-ruang yang tak begitu nyata. Setidaknya ku tahu, kau masih ada di sana. Bersama mimpi-mimpimu yang sebagiannya telah utuh, dan sebagian lagi tengah menanti tanganmu untuk meraihnya. Mungkin bagimu banyak yang telah berubah, tapi bagiku kau masih sama: seorang pemimpi yang tak pernah menyerah…

Sahabatku, Bintang…

Rasanya baru kemarin kita bercengkarama di atas lantai tertinggi tempat kuliah kita, sambil menatap lampu-lampu kota yang indah. Saat kau ceritakan padaku tentang sejuta mimpimu, dan aku hanya terdiam seperti anak kecil yang khusyuk mendengarkan dongeng sebelum tidur dari ibunya. Kau ceritakan padaku tentang masa depan dan dunia lain yang seolah telah pernah kau lalui. Begitu nyatanya mimpimu itu kawan, hingga aku seperti tak pernah mampu mengikuti jejakmu. Lalu ku sadari, kau telah menjelma seperti Bintang Kecil di angkasa, selalu dapat kulihat, tapi tak pernah mampu ku raih…


Sahabatku, Bintang…

Satu hal yang ku syukuri dari takdirku telah mengenalmu, karena kau telah mengajarkan padaku tentang kehidupan. Kau telah membuka mataku tentang dunia. Kau telah mendorong pandanganku menembus masa. Kau telah membakar jiwaku untuk bangkit dan berbenah, menyambut esok yang tak pernah sama. Dan ketika kau pergi, kaki-kaki ini telah cukup kokoh untuk mengarungi hidup dengan badainya yang tak pernah mudah.

Sahabatku, Bintang…

Setelah kepergianmu itu, aku mulai berani bermimpi. Mimpi yang menjulang dan ambisius, seperti mimpi-mimpimu, Sobat. Jiwaku begitu obsesif, dan langkah kakiku trengginas menggilas hidup dan gelombang ujiannya. Meski berkali-kali aku jatuh bangun menyusun puing-puingnya, aku tak pernah berhenti bermimpi Sobat, seperti dirimu, hingga kini…

Sahabatku, Bintang…

Tak perlu kau ceritakan padaku kemana kakimu melangkah, sebab ku tahu langkah itu tak pernah lelah. Cukuplah kau kabarkan padaku tentang dunia indah yang telah kau taklukkan, seperti mimpi-mimpimu dulu. Agar kisah itu dapat kuceritakan kembali kepada generasi penerus kita, seperti mereka membaca petualangan para penakluk peradaban dalam sejarah…

Sahabatku, Bintang…

Aku bersyukur telah menemukan cahayamu kembali, meski terlalu jauh ada disana. Jangan pernah bosan menunjukkan padaku arah, agar kaki ini mampu menapak dengan pasti dalam labirin kehidupan yang berliku-liku ini, Sobat.

Sahabatku, Bintang…

Akhirnya, satu pesan terakhirku padamu. Jika esok hari kau berniat mem-film-kan kisahmu (seperti Andrea Hirata), ajak-ajaklah aku sebagai pemainnya. Aku siap mengikuti audisi-audisinya, biar bagaimana pun salah satu mimpiku yang belum terwujud adalah, ingin jadi artis.. (hahhahahhahah)
Semoga arah angin selalu berpihak pada keberuntunganmu, Sobat. Do’aku selalu menyertaimu.

Sahabatmu, Aang the Avatar… gleg... :)

Read More ..

KILL THE PAIN

Aku kurang yakin apakah judul di atas sudah tepat grammar-nya. Yang pasti, melalui tulisan ini aku ingin mencoba memahami apa yang berkecamuk dalam pikiran orang-orang berperilaku tak biasa di sekitar kita. Mengapa seorang ibu tega menyewakan bayinya untuk dipakai mengemis dan meminta-minta? Mengapa seorang Bapak rela melihat anaknya yang masih belia melakukan pekerjaan keras orang-orang dewasa? Mengapa seorang suami sanggup melihat istrinya menjadi kuli? Mengapa seorang gadis muda yang masih memiliki asa masa depan yang panjang mau menjual diri?

Dalam ruang yang berbeda, aku coba menyelami perilaku tak biasa itu dalam milio yang lebih dekat disekitarku. Mengapa sebuah keluarga yang masih sangat baru dapat bertahan dalam jarak-jarak yang memisahakan dengan rentang waktu yang lama. Sang suami di kota A, sang istri di kota B, sang anak belia di kota C, dengan jarak yang begitu jauh. Apakah tidak ada rasa perih yang menyayat-nyayat jiwa mereka? Apakah senyum yang terukir di wajah-wajah polos mereka sungguh adalah senyum yang sebenarnya?


Ternyata tidak!

Hati mereka juga perih. Jiwa mereka juga berontak. Nurani mereka pun teriak. Dan akumulasi perasaan itu terkadang meledak dalam ruang-ruang yang sepi, saat sendiri, mengalir bersama derasnya air mata yang menganak sungai di wajah mereka. Tapi tak ada yang tahu. Dan tak perlu ada yang tahu. Hingga terbersit berjuta-juta sesal dalam jenak-jenak pikirannya yang ambigu. Lalu berandai-andai, tentang esok yang mungkin berbeda dengan hari ini, kemarin dan kemarinnya lagi. Dan kembali menyesali diri atas kelemahannya yang tak pernah mampu merubah keadaan…

Sahabat, ternyata mereka pun sakit. Tapi apa yang membuat mereka itu mampu bertahan dengan rasa sakit yang begitu dalam dengan rentang waktu yang sangat lama? Mereka semua melakukan hal yang sama, Kill The Pain! Ya, mereka telah membunuh rasa sakit itu. Membuat mereka terlihat tegar seperti biasa. Seperti karang yang berdiri kokoh menghadang laju gelombang ujian hidup yang tak ada habisnya. Dan tak pernah ada yang tahu apa yang berecamuk dalam pikirannya. Tak pernah ada yang mengerti suara yang berteriak-teriak dalam jiwanya. Tak ada yang mampu membaca rasa sakit yang tergambar dari sorot matanya. Tak ada yang tahu, dan tak perlu ada yang tahu…

Sahabat, siapa yang tahu jika suatu saat takdir kita akan seperti mereka? Sebab kehidupan adalah kumpulan misteri dan kejutan-kejutan yang tak pernah ada rumusnya. Hari ini hidup kita begitu sempurna, mungkin esok ceritanya akan berbeda. Perpindahan-perpindahan yang telalu mudah bagi Allah untuk mempergilirkannya. Sejarah manusia dan peradabannya telah bercerita tentang itu semua. Dan mereka yang sanggup melaluinya hanyalah orang-orang yang berkarakter dan mampu membunuh rasa sakit pada ruang-ruang tertentu dalam dirinya. Ya, Kill the Pain, adalah salah satu jawabannya…

Read More ..

Tuesday, June 02, 2009

RUANG-RUANG INSPIRASI

Pada awalnya tulisan ini ingin aku gabungkan dengan tulisan sebelumnya, TRANSFORMASI IDE। Tetapi saya kira fokusnya berbeda, meskipun temanya sama: PERADABAN.

Mereka, para Produsen Ide yang telah membangun peradaban manusia ini memiliki satu tradisi yang sama: BERPIKIR MEDALAM (Deep Thinking). Seperti kita tahu, bahwa Newton menemukan teorinya Gravitasinya saat merenung di kebun Apel. Sedangkan Archimedes menemukan idenya saat sedang mandi. Dan masih banyak peristiwa serupa yang menunjukkan betapa IDE dan INSPIRASI itu lahir dari ruang-ruang yang tak seperti bisasnya. Itulah sebabnya postingan ini berjudul, Ruang-ruang Inspirasi.


Jika kita telah memutuskan untuk menjadi Produsen Ide atau Pelaku Sejarah, yang akan berkontribusi (sekecil apa pun) untuk merekayasa peradaban manusia ini, maka kita akan sampai pada pekerjaan yang rumit, mencari INSPIRASI. Rumit, sebab otak kita biasanya bekerja secara produktif untuk melahirkan ide-ide dalam situasi dan kondisi tertentu. Mau bukti? Seberapa sering kita menelorkan ide baru, ide kreatif, bahkan ide gila saat kita dalam keadaan terdesak? Jika besok kita ujian akhir dan belum 1 halaman pun pelajaran itu yang kit abaca, idea pa yang muncul di kepala Anda? Hanya Anda dan Tuhan yang tahu tentu saja. Yang pasti secara sadar atau tidak Anda telah memproduksi sebauh IDE…

Tapi memproduksi ide dalam suasana terdesak bukanlah kabar yang baik. Sebab terlalu banyak resiko gagalnya disbanding sukses. Pilihan-pilihan idenya juga menjadi sangat sedikit. Oleh karena itu kita perlu membangun tradisi Deep Thinking itu dalam diri kita. Setiap hari, bahkan setiap saat mungkin. Maka yang kita butuhkan untuk melahirkan ide-ide itu adalah ruang-ruang inspirasi. Anda boleh setuju atau tidak, tapi faktanya secara tidak sadar kita telah memproduksi banyak ide-ide dalam ruang-ruang yang biasanya sama. Terkadang saat di kantor ide-ide kita kosong, tetapi saat di perpustakaan ide-ide itu mengalir. Tak jarang saat di rumah ide-ide kita hampa, tapi saat di masjid ide-ide cerdas tiba-tiba mengalir deras. Saat bergaul dengan orang tertentu kepala kita mumet dan bolong, tapi saat bertemu dengan orang yang lain lagi ide-ide itu tiba-tiba hadir. Itulah ruang-ruang inspirasi kita…

Sahabat, untuk menjadi seorang produsen ide yang produktif temukanlah ruang-ruang inspirasi Anda. Terkadang ia berupa tempat seperti cafĂ©, perpustakaan, atau masjid, namun tak jarang ia juga berupa waktu tertentu seperti dipagi hari, sore hari, atau menjelang tidur. Terkadang ia juga berupa benda seperti buku, laptop, gambar atau foto, dan sering ia juga berupa orang. Nah, tinggal kita yang harus menemukanya. Sebab dalam ruang-ruang seperti itulah kontribusi kita untuk peradaban manusia akan terus diproduksi, sekecil apa pun bentuknya. Sebab bukanlah besar dan kecilnya KARYA itu yang bernilai, melainkan apa yang telah kita beri untuk manusia dan perdabannya…

Read More ..

TRANSFORMASI IDE

Allah telah memberi kita manusia sebuah instrument hidup yang luar biasa, namanya OTAK. Benda biologis yang terdapat dalam batok kepala kita inilah yang mampu menjelaskan mengapa kita mampu membangun peradaban. Salah satu fungsi dari otak kita adalah untuk menyimpan informasi. Ratusan milyar sel otak aktif yang ada di dalamnya membuat kita mampu menyimpan informasi dalam jumlah “super-banyak”. Sebuah benda yang luar biasa. Untuk memperoleh informasi, OTAK kita dibantu oleh indra yang menjadi jalan masuknya berbagai informasi. Entah melalui mata, telinga, hidung, kulit atau pun lidah. Dan kejadian menyerap informasi itu berlangsung melalu berbagai kegiatan dan aktivitas, baik yang disengaja mau pun tidak disengaja. Seperti membaca, menonton, berdiskusi, menyentuh, observasi, dsb. Pendek kata, benda bilogis bernama OTAK ini sungguh luar biasa…


Akan tetapi masih banyak manusia yang belum memanfaatkan OTAK ini secara optimal, termasuk saya. Riset para ahli otak mengatakan, manusia genius secerdas Albert Einstein saja baru menggunakan 0,001% dari potensi otaknya. Lalu bagaimana dengan kita yang tak secerdas Einstein? Itulah sebabnya para ahli menyebut otak manusia ini dengan “Sleeping Giant” atau Raksasa yang masih tidur. Sehingga mungkin sebagian besar manusia ketika mati masih memiliki bagian OTAk yang tak pernah terpakai.

Sebagian besar manusia yang menyia-nyiakan OTAKnya adalah karena kemalasan. Kemalasan untuk melakukan berbagai kegiatan dan aktivitas yang terencana untuk mengisi setiap bagian-bagian otaknya dengan berbagai informasi. Sebab otak kita tidak akan pernah bisa penuh sampai kita mati. Kita malas membaca. Kita malas observasi. Kita malas mencoba hal-hal baru. Kita nyaman dalam kedamaian ‘comfort-zone’ kita.

Tetapi tahukah kita, bahwa yang membangun peradaban manusia itu bukanlah mereka yang rajin mengisi otaknya dengan informasi-informasi baru. Tetapi mereka yang selangkah lebih maju, yaitu mereka yang menggunakan milyaran informasi yang telah ada dalam otak mereka menjadi sebuah IDE, saya menyebutnya TRANSFORMASI IDE. Dan aktivitasnya bukan lagi menyerap informasi (mis: membaca, diskusi, dsb), tetapi aktivitas yang disebut BERPIKIR.

Dalam dunia cyber seperti saat ini, kita akan menemukan 2 jenis manusia: Tukang Baca dan Produsen Ide. Tukang Baca akan memposting kembali semua informasi-informasi menarik yang telah dibacanya melalui Blog atau Facebook miliknya. Sementara Produsen Ide mengolah seluruh informasi-informasi itu ditampilkan dalam rupa yang berbeda, KARYA. Aktivitas cyber mereka sama, Ngeblog atau FB, tetapi KARYA mereka berbeda.

Nah sahabat, sekali lagi, bahwa yang membangun, merekayasa, dan mengarahkan peradaban manusia itu adalah para Produsen Ide. Sementara Tukang Baca hanya akan terus membaca, mengamati dan mempelajari sejengkal demi sejengkal perdaban yang telah dibangun itu. Itulah sebabnya, sejarah hanya mengenal dua jenis manusia: Ahli Sejarah dan Pelaku Sejarah. Ahli sejarahlah yang menceritakan kepada kita bagiamana peristiwa dan karya itu dibangun. Tetapi Pelaku Sejarahlah yang mendapatkan ganjaran pekerjaan mereka: dikagumi oleh manusia dan dicintai oleh Allah SWT.

So, kitalah yang memilih takdir kita, Sobat...

Read More ..

Monday, June 01, 2009

WELCOME BACK, BANG!

Alhamdulillah, Allah masih memberi kita umur: bagi saya untuk menulis postingan ini, dan bagi Anda untuk membaca postingan ini. Sedih juga rasanya membiarkan blog ini kumuh dan lumutan. Tengok saja shout box-nya yang penuh dengan junk word, link-link sampah yang tak berguna. Bukan karena tak ada waktu untuk mengisinya, tapi memang kejemuan yang sedang menggelayut diseluruh sudut-sudut jiwa. Dan saat ini, aku melawan seluruh suasana beku itu. Dan, aku pun menulis postingan ini…

Sahabat, banyak peristiwa yang ku alami beberapa pekan terakhir dan tak sempat terekam dalam huruf demi huruf yang biasanya aku rangkai dalam tulisan. Sekitar dua pekan yang lalu misalnya, aku menemukan sebuah album foto kumal yang sudah tua di kamar kost Adikku. Di antara tumpukan arsip-arsip Laporan Laboratorium semasa aku dan kakakku masih kuliah dulu. Dan waktu kubuka, semua isinya foto-foto jadul (jaman dulu). Setiap halaman album yang aku buka membawa pikiranku menerawang kemasa lalu di setiap peristiwa yang terekam oleh gambar-gambar itu. Setiap gambar itu begitu berarti, sebab setiap peristiwa yang diwakilinya adalah momen-momen yang menyimpan makna…


Disana ada foto-fotoku sejak SD hingga Mahasiswa. Juga ada foto kedua orang tuaku dan saudara-saudaraku. Paling banyak adalah foto sahabat-sahabatku dari komunitas yang berbeda: teman kost, teman sekolah, aktivis dakwah kampus, teman kuliah, sahabat karib, hingga teman bergaul. Cukup lama aku mamandangi foto Almarhumah Ibuku. Perempuan yang selalu ku kagumi, dan dipanggil oleh Allah dalam usia yang masih terbilang muda, saat haru biru perjuangan mahasiswa menghiasi hari-hariku.

Dan aku sumringah ketika salah satu halaman menampilkan foto telanjang dada-ku bersama sahabat-sahabatku di sebuah pantai indah di daerah Masamba. Hehehe… lucu, karena yang tampak hanya tulang-tulang berserakan (kata khairil anwar), hahhaha… Juga terharu, ketika melihat fotoku bersama ADK seangkatanku. Wajah kami sungguh culun. Tetapi genggaman tangan yang diacungkan dengan teriakan takbir itu bercerita tentang sebuah semangat, cita-cita dan obsesi.

Dan aku termangu, saat mataku tertuju pada foto seorang gadis muda berjilbab putih yang begitu ku kenal. Seseorang yang dulu menggetarkan hatiku saat pertama kali menatapnya. Seseorang yang dulu kepadanya aku selalu bercerita tentang cinta. Seseorang yang dengannya aku pernah berjanji untuk melindunginya selamanya. Sekaligus seseorang yang dengannya kami saling berjanji untuk berpisah, demi jalan kebenaran yang yang telah menerangi hati. Seorang sahabat yang bersamaku membangun keyakinan, bahwa kesucian cinta itu dalam genggaman-Nya, jika Ia menghendaki maka biarlah cinta itu menemukan belahannya, dan jika Ia tidak menghendaki maka biarlah cinta itu menemukan jalan pertaubatannya. Lalu masing-masing menjalani kehidupan yang teduh dalam manisnya iman dan indahnya dakwah. Dan setelah itu, tak pernah lagi ku dengar kisahnya…

Aku juga menemukan sebuah bundel puisi dengan kertas yang sudah rusak oleh rayap. Kumpulan puisi yang aku tulis sejak semester pertama di kampus merah. Ku baca keseluruhan isinya. Dan sekali lagi, dalam setiap bait-bait puisi itu tersimpan ceritra yang begitu banyak. Ada puisi tentang heroisme mahasiswa. Ada puisi tentang nasionalisme Indonesia. Juga ada puisi cengeng tentang cinta dan patah hati. Beberapa puisi tentang seseorang: seorang sahabat, seorang tokoh, dan seorang yang dicintai. Tapi beberapa puisi yang menggetarkan hatiku saat aku baca adalah puisi tentang Tuhan. Alam batinku seperti terbawa dalam nikmatnya suasana iman dikala itu, saat puisi-puisi itu aku gores untuk memuji dan memuja Dzat yang menciptakan kita dan alam semesta…

Sahabat, seperti sebagian besar kita, selalu saja ada kisah yang begitu membekas dalam jiwa. Sebagiannya kisah bahagia, dan sebagian lagi kisah sedih dan menyakitkan. Maka Maha Besar Allah, yang telah memberikan kita nikmat LUPA, sehingga tidak semua persitiwa yang pernah ada itu menggelayuti pikiran kita sampai mati. Seandainya seluruh peristiwa itu hadir segar dalam pikiran kita, betapa resahnya hidup ini. Maka bersyukurlah, Sobat…’

Tetapi tidak semua peristiwa itu harus kita lupakan. Sebagiannya harus menjadi ibrah dan pelajaran untuk menjadi semakin bijaksana. Peristiwa-peristiwa indah dengan kisah-kisah bahagianya yang kita ingat-ingat kembali adalah pemicu produksi hormone endorphin tubuh yang membuat kita bersemangat, ceria, dan bahagia. Sementara peristiwa-peristiwa sedih dengan kisahnya yang menyakitkan adalah pelajaran berharga tentang kerendahan hati, evaluasi diri, kesabaran sekaligus kesyukuran…

Dan ketika sebuah icon (entah foto, puisi, surat, dll) mengingatkan kita kembali penggalan-penggalan kisah itu, maka tak usah malu pada diri sendiri untuk mengakui apa adanya kisah itu. Meski terkadang kisah itu memalukan, menyakitkan, menyedihkan, atau pun menyenangkan. Akuilah apa adanya, meski hanya untuk ditangisi atau ditertawai, dan yang lebih penting untuk menjadi pelajaran berharga dalam kehidupan kita…

Well… Welcome Back, Bang!


Read More ..

Tuesday, May 05, 2009

MENYAMBUT TUGAS BARU

Sekitar pukul 8 pagi asisten Ust. Anis Matta menelpon, katanya ustadz pengen ketemu pagi ini sebelum beliau berangkat ke Jakarta. Aku segera meluncur ke Hotel Imperial tempat ustadz menginap selama masa kampanye. Agak sedikit bertanya-tanya ada apa gerangan. Tapi beberapa kali juga ustadz meminta saya hadir bersama beliau tanpa ada hal yang penting, hanya pengen diskusi kecil-kecil saja dengan teman-teman caleg yang lain.

Setiba di Imperial, aku langsung menuju ruang breakfast. Disana sudah ada Ust. Anis, Bang Jack, Sahal asisten Ustadz dan seorang koleganya. Setelah berbasa-basi sejenak, kolega ustadz pun pamit. Sahal ngurusin persiapan keberangkatan Ustadz. Tinggal kami bertiga, Ustadz, Bang Jack dan saya. Kami berdiskusi ringan sebentar. Kemudian beliau masuk ke inti pembicaraan yang ingin beliau sampaikan. Setidaknya ada 3 hal yang beliau pesankan jika aku dan Bang Jack ternyata ditakdirkan menjadi anggota DPRD Kota Makassar nantinya.

Pertama, jangan pernah menjadikan gedung dewan tempat untuk mencari uang. Ternyata, mereka yang tersangkut berbagai kasus korupsi di gedung parlemen adalah orang-orang mengandalkan statusnya sebagai anggota dewan untuk mencari uang. Mereka menghalalkan segala cara untuk menambah sebukit demi sebukit pundi-pundi kasnya. Tapi seperti kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan jatuh juga.
Seperti itulah nasib mereka anggota dewan yang terhormat itu, telah menghancurkan hidup mereka sendiri karena visi kehadiran mereka di gedung parlemen adalah mencari uang. Sungguh dalam pesan ini, tapi seluruhnya benar. Beliau menceritakan beberapa contoh kasus orang-orang seperti ini yang berakhir di tangan KPK. Lucu juga, sebab banyak caleg yang bertarung dalam Pemilu dan sangat ngotot justru karena visinya sejak awal adalah uang, uang dan uang. It’s all about the money...

Kedua, jadikanlah posisi sebagai anggota dewan itu untuk memperkaya data dan informasi kita. Berbisnis dengan negara tidak akan pernah membuat kita kaya dalam tempo yang lama. Dan saya sudah melihat kenyataan itu. Ketergantungan kepada proyek-proyek pemerintah membuat usaha banyak kenalan saya pasang surut. Tetapi sumber kekayaan itu adalah data dan informasi. Semakin banyak data dan informasi yang kita miliki, maka peluang untuk membuat kanal-kanal aliran uang kedalam kas kita semakin besar pula. Point ini masih kabur memang, tapi beliau memberikan contoh bagaimana beliau menjadi magnet bagi banyak orang karena kekayaan data dan informasi yang beliau miliki.

Menjadi pemilik data dan informasi akan memposisikan kita sebagai ‘key maker’ dari berbagai proses ekonomi dan politik. Anda bisa terjun ke dalamnya kapan saja anda ingin. Inilah asset yang akan bertahan lama dan tak terukur potensinya. Di tangan orang yang tepat, potensi ini dapat menjadi ledakan kekayaan yang luar biasa besarnya.

Ketiga, jangan pernah memiliki life style yang lebih besar dari income anda. Apalagi jika income itu dari gaji anggota dewan, jangan pernah anggap itu sebagai income permanen. Anda bisa saja kehilangannya setiap saat tanpa anda sangka-sangka. Ada apa dengan life style? Ternyata life style itu tidak mengenal kata turun. Begitu anda menganut life style dengan kelas tertentu, maka berat bagi anda untuk menurunkan gradenya. Tetapi income? Ia bisa saja turun bahkan hilang sama sekali disaat yang tak pernah kita sangka-sangka. Karena itu pesan beliau, pilihlah life style yang lebih rendah dari besarnya passive income Anda. Dan itu bukan dari penghasilan sebagai anggota dewan, melainkan dari hasil mengolah sumber daya data dan informasi yang kita miliki tadi.

Nah, sahabat…
Seperti itulah nasehat singkat Ust. Anis Matta kepada saya dan Bang Jack sebelum beliau berangkat ke Jakarta dan belum kembali lagi sampai hari ini. Nasehat yang sangat berharga untuk menjadi pijakan menjalani tugas-tugas baru yang sangat berat di gedung parlemen nantinya. Bukan hanya untuk saya, tapi akan bermanfaat bagi kita semua saya kira…

Read More ..

Saturday, April 18, 2009

REFLEKSI UNTUK KITA YANG KALAH HARI INI

Sahabat,

Sebelumnya aku telah menulis inspirasi tentang MENIKMATI KEKALAHAN dan HIKMAH DIBALIK KEGAGALAN. Tulisan ini hanyalah sedikit refleksi untuk semua orang yang hari ini sempat kalah, gagal, jatuh atau apa pun yang mengecewakan hati…


Sahabat,

Kekalahan, kegagalan, dan kejatuhan adalah persitiwa-peristiwa yang terjadi setiap hari, pada tempat, waktu dan orang yang berbeda. Tetapi ia hadir setiap hari. Ya, setiap hari. Sebab kekalahan, kegagalan dan kejatuhan itu adalah bagian dari keseimbangan kehidupan. Dan di sisi yang lain, akan hadir kemenangan, kesuksesan dan kebangkitan. Seperti itulah kehidupan di atur oleh Sang Pencipta untuk memastikan segalanya berjalan harmonis. Ia berputar dan silih berganti sepanjang kehidupan itu masih ada. Kadang ia menimpa kita, saudara kita, tetangga kita, ataupun orang lain di sekitar kita. Tak peduli tua, muda, kaya, miskin, cerdas atau pun tak berpendidikan. Ketika kehidupan telah memilihnya, maka hadirlah ia…


Sahabat,

Kekalahan, kegagalan dan kejatuhan juga bermakna luas. Tidak selamanya ia dipersepsi sebagai sebab hadirnya penderitaan, rasa sakit, atau luka yang menganga. Terkadang kehadirannya adalah anugrah. Seperti angin yang membadai menjadi kekuatan yang mengokohkan akar-akar pepohonan. Maka seperti itu pulalah kekalahan, kegagalan dan kejatuhan itu telah membentuk banyak insan menjadi manusia-manusia tangguh, petarung dan bermental baja. Bukalah kembali kisah hidup manusia-manusia besar dan orang-orang sukses dalam sejarah manusia, maka engkau akan menemukan ruang-ruang cerita tentang kekalahan, kegagalan dan kejatuhan yang pernah mereka alami. Ceritra yang sebagian besarnya mengharu biru dan menyakitkan untuk diceritakan apa adanya. Tetapi orang-orang besar itu tak pernah menyesalinya. Sebab penggalan hidup mereka itu telah membentuknya menjadi manusia yang perkasa…

Sahabat,

Tetapi jujur, kekalahan, kegagalan dan kejatuhan itu memang menyakitkan. Dan karenanya orang-orang besar yang pernah melaluinya pun menangis saat ia hadir. Air matanya juga mengalir deras. Hati dan perasaannya juga remuk. Semangat hidupnya juga goyah. Sebab mereka juga manusia. Maka air mata yang menganak sungai saat kekalahan, kegagalan dan kejatuhan itu datang bukanlah pertanda kelemahan dan kecengengan. Ia adalah ekspresi kemanusiaan kita. Hanya saja, bagi orang-orang besar itu, air mata mereka, remuk redam hati mereka, goyahnya semangat hidup mereka, hanya berlangsung sekejap. Ketika air mata itu telah kering, hati itu telah tenang, dan semangat hidup itu menyala kembali maka kerja-kerja mereka selanjutnya adalah kerja-kerja sejarah.

Peristiwa kekalahan, kegagalan dan kejatuhan yang kemarin menjadi pelecut energi hidup dalam diri mereka. Energi yang membuat kaki mereka mampu meloncat lebih tinggi, mata mereka menatap lebih jauh dan pikiran mereka menjelajah lebih luas. Dan kita? Mestinya kita pun demikian. Kekalahan, kegagalan dan kejatuhan hari ini seharusnya melahirkan energi baru dalam hidup kita. Maka sahabat, menangislah sejenak… Lalu bangkit dan menatap esok dengan tatapan mata yang menyala-nyala…

Sahabat,

Kekalahan, kegagalan dan kejatuhan bagi sebagian orang juga berarti momentum. Ya, sebuah momentum untuk berbenah, menata ulang, dan mengevaluasi perjalanan hidup. Dari titik inilah mereka kembali menata ulang rencana kehidupan, menyiapkan bekal, dan menentukan arah, hingga akhirnya mereka meraih segenap cita-cita dan obsesinya. Mahal memang, tapi itulah harga untuk sebuah kesuksesan. Nah, sahabat… mungkin kekalahan, kegagalan dan kejatuhan kita hari ini adalah momentum yang terbaik untuk kita menata ulang seluruh rencana hidup, obsesi dan tindakan kita esok hari. Maka berbenahlah sobat, untuk esok yang lebih baik…
Read More ..

Friday, April 17, 2009

MENANG DAN KALAH

Masih ingat sebuah pepatah: “Menang jadi arang, kalah jadi abu”?
Ada juga yang mengatakan: ” menang jadi raja, kalah jadi gila…”

Hahahahha….

Entah mana yang sangat pas untuk menggambarkan situasi pasca Pemilu 2009 di negeri kita ini. Yang pasti, pemilu kita telah melahirkan pemenang dan pecundang. Mereka yang menang telah jadi arang. Dan mereka yang kalah musnah jadi abu. Mereka yang menang memperoleh kemenangannya dengan berdarah-darah. Ratusan juta hingga milyaran rupiah dihabiskan untuk mendapatkan gelar pemenang itu. Rumah hilang, tanah melayang, tabungan habis, bahkan harga diri dan kehormatan tergadaikan. Belum lagi utang menumpuk, janji yang harus ditunaikan berserakan. Ratusan tim sukses harus dihidupi. Bahkan senjata terakhir, membayar penyelanggara Pemilu untuk menggelembungkan suara tak kalah mahalnya. Harga yang tentu saja tidak sebanding dengan apa yang akan mereka dapatkan kelak. Itu kalau mereka lurus. Tapi, tentu saja mereka tidak akan lurus. Sebab seluruh pengorbanan mereka itu harus terbayarkan…


Yang kalah benar-benar jadi abu. Ada yang gila. Ada yang bunuh diri. Ada yang stress berat. Ada yang menyegel sekolah. Ada yang menarik kembali sumbangannya di mesjid. Ada yang mencopot tangga rumah tetangganya yang dulu dia berikan. Ada yang mengusir warga yang numpang di tanahnya. Ada yang menutup tanah pekuburan. Hahahaha… ada-ada saja… Ada yang mengatakan, beruntunglah mereka yang tetap hidup normal setelah melalui kompetisi GILA bernama Pemilu itu. Tapi lebih beruntung lagi bagi mereka yang tidak ikut dalam arus kompetisi itu.

Sahabat, sebenarnya apa yang tengah terjadi di negeri kita ini?

Jawabannya hanya satu: ‘gelengan kepala’

Sahabat, bukanlah kehadiran Pemilu itu yang mebuat kompetisi ini menjadi GILA. Tetapi jiwa para kontestan yang mengikutinyalah yang sejak awalnya memang GILA. GILA pada kekuasaan. GILA kehormatan. GILA kekayaan. GILA jabatan. GILA kesenangan. Sehingga untuk mendapatkan semua itu mereka pun menempuh cara-cara yang GILA. Dan ketika mereka gagal mendapatkan semua itu, mereka pun benar-benar GILA.

Sahabat, ada satu rahasia yang tidak dipahami oleh mereka yang gila itu. Bahwasanya segala sesuatunya sebelum terjadi telah tercatat di Lauhul Mahfudznya Allah. Jauh sebelum Pemilu dimulai, sesungguhnya setiap kursi yang tersedia itu telah tertulis nama pemiliknya. Hanya saja kita tidak tahu siapakah mereka. Oleh karena itu kewajiban setiap kontestan untuk berikhtiar sesuai kemampuannya, bukan diluar kemampuan. Apalagi diluar nalar manusia, misalnya menggunakan bantuan paranormal.. heheheh… gila!

Sahabat, jikalau setiap manusia memahami rahasia ini, mestinya menang dan kalah hanya akan menjadi peristiwa biasa-biasa saja. Jikalau setiap sopir angkot mengetahui bahwa rezki setiap orang telah diatur pembagiannya, tentulah tak akan ada lagi saling tikam sopir angkot karena berebut penumpang. Seandainya setiap pedagang meyakini jika rezki mereka telah ditetapkan, mestinya tak ada lagi pedagang yang saling sikut untuk mendapatkan pelanggan. Sekiranya setiap caleg yang berkompetisi memahami bahwa setiap kursi yang mereka perebutkan telah ditentukan di Lauhul Mahfudz, maka seharusnya tak ada yang perlu GILA atas hasil akhir kompetisi itu…

Sahabat, begitupun kita…
Andailah kita meyakini bahwa ada Allah di atas takdir kita, maka hidup ini akan terasa indah. Kita akan berkerja, berikhtiar dengan sungguh-sungguh diatas keyakinan yang kokoh akan pengamatan Allah. Tak pernah risau dengan hasil akhirnya, tetapi optimal dalam menjalani setiap jengkal prosesnya. Niatnya, hanya untuk Allah…

Read More ..

Thursday, April 16, 2009

SAHABATKU, MENGAPA KAU LACURKAN NURANIMU?

Ustadz paruh baya itu duduk termenung. Matanya merah dan berkaca-kaca. Ia hampir tak percaya pada hasil suaranya di beberapa TPS yang merupakan tempat pemilihan beberapa majelis ta’lim yang dibinanya lima tahun terakhir. Dibandingkan jumlah anggota majelis ta’limnya yang memilih di setiap TPS itu, suaranya terlalu kecil, bahkan boleh dibilang nihil. Bukan karena suaranya yang kecil itu yang membuat sang Ustadz sedih. Toh sejak awalnya dia memang menolak untuk dicalegkan. Dia lebih memilih mengabdi untuk ummat. Yang membuat hatinya gundah adalah kenyataan bahwa anggota majelis ta’lim yang selama ini dengan sabar ia bina itu telah ‘melacurkan’ nuraninya dengan fulush sepuluh ribu rupiah. Sang ustadz merasa gagal…

Di tempat yang lain, seorang bapak paruh baya yang juga caleg tersenyum geleng-geleng kepala. Di sebuah TPS tempat beberapa karyawannya memilih suaranya sama sekali tidak ada. Padahal, semua orang tahu bagaimana si bapak sejak dulu telah dengan ikhlas menolong keluarga para karyawannya itu setiap mereka membutuhkan bantuan. Bahkan anak-anak mereka diberikan pekerjaan, dihidupi, bahkan ada yang dikuliahkan. Si bapak tidak ingin merusak niat tulusnya untuk membantu, dengan mengait-ngaitkannya dengan pilihan mereka pada pemilu. Yang membuatnya tersenyum sambil geleng-geleng kepala adalah, mengapa mereka yang telah dia anggap sebagai sahabatnya itu rela ‘melacurkan’ nuraninya hanya untuk dua liter beras dan sekilo gula? Gila!

Sahabat, itulah potret sebagian besar masyarakat kita pada pemilu yang lalu. Gila! Nurani mereka telah ditanggalkan, dibungkus rapi, lalu dibuang ke tong sampah. Mungkin sebagian kita mengira perilaku itu adalah keterdesakan ekonomi? Bukan! Bukan keterdesakan ekonomi. Sebab sebagian mereka itu adalah masyarakat yang berkecukupan. Perilaku itu adalah karakter. Seperti seorang anak orang kaya yang melacurkan dirinya di kalangan eksekutif muda. Bukan karena kekurangan uang itu lalu ia melacurkan diri. Tetapi karakter. Seperti juga seorang anak pejabat yang suka mencuri barang orang lain. Bukan karena orang tuanya tak pernah memberi uang padanya. Tetapi sekali lagi, itu adalah karakter. Seperti itu pulalah masyarakat kita. Bukan karena mereka begitu kelaparannya sehingga melacurkan suaranya dengan sepuluh ribu rupiah. Bukan! Sebab uang sejumlah itu hanya cukup untuk membeli beberapa batang rokok. Persoalannya adalah karakter. Karakter ‘pelacur nurani’..

Sahabat, saya jadi teringat firman Allah dalam Al-Qur’an: ‘sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kamu, hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka”.
Astagfirullah… mungkinkah perilaku masyarakat kita ini adalah potret dari para pemimpin yang akan memimpin bangsa kita 5 tahun yang akan datang? Jika masyarakat kita hari ini telah melacurkan nuraninya, boleh jadi para pememimpin kita nanti adalah para ‘germo’? Ya… germo yang menjadi makelar proyek-proyek untuk rakyat yang diobral kepada para pengusaha dan para taipan?

Sahabat, jangan salahkan aku jika menangis…
Sebab tangisan itu adalah ekspresi cinta pada ummat yang saat ini tengah membawa dirinya ke dalam jurang kerusakan. Aku hanya bisa berdo’a dalam diam: “ya Allah, segeralah hadirkan bagi ummat ini generasi pengganti! Sebuah generasi yang Kau cintai dan mereka pun mencintaimu. Generasi yang telah Kau janjikan dalam bait-bait firman Mu. Generasi yang akan menegakkan supremasi dan keadilan Mu. Generasi Rabbani yang akan memakmurkan bumi Mu… Amin!"

Read More ..

Friday, April 03, 2009

LELAKI ITU...

Selepas shalat jum’at, dia berbaring di dalam masjid. Meluruskan badannya yang terlihat letih. Maklum, siang itu panasnya minta ampun, seperti neraka. Matanya tidak terpejam, tapi menerawang. Menatap hampa langit-langit masjid di atasnya. Wajahnya lelah, seakan ada beban yang sangat besar dalam pikirannya. Sinar matanya juga redup, sepertinya takdir telah merenggut semangat hidupnya dan merampok spirit perjuangannya. Lalu perlahan kedua matanya terpejam. Semenit, dua menit, hingga akhirnya ia terlelap dengan damai dan tenang. Seoalah seluruh beban hidup yang tadi mengahantui pikirannya hilang ditelan bumi. Atau mungkin, lenyap ditelan do’a-do’a yang sempat dilafadzkan sebelum ia benar-benar pulas, di siang yang penat itu…

Sahabat,
Entah apa yang berkecamuk dalam pikiran lelaki itu. Tetapi fragmen ini setidaknya memberikan sebuah pesan tentang kehidupan yang tak selalu mudah. Bahkan memang tak pernah mudah. Hanya saja setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengapresiasi dinamikanya. Sebagian orang memilih diskotik dan niteclub sebagai tempat sampah persoalan hidupnya. Tetapi ada juga yang memilih masjid sebagai tempat berkeluh kesahnya, seperti lelaki tadi. Ada pula yang bersahabat dengan paranormal sebagai penasehat spiritualnya. Bahkan ada yang nekad mengakhiri hidupnya…

Sahabat,
Itulah potret. Potret tentang bagaimana manusia mensiasati beban-beban hidup yang tak pernah berhenti. Sekaligus potret tentang daya tahan manusia dalam menghadapi ujian berat. Potret yang pertama tentang kekuatan pikiran, dan potret yang kedua tentang kekuatan mentalitas. Yang pertama tentang kecerdasan dan yang kedua tentang keberanian.

Sahabat,
Mungkin pikiran kita cukup cerdas untuk mensiasati persoalan hidup itu, tapi faktor keberanianlah yang akan menggerakkan kita maju menyongsongnya atau berlari menjauhinya. Dan mereka yang pengecut, seringkali mensiasati persoalan-persoalan hidup dengan konyol: mabuk-mabukan, clubbing, kenakalan, tawuran, dsb. Tapi, ada juga yang mentalitasnya petarung, sayangnya kurang cerdas. Mereka menyerahkan nasibnya pada paranormal dan ‘orang pintar’. Seolah-olah mereka yang ‘pinter-pinter’ itu telah sukses menyelesaikan persoalan hidupnya.

Maka,
Ceritra-ceritra dalam hidup kita ini hanya akan berkisah tentang bagaimana manusia mengambil pilihan-pilihan dalam hidup mereka. Lalu sebagainnya kita kenal sebagai pahlawan, sebagiannya lagi kita sebut sebagai orang sukses. Tapi tahukah kita, bahwa kisah tentang pahlawan dan orang sukses itu adalah ceritra tentang bagaimana mereka mensiasati tantangan hidup yang menyapanya dan juga tentang seberapa besar nyali mereka menyongsong resikonya. Ceritra mereka itu dalah ceritra tentang kecerdasan dan juga keberanian.

Lalu setengah jam kemudian lelaki itu terjaga. Perlahan dia bangkit dan melihat di sekelilingnya. Masjid telah kosong, hanya ada dia dan kotak infaq masjid di dekatnya. Sejenak dia termangu. Diam. Kepalanya tertunduk, seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu diangkatnya wajahnya yang telah berhias senyuman. Rautnya cerah. Matanya menyala. Seolah dia telah menemukan kembali semangat hidupnya. Kemudian dia tengadah, menyatukan kedua tangannya yang terbuka menghadap langit. Dia berdo’a. Khusyuk! Kemudian ia melangkah meninggalkan masjid dengan ayunan yang optimis. Badannya tegak. Tatapannya ke depan. Langkahnya bergegas. Sesampai di kantor lelaki itu segera menyalakan computer. Lalu ia menulis tulisan ini dan mempostingnya di blog dan facebook. Ya, lelaki itu adalah aku, Sobat!

Read More ..

Saturday, March 21, 2009

BIARKAN AKU SENDIRI SEJENAK

Ada saat, ketika kita memperoleh kepercayaan akan sebuah peran dari banyak orang. Ekspektasi yang kadang tak sepadan dengan kapasitas kita. Tapi seperti itulah orang mempersepsi kita. Sebagaimana persepsi banyak orang kepada Sir Edmund Hillary sang penakluk gunung-gunung tertinggi, bahwa ia pasti mampu menaklukkan kaki langit, Mount Everest.

Bukan sekali dua kali Sir Edmund mencoba merealisasikan ekspektasi orang-orang itu, tapi berkali-kali. Dan berkali-kali pula ia gagal. Hingga suatu ketika Sir Edmund memutuskan berhenti. Sejenak, hanya sejenak. Meminta waktu untuk sendiri. Menatap seluruh sisi Mount Everest dengan mata batinnya. Menyusun ulang bangunan keyakinannya yang sempat roboh. Hingga suatu hari ia kembali tampil, dan menuntaskan obsesi banyak orang yang telah sempat ia mulai. Dan ternyata, ia berhasil…

Seperti juga kita. Terkadang kita perlu untuk mengatakan kepada orang lain, “biarkan aku sendiri sejenak”. Untuk melihat seluruh tantangan dan persoalan ekspektasi banyak orang itu dari setiap sisi. Membuka mata batin kita untuk menatap sejengkal demi sejengkal langkah yang harus kita tapak. Menyusun ulang bangunan keyakinan kita yang mungkin tak pernah utuh. Agar esok kita dapat hadir di tengah-tengah mereka, dan menuntaskan tugas itu dengan penuh optimisme. Sukses dan tidaknya itu bukanlah soal. Orang-orang hanya ingin melihat bahwa kita telah menuntaskan obsesi itu dengan sungguh-sungguh.

Seperti juga aku. Di tengah kesendirianku menatap seluruh persoalan obsesi ini dari segala sisi. Di tengah upayaku untuk menyempurnakan bangunan keyakinan yang tak pernah utuh ini. Akhirnya aku sampai pada sebuah kesimpulan: “Jika aku tak mencobanya, maka aku tak akan pernah tahu kemampuanku yang sesungguhnya”. Berhasil atau tidak sama sekali bukan urusanku. Aku hanya perlu meneguhkan keyakinan, membakar keberanian, lalu memulai langkah pertama dari seribu langkah, atau bahkan sejuta langkah yang harus ku tapak untuk menuntaskannya. Dan langkah itu di mulai saat ini, di sini, dalam detik yang takkan pernah kembali ini.

Sahabat, ketika obsesi itu telah membelit dan merangkai berjuta persoalan. Berhentilah sejenak. Berhentilah untuk meminta waktu sendiri. Hanya sejenak. Menatap seluruh persoalan itu dengan mata hati. Hingga engkau melihatnya menjadi kumpulan persoalan yang begitu kecil. Bahkan sangat kecil, dibandingkan potensi kita yang raksasa. Lalu putuskanlah untuk memulainya. Memulai pekerjaan obsesi itu hingga tuntas…

Read More ..

KADANG, KITA PERLU MENATA ULANG

Sahabat,
Tidak selalu perjalanan hidup kita berada di jalur yang benar-benar persis seperti yang kita rencanakan. Selalu saja ada ruang penyimpangan. Bahakan distorsi itu terkadang sangat jauh dan bertolak belakang dengan apa yang sudah direncanakan. Seperti itulah hidup kawan, tidak selalu lurus dalam rel yang tepat…

Ibarat dalam sebuah perjalanan panjang. Ketika diawalnya perbekalan telah disiapkan. Rute perjalanan telah diuraikan. Besarnya biaya telah disisihkan. Peta penunjuk jalan pun bahkan sudah ditetapkan. Skenario perjalanan telah cukup sempurna untuk dilaksanakan.
Namun disepanjang perjalanan selalu muncul banyak godaan. Ada kalanya godaan itu untuk mendukung lancarnya perjalanan, seperti berhenti sejenak untuk mengobati dahaga dan kelelahan. Tapi tak jarang godaan itu justeru membuat kita lupa pada tujuan. Bahkan mungkin, tanpa sadar kita telah kembali ke titik nol. Titik dari mana kita memulai perjalanan…

Sahabat, begitupun hidup kita…
Terkadang perencanaan karir telah begitu matang. Rencana keluarga telah begitu sempurna. Desain-desain masa depan telah sangat jelas dalam benak kita. Bahkan keseluruhan rencana hidup kita telah dituliskan dalam sebuah master plan. Tetapi tetap saja selalu muncul godaan…

Kadang godaan itu berupa kemalasan dan menunda-nunda, hanya karena kita merasa bahwa usia kita masih cukup muda. Masih banyak waktu yang tersisa untuk menyelesaikan proyek-proyek masa depan kita…

Kadang godaan itu berupa apresiasi kesenangan jiwa, sebab kita memilki terlalu banyak keinginan dalam hidup ini. Akhirnya kita tidak pernah fokus dan terarah…

Terkadang pula godaan itu berupa obsesi jangka pendek. Ketika kita melihat gemerlap sebuah pekerjaan yang dapat diraih dengan cara mudah, simple dan tanpa kerja keras. Maka dari sinilah kita mulai berpaling dari tujuan hidup yang masih sangat jauh dan butuh perjuangan…

Dan tak jarang godaan itu berupa keputus-asaan dan keinginan untuk berhenti. Godaan berat ini lahir dari ketidak-PD-an kita membwa obsesi-obsesi besar dengan kapasitas yang kita miliki…

Sahabat,
Apa pun godaan yang mendatangi kita, semuanya berpotensi merusak seluruh perencaan hidup yang telah kita buat. Dan terkadang ada saja orang yang ketika telah tersadar dan menemukan dirinya telah jauh terpental dari rel perencanaanya, maka ia pun putus asa. Mengutuk diri dan mengobarkan kebencian pada dunia…

Sahabat, mungkin tidak harus seperti itu…
Penakluk gunung Everest yang tertinggi di dunia bukanlah dilihat dari kumpulan kegagalannya. Tetapi pada semangatnya yang tak pernah padam untuk menaklukan Everest setiap saat. Kegagalan adalah tangga-tangga kesuksesannya. Dan pantang menyerah adalah energy pendorongnya…

Nah, sahabat…
Berikanlah ruang kemungkinan semacam itu dalam setiap perencanaan hidup kita. Dan oleh karenanya ketika saat itu datang, maka yang perlu kita lakukan hanyalah menata ulang kembali rencana hidup kita. Melakukan redesign terhadap obsesi-obsesi kita, sesuai dengan kapasitas dan realitas diri kita saat ini…
Read More ..

Friday, March 20, 2009

HIDUP TAK BOLEH BERHENTI

Sahabat, terkadang badai ujian datang menerjang hidup kita. Memporak-porandakan bangunan cita-cita yang sudah lama kita pelihara. Bahkan tak jarang mencerabut harapan dan asa yang susah payah kita tanam. Kemudian tak jarang kita mendapati kenyataan bahwa tak seorang pun yang bersedia mengulurkan tangannya di saat itu. Bahkan sebagiannya menertawai nasib buruk yang menimpa kita. Dunia menjadi senyap seketika, menampilkan wajah beringas dan kejamnya untuk kita. ..

Saat itulah jiwa seperti terpenjara, kaki terbelenggu untuk melangkah, bahkan juga pikiran terasa beku untuk berfikir dan menarik ibrah. Semuanya tampak kejam. Lalu hati kecil kita mulai berteriak mencari keadilan. Dan saat keadilan itu tak kunjung tiba, maka kita pun su’udzon terhadap Allah, juga terhadap hidup yang diciptakannya. Bahkan, dinding-dinding kamar pun serasa menertawai kita.

Sahabat, hidup tak boleh berhenti. Sekelam apa pun hidup kita saat ini. Sepekat apa pun badai ujian yang menghampiri. Hidup tak boleh berhenti. Seperti air, tak pernah berhenti mengalir menuju tujuan akhir bernama samudra. Dan ketika hambatan-hambatan datang menutupi alirannya, ia akan mencari setiap celah yang dapat dilaluinya. Bahkan ketika celah itu pun tak kunjung tiba, ia akan meresap ke dalam tanah…

Tapi itu bukan akhirnya. Ia terus mengalir di dalamnya. Menari-nari bersama akar-akar pohon yang kemudian menariknya. Menguap dalam panas mentari yang mengangkatnya ke angkasa. Menjadi gumpalan awan yang bergulung-gulung dan menghitam. Lalu kembali ke bumi dalam iringan indah gemuruh petir yang membahana. Mejadi hujan yang menghidupkan, lalu mengalir kembali menuju tujuan akhirnya, samudra…

Sahabat, begitupun kita, tak boleh berhenti oleh ujian yang menutupi jalan-jalan kesuksesan kita. Kita tak boleh menyerah hanya kerena celah dan peluang yang tak kunjung tiba. Sebab selalu ada jalan untuk kita,meski jalan itu terkadang mengoyak-oyak harga diri dan ego kita. Tapi itulah hidup, kawan! Sebuah mozaik yang indah dan terus mengalir. Setiap kejadian di dalamnya adalah syair-syair yang menambah keindahnnya. Dan setiap kita, adalah bagian penting yang sengaja diciptakan untuk melengkapi kesempurnaanya. Sebab Allah menciptakan setiap kita, pasti ada tujuannya….

Read More ..

Monday, March 02, 2009

MOHON MAAF, FOKUS DIALIHKAN DULU...

Assalamau Alaikum,

Dear sahabat saya dimanapun Anda berada,
dengan berat hati harus saya sampaikan bahwa untuk sementara waktu tradisi mengunduh postingan-postingan terbaru inspirasi bang Irwan untuk sementara sedikit macet, sehubungan dengan bertambahnya tugas dan amanah-amanah baru yang juga membutuhkan fokus yang tak kalah pentingnya. Tentu saja tak akan mempengaruhi kehidupan Anda sekalian, sebab inspirasi bang Irwan ini hanyalah percikan-percikan pikiran saya setiap harinya dengan sudut pandang yang lebih sering kabur dari pada jelasnya. Heheheheeh...

Oleh karena itu, jika diantara sahabat-sahabatku ada yg nitip pesan-pesan di shoutbox dan tidak kunjung dapat balasan, itu pertanda saya memang belum melihat pesan Anda (jadi bukan karena sombong gitu lho...). Tapi percayalah, bukan berarti tradisi menulis itu hilang sama sekali. Ditengah padatnya aktifitas, saya tetap berusaha menulis catatan-catatan kecil tentang 'leadership' yang merupakan (cita-cita saya) embrio sebuah buku. Dan mudah-mudahan tahun ini buku itu (sekali lagi yang dicita-citakan) dapat direlease. Amiiiinnnn....

But whatever, tetap saja blog ini adalah wadah pikiranku yang ku sayangi. Ide-ide, inspirasi, keluh kesah, kutumpahkan disini. Sebab tradisi ini adalah tradisi orang-orang besar dalam sejarah manusia. Read More ..

Thursday, February 19, 2009

RAHASIA PENGUKIR SEJARAH

Perlahan tapi pasti, aku pun mulai menyadari. Mengapa ‘taste’ setiap perkataan orang itu berbeda. Mengapa energi setiap nasehat itu berbeda. Mengapa ‘driving force’ setiap arahan itu berbeda. Sama seperti perbedaan energi motivasi setiap buku yang kita baca. Sama seperti perbedaan pengaruh berbagai pelatihan dan workshop yang kita hadiri. Seperti juga perbedaan kekuatan taujihat antara seorang ustadz dengan asatidz yang lainnya pun selalu berbeda. Karena rahasianya ada pada jiwa sumber idenya. Sebuah kekuatan jiwa yang bernama OBSESI.

Obsesi itulah yang memberikan kekuatan pada kata. Obsesi itu pulalah yang memberi energi pada setiap ide. Sebab obsesi itulah yang memberi daya dan kekuatan pada hidup seseorang. Mungkin itulah sebabnya, petuah-petuah sebagian besar guru yang mengajari kita tentang banyak hal di dunia pendidikan hanya sampai difikiran kita, dan jarang sekali yang mampu membakar jiwa kita. Sebab ide-ide dan gagasan yang meluncur dari mulut mereka sebatas ilmu dan pengetahuan yang jauh dari energi obsesi. Hanya sekedar formalitas kata yang lahir dari pengetahuan dan bukan dari keyakinan yang dalam.

Marilah meneliti kembali hari-hari kita, siapa sajakah orang-orang yang telah memberikan pengaruh kuat dalam kehidupan kita itu. Jujur, bagiku mereka yang mempengaruhi dan membentuk sebagian besar pandanganku tentang hidup ini adalah orang-orang yang obsesif. Orang-orang yang memiliki pemikiran obsesif. Orang-orang yang memiliki kata-kata obsesif. Orang-orang menampilkan setiap sisi hidup mereka dengan sikap dan perilaku yang obsesif.

Dan dengan membaca sejarah pula kita akan menemukan kenyataan bahwa para pengukir-pengukir sejarah itu selalu orang-orang yang obsesif. Mereka dikenal karena karyanya. Akan tetapi karya-karya besar mereka itu diawali dengan obsesi. Dunia mengenal para pahlawan Islam karena obsesi kejayaan mereka. Dunia mengenal Al-Banna karena obsesi peradabannya. Dunia mengenal Gajah Mada karena obsesi nusantaranya. Dunia mengenal Bung Karno karena obsesi revolusinya. Dunia mengenal Ghandi karena obsesi kesederhanaanya. Dan setiap pahlawan di muka bumi ini dikenang karena satu obsesi mereka.

Maka sejenak mari bertanya pada diri-diri kita. Apakah kata-kata kita itu telah menggedor-gedor semangat orang yang mendengarnya? Apakah ide-ide kita itu telah membakar jiwa-jiwa mereka yang membacanya? Apakah untaian nasihat kita itu telah menundukkan kesombongan logika para penyimaknya? Apakah motivasi kita itu mampu mencengkram kuat kehendak setiap orang yang merasainya, lalu memberikan energi besar untuk meledakkan potensi kemanusiaannya yang luar biasa? Tak ada salahnya kita bertanya…

Dan jika ternyata sebagian besar jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu adalah kata TIDAK, maka kita perlu curiga pada diri kita. Jangan-jangan kita ini hanyalah orang-orang hidup yang tak pernah memiliki obsesi. Ataukah kita telah memiliki obsesi tapi obsesi itu masih terlalu rendah untuk menjadi energi hidup yang tak ada batasnya. Atau jangan-jangan kita termasuk para pemimpi orang yang salah kaprah tentang obsesi. Kita mengira mimpi-mimpi kita itulah obsesi. Padahal mimpi adanya di alam dikepala, sementara obsesi itu telah berbentuk di alam jiwa.

Read More ..