Thursday, April 16, 2009

SAHABATKU, MENGAPA KAU LACURKAN NURANIMU?

Ustadz paruh baya itu duduk termenung. Matanya merah dan berkaca-kaca. Ia hampir tak percaya pada hasil suaranya di beberapa TPS yang merupakan tempat pemilihan beberapa majelis ta’lim yang dibinanya lima tahun terakhir. Dibandingkan jumlah anggota majelis ta’limnya yang memilih di setiap TPS itu, suaranya terlalu kecil, bahkan boleh dibilang nihil. Bukan karena suaranya yang kecil itu yang membuat sang Ustadz sedih. Toh sejak awalnya dia memang menolak untuk dicalegkan. Dia lebih memilih mengabdi untuk ummat. Yang membuat hatinya gundah adalah kenyataan bahwa anggota majelis ta’lim yang selama ini dengan sabar ia bina itu telah ‘melacurkan’ nuraninya dengan fulush sepuluh ribu rupiah. Sang ustadz merasa gagal…


Di tempat yang lain, seorang bapak paruh baya yang juga caleg tersenyum geleng-geleng kepala. Di sebuah TPS tempat beberapa karyawannya memilih suaranya sama sekali tidak ada. Padahal, semua orang tahu bagaimana si bapak sejak dulu telah dengan ikhlas menolong keluarga para karyawannya itu setiap mereka membutuhkan bantuan. Bahkan anak-anak mereka diberikan pekerjaan, dihidupi, bahkan ada yang dikuliahkan. Si bapak tidak ingin merusak niat tulusnya untuk membantu, dengan mengait-ngaitkannya dengan pilihan mereka pada pemilu. Yang membuatnya tersenyum sambil geleng-geleng kepala adalah, mengapa mereka yang telah dia anggap sebagai sahabatnya itu rela ‘melacurkan’ nuraninya hanya untuk dua liter beras dan sekilo gula? Gila!

Sahabat, itulah potret sebagian besar masyarakat kita pada pemilu yang lalu. Gila! Nurani mereka telah ditanggalkan, dibungkus rapi, lalu dibuang ke tong sampah. Mungkin sebagian kita mengira perilaku itu adalah keterdesakan ekonomi? Bukan! Bukan keterdesakan ekonomi. Sebab sebagian mereka itu adalah masyarakat yang berkecukupan. Perilaku itu adalah karakter. Seperti seorang anak orang kaya yang melacurkan dirinya di kalangan eksekutif muda. Bukan karena kekurangan uang itu lalu ia melacurkan diri. Tetapi karakter. Seperti juga seorang anak pejabat yang suka mencuri barang orang lain. Bukan karena orang tuanya tak pernah memberi uang padanya. Tetapi sekali lagi, itu adalah karakter. Seperti itu pulalah masyarakat kita. Bukan karena mereka begitu kelaparannya sehingga melacurkan suaranya dengan sepuluh ribu rupiah. Bukan! Sebab uang sejumlah itu hanya cukup untuk membeli beberapa batang rokok. Persoalannya adalah karakter. Karakter ‘pelacur nurani’..

Sahabat, saya jadi teringat firman Allah dalam Al-Qur’an: ‘sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kamu, hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka”.
Astagfirullah… mungkinkah perilaku masyarakat kita ini adalah potret dari para pemimpin yang akan memimpin bangsa kita 5 tahun yang akan datang? Jika masyarakat kita hari ini telah melacurkan nuraninya, boleh jadi para pememimpin kita nanti adalah para ‘germo’? Ya… germo yang menjadi makelar proyek-proyek untuk rakyat yang diobral kepada para pengusaha dan para taipan?

Sahabat, jangan salahkan aku jika menangis…
Sebab tangisan itu adalah ekspresi cinta pada ummat yang saat ini tengah membawa dirinya ke dalam jurang kerusakan. Aku hanya bisa berdo’a dalam diam: “ya Allah, segeralah hadirkan bagi ummat ini generasi pengganti! Sebuah generasi yang Kau cintai dan mereka pun mencintaimu. Generasi yang telah Kau janjikan dalam bait-bait firman Mu. Generasi yang akan menegakkan supremasi dan keadilan Mu. Generasi Rabbani yang akan memakmurkan bumi Mu… Amin!"

8 comments:

Umi Rina said...

Sabar dan ikhlas insya Allah bisa menjadi jawaban dari cobaan itu. Kecewa memang tidak bisa dipungkiri, namun usaha yang sudah ditunaikan biarlah kehendaNya kini yang berjalan...

Bang Irwan said...

Saya kira letak persoalannya bukan pada kesabaran & keikhlasan mba Rin. Tapi lebih pada kesedihan atas situasi masyarakat kita telah kehilangan pegangan. Jika situasio ini tidak berubah, nasib bangsa kita jg tdk akan berubah. itulah sunnatullahnya, dan disitulah letak persoalannya. Dan perubahan itu harusnya dimulai dari diri kita semua....

Mentari said...

makanya suka sebbel ma masyarakat yang suka protes ma kebijakan ma pimpinan, lha!! bukannya mereka yang milih?? trus napa tereak?? ya nikmati saja...mau pemimpin yang adil jujur dan bijaksana tapi milih aza pake mo disogok, itu gak ada bedanya...kalo boleh pemimpin juga punya hak untuk meminta rakyat adil, jujur dan bijaksana..HUH! Ribet amat sih ni negeri! gak rugi deh gw gak dianggap dan gak dikasih hak pilih..jd gak ikut merasa bersalah :p

Bang Irwan said...

Gak bisa gitu juga dong Tari...
Sebenarnya kalo mau jujur, kita semua telah berkontribusi dalam menciptakan situasi ini...

Yang milih ato pun enggak, semuanya berkontribusi. Yang milih, pilihannya buruk. Yang gak milih, gak milih org2 bae'. Jadi sama aja...

ADE NURHIKMAH said...

SETIAP KITA PUNYA TANGGUNG JAWAB DENGAN KONDISI MASYARAKAT...
BERAWAL DR TETANGGA YANG MUNGKIN SLAMA INI CUMA SEKEDAR SAY HELO,
MEREKA HARUS PUNYA PERSEPSI YG SAMA UNTUK MEMPERBAIKI UMMAT SECARA UTUH

Bang Irwan said...

Saya setuju mba Ade! Persoalan terberatnya disitu, bagaimana melakukan massifikasi ide secara intensif dan luas. Oleh karena itu butuh orang2 yg mau komitmen dulu, spt mba' Ade ini... :D

andi has said...

di tempat lain, di sebuah pelosok desa, seorang anak muda tertegun, bukan menyesali dirinya menerima amanah jadi caleg tapi sedih memikirkan kerabat, sahabat dan handai taulannya yang selama ini bertahun-tahun hidup se-lingkungan dengannya....akankah nilai kemanusiaan terkikis tatkala mendengar perolehan suaranya di salah satu TPS yang nota bene adalah TPS yang berdiri di kampungnya sendiri, anak muda itu hanya sempat tersenyum, perolehan suaranya cuma 2, beruntung masih ada yang tidak tersentuh dengan tsunami money politic. sungguh ironi...

Bang Irwan said...

@ Andi Has
Kasianmu itu de'! jangan2 semua TPS kau bernasib demikian... hahahhahaha....

Ishbiirr ya syaikh!!!

Post a Comment