BANGKIT!

Diposkan oleh Bang Irwan

Malu rasanya, pada diri, pada sahabat, pada para pencinta, juga pada sang guru, Muhammad Iqbal, ketika ia menyampaikan pesan:

Aku harapkan pemuda inilah yang akan sanggup
membangunkan zaman yang baru
memperbaru kekuatan iman
menjalankan pelita hidayat
menyebarkan ajaran khatamul-anbiya’
menancapkan di tengah medan pokok ajaran Ibrahim
Api ini akan hidup kembali dan membakar




Ketika sesekali kubuka blog INSPIRASI-ku dan kembali kutemukan halaman-halaman buram disana. Hanya untuk segores ide, pun tak lagi mampu ku toreh dalam paragraph-paragraf singkat, dan bait-bait yang biasa. Atas nama kesibukan dan tugas-tugas penting yang terkadang tak penting benar. Telah kutinggalkan tradisi itu, tradisi para pengukir sejarah, tradisi para ulama, tradisi para pemimpin besar, tradisi para pahlawan. Sekali lagi, atas nama kesibukan dan pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk, dalam samudra waktu yang sesungguhnya terlalu luas untuk diarungi seluruhnya…

Aku kecewa pada diriku. Meski sang guru, jua membujuk jiwa yang nelangsa…

jangan mengeluh jua , hai orang yang mengadu
Jangan putus asa , melihat lengang kebunmu
Cahaya pagi telah terhampar bersih
Dan kembang-kembang telah menyebar harum narwastu


Ya, setidaknya obsesi untuk bertumbuh tak pernah padam disini, di dada ini. Seperti pohon, engkau melihat ranting-rantingnya patah dan terkubur oleh tanah. Tetapi akarnya, terus menghunjam ke dalam bumi, bermandi lumpur dan menembus cadas di dalamnya. Hanya untuk memastikan, bahwa kelak, ketika obsesi itu telah berbuah, topan dan badai tidak akan cukup untuk mencerabutnya dari akar cita-cita yang mulia…

Khilafatul-Ard akan diserahkan kembali ke tanganmu
Bersedialah dari sekarang
Tegaklah untuk menetapkan engkau ada
Denganmulah Nur Tauhid akan disempurnakan kembali
Engkaulah minyak atar itu , meskipun masih tersimpan dalam
kuntum yang akan mekar

Seperti itulah sang guru, membujuk jiwa-jiwa kami. Membangkitkan semangat yang jatuh bangun tergerus kemewahan dan maksiat. Membesarkan kembali asa yang telah kerdil oleh ketajaman lidah para pencela, atas nama idealisme. Menyiram kembali motivasi yang hampir mati. Menariknya dari kubangan kesia-siaan dan tipuan kenyamanan. Seolah ia ada disini, dan menepuk-nepuk pundak ini, lalu berkata…

Tegaklah, dan pikullah amanat ini atas pundakmu
Hembuslah panas nafasmu di atas kebun ini
Agar harum-harum narwastu meliputi segala
Dan janganlah dipilih hidup ini bagai nyanyian ombak
hanya berbunyi ketika terhempas di pantai
Tetapi jadilah kamu air-bah , mengubah dunia dengan amalmu

Kipaskan sayap mu di seluruh ufuk
Sinarilah zaman dengan nur imanmu
Kirimkan cahaya dengan kuat yakinmu
Patrikan segala dengan nama Muhammad


Maka aku kan bangkit, Guru. Mencoba menapak sejengkal demi sejengkal jejak ajaranmu. Meraih kembali kehormatan itu, keterhormatan sebagai manusia atas makhluk-Nya….


Sudahkah engkau hapuskan sketsa harapan dari kanvas jiwamu? Dari debu-debu kegelapanmu sendiri cahaya akan bersinar.

Pengetahuan manusia akan mendesak menguasai angkasa, cintanya akan mengaku Yang Tak Terhingga.

Dengan mata yang lebih terjaga ketimbang milik jibril, ia akan menemukan jalan meski tanpa bimbingan.

Terbentuk dari lempung, manusia akan membumbung seperti malaikat hingga langit menjadi kedai minuman tua di pinggir jalan-jalan yang ditempuhnya.

Kubah-kubah langit kan ditembusnya bagai jarum menusuk sutra.
Dan ia akan mencuci kehidupan dari segala nodanya.

Tatapan matanya akan membuat suram kabut bumi cerah berseri.
Meski hanya sedikit berdoa dan banyak menumpahkan darah, namun dia tetap melaju selamanya.

Dari semesta ia akan belajar memahami sifat-sifat sang wujud, “Siapa yang tenggelam dalam pesona kecantikan Tuhan, maka ia akan menjadi raja segenap makhluk ciptaan.”

Readmore »»

KEBUN MIMPI

Diposkan oleh Bang Irwan

Sahabat,

Aku telah memimpikannya. Engkau telah memimpikannya. Dan mereka juga telah memimpikannya. Ya, mimpi tentang kebun-kebun indah di lahan kehidupan kita masing-masing. Aroma dan simfoni keindahanya pun begitu jelas dan terasa. Tapi, sepertinya ada yang salah. Ya, rasa-rasanya ada yang salah. Sebab tidak semua kebun-kebun itu menumbuhkan tanaman yang seharusnya. Sebagian dari kebun-kebun kehidupan yang kita impikan itu jutru dipenuhi rumput dan semak belukar. Bahkan tak jarang tanaman yang kita impi-impikan justru layu dan akhirnya mati…

Sahabat,

Seperti itulah fakta kehidupan. Telah begitu banyak mimpi-mimpi luar biasa yang telah kita ciptakan. Dan sebnyak itu pulalah mimpi-mimpi yang berhasil kita kuburkan. Telah begitu banyak habit dan bibit karakter yang kita tanam, namun justru habit-habit liar dan karakter-karakter lain yang tumbuh subur dalam kepribadian kita. Ada apa? Apa yang salah dengan semua mimpi-mimpi obsesif dan luar biasa itu? Apa yang keliru dari bibit habit dan karakter yang telah kita mulai tanam itu?


Sahabat,

Seorang tukang kebun bijaksana pernah menasehati. Bahwa sebagian besar tukang kebun yang kurang berhasil itu bukan karena kesalahan mimpinya atau pun kekeliruan dalam memilih bibit-bibitnya. Tetapi karena mereka gagal dalam memeliharanya. Seperti itulah sebagian besar kita dengan mimpi-mimpi luar biasa itu. Kita berpikir, jika bibit mimpi telah ditancapkan maka waktulah yang akan bekerja membesarkannya. Anda salah! Justru setelah kita menanam, pekerjaan yang paling lama dan membutuhkan kesungguhan kita adalah pemeliharaan…

Jika waktu itu ibarat air, dan setiap menit dari waktu kita itu adalah setetes air. Maka berapa teteskah dari air itu yang kita siramkan kepada bibit-bibit mimpi yang kita tanam itu setiap harinya? Disnilah jawabannya, sobat! Sebagian orang yang gagal mewujudkan mimpi-mimpinya itu hanya memberikan setetes dua tetes air dalam sehari. Sementara sebagian besar waktunya yang lain digunakan untuk tidur, bersenda gurau, bermain, ber-face book ria, dan berbuat sia-sia.

Tetapi orang-orang sukses, mereka sungguh berbeda. Sebagian besar tetes-tetes air yang mereka miliki digunakan untuk menyiram seluruh bibit mimpi mereka. Mereka bekerja lebih tekun dari orang biasa. Mereka bekerja lebih keras dari orang biasa. Dan mereka bekerja lebih lama dari orang biasa. Bukan sembarang bekerja, tetapi pekerjaan untuk merawat dan menumbuhkan mimpi mereka.

Sahabat,

Sekarang mari bertanya, jenis tukang kebun yang manakah kita? Ya, jawaban kita itulah yang juga menjawab mengapa mimpi-mimpi sebagian besar kita terwujud atau tertunda. Kita lupa untuk focus merawatnya, kawan! Bahkan seringkali kita lebih suka menggerutu pada rumput dan ilalang yang tumbuh disekitar tanaman mimpi kita. Kita lebih sering marah pada hambatan dan tantangan yang hinggap pada cita-cita kita. Bahkan kita lebih sering kecewa pada kegagalan demi kegagalan yang menghampiri obsesi-obsesi kita. Padahal, seandainya kita mau untuk fokus pada tanaman mimpi itu saja. Menyiraminya dengan tetes-tetas air yang cukup hanya pada tanaman mimpi itu saja, maka dengan sendirinya rumput dan ilalang yang ada disekitanya akan kering dan mati.

Sahabat,

Mungkin kita harus berubah! Mungkin saatnya kita mesti berbenah! Menata ulang setiap detik waktu yang hadir dalam kehidupan kita, agar ia dapat menjadi tetes-tetes air yang dapat menumbuhkan semua mimpi dan obsesi-obsesi kita.

Sahabat,

Kita tidak tahu seberapa luas lagi lahan kehidupan untuk kita. Maka mulailah bekerja sobat! Wakuli’malu fasayarallahu ‘amalakum, wa rasuluhu wal mu’minuun…

Readmore »»

LAHAN KEHIDUPAN

Diposkan oleh Bang Irwan

Sahabat,

Terkadang saya membayangkan kehidupan ini seperti sebuah lahan yang sangat luas. Dan setiap orang memiliki lahannya sendiri. Ada orang lahannya menjadi hutan lebat yang ditumbuhi berbagai pohon liar dan didalamnya hidup berbagai hewan buas yang tak dapat ia jinakkan. Namun ada pula orang yang lahannya menjadi sebuah kebun yang indah. Di dalam kebun itu tumbuh dengan teratur berbagai jenis tanaman yang dapat memberi manfaat. Setiap jenis tanaman ditata sedemikan rupa hingga kebun itu menjadi indah dan memiliki estetika bernilai tinggi.

Sahabat,

Seperti itulah saya membayangkan perbedaan kehidupan setiap manusia. Mereka yang menjalani kehidupan ini tanpa visi dan perencanaan ibarat orang yang tidak merencanakan lahannya. Berbagai tanaman tumbuh disana. Tak ada keteraturan. Hidupnya mengalir mengikuti arus waktu. Hingga suatu ketika, saat usianya telah senja barulah mereka menyadari bahwa lahan kehidupan mereka telah menjadi hutan belantara. Lalu ia hanya bisa menyesali masa mudanya yang tak pernah memiliki arah. Itulah kehidupan yang tidak direncanakan, mereka tak pernah menuai apa-apa…


Lalu sebagian kecil orang yang memiliki mimpi dan perencanaan, mereka itulah para pemilik kebun. Seluruh waktu dalam hidupnya digunakan untuk menanam, memelihara dan menuai. Ketika lahan kehidupan diberikan kepadanya, maka tergambarlah dalam mimpi dan pikirannya sebuah master plan kebun yang luar biasa. Mereka membayangkan jenis tanaman apa saja yang akan tumbuh disana. Mereka juga membayangkan manfaat apa saja yang akan dituai nantinya. Seperti itulah, waktu terus berlalu. Dan mereka terus menanam, memelihara hingga pada akhirnya menuai manfaat yang luar biasa. Dan di usia senja, mereka tersenyum bahagia…

Sahabat,

Seperti apakah wajah lahan kehidupan kita saat ini? Jika sekiranya kita mendapati lahan kehidupan kita itu sebentar lagi menjadi hutan belantara, maka segeralah berbenah. Semuanya masih bisa kita ubah. Kita hanya perlu memulainya dengan sebuah mimpi. Mimpi tentang kebun seperti apa yang ingin kita tumbuhkan di lahan kita itu. Lalu lanjutkanlah dengan perencanaan. Perencanaan tentang jenis tumbuhan apa yang akan kita tanam di lahan kita itu. Kemudian jangan menunggu esok! Setelah kita membabat habis seluruh rumput dan pepohonan liar yang tumbuh di dalamnya, maka mulailah MENANAM. Ya, menanam sebanyak mungkin investasi positif dalam hidup kita. Setelah itu kita tinggal merawatnya, menyiraminya, menyianginya, memberi pupuk, dan tunggulah masanya untuk kita menuai manfaat yang luar biasa…

Sahabat,

Itulah seni kehidupan. Semua tergantung pada cara kita mengelolanya. Maka mulailah dengan keberanian untuk bermimpi, sobat! Keberanian untuk melihat kehidupan kita jauh di masa depan. Dan buatlah mimpi itu menjadi jelas sejela-jelasnya. Bahkan hingga kau mampu merasakan aroma dan simfoni keindahannya. Rasakan… dan simpanlah dalam hati dan pikiranmu, dalam setiap tarikan nafasmu, dalam setiap detak jantungmu, dalam aliran darah di nadimu, dan dalam derap langkah kakimu untuk meraihnya. Fa idzaa ‘azzamta, fatawakkal ‘alallah…

Readmore »»

My July, Bad Spirit...

Diposkan oleh Bang Irwan

Gak terasa sudah di penghujung bulan Juli. Sedih juga melihat wajah blog ku ini. Tidak ada postingan sama sekali untuk bulan Juli. Fiuh… masa-masa yang gak produktif! Kesibukan bisa saja menjadi alasan: pilpreslah, urusan menjelang kelahiran anaklah, many things and many reasons… Tapi ‘excuse’ itu bukan aku banget. Intinya sih lagi gak ada ide. Ato mungkin pernah sempat ada, tapi semangat yang lagi padam… huhu…

Never mind! Setidaknya aku masih menyadari jika sebulan ini aku tidak produktif. So, segera harus bangkit dan berbenah. Paling tidak, selain untuk diriku, beberapa pengunjung setia blog ini juga harus mendapatkan hak-haknya. Setidaknya aku tidak dituduh telah meninggalkan tradisi menulisku. Yah…penulis kelas cemen untuk ukuran kampoang… hehhehe….


Sahabat, begitulah hidup…

Meskipun kita telah memiliki arah berupa mimpi, cita-cita dan obsesi, namun kita tidak akan pernah sampai kesana tanpa energi. Energi itulah yang menggerakkan kita. Energi itulah yang mendorong kita. Energi itu, adalah MOTIVASI…

Tetapi, motivasi itu seperti iman, yazidu wa yankuz, naik dan turun. Kadang kita mendapati diri ini ‘On Fire’, hingga raga kita tak lagi mampu mengikuti kehendak jiwa. Namun tak jarang sebaliknya, raga ini tak berdaya oleh jiwa kita yang sedang ringkih. Keduanya silih berganti menguasai diri.
Sahabat,

Tak ada yang salah pada kenyataan seperti itu. Sungguh manusiawi. Bahkan sangat manusiawi. Tapi manusia yang smart adalah mereka yang mampu mengelalola fakta manusiawi ini dengan baik. Mereka tahu kapan harus bangkit dari keterpurukan motivasi, dan mereka mengerti bagaimana melakukannya. Orang-orang hebat disekitar kita bukanlah manusia yang tak pernah down motivasinya. Tetapi sebagian besar mereka memahami rahasia untuk bangkit dari keterpurukan setelah kejatuhannya…

So… bangkitlah dan terus bergerak!

Readmore »»

PARA PEMBERANI

Diposkan oleh Bang Irwan

Entah apa yang ada dalam benak pasukan muslimin saat itu, ketika sang Jenderal, Thariq bin Ziyad, memerintahkan mereka untuk membakar seluruh kapal yang membawa 7.000 pasukan muslim menginjakkan kakinya di daratan Eropa, Spanyol. Lalu di atas bukit Gibraltar, sambil menghunus pedang sang Jenderal yang baru berusia 25 tahun itu menjawab kebingungan pasukannya: “Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan: menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa! Wahai seluruh pasukan, kalau sudah begini ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian ada laut dan di depan kalian ada musuh. Demi Allah swt., satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan!”.



Terjawab sudah! Terjawab sudah keheranan pasukan pemberani itu! Jiwa mereka menyala, sadar bahwa mereka sedang dipimpin oleh seorang anak muda berhati singa. Seperti kata pepatah arab: “Sepasukan domba yang dipimpin oleh seekor singa akan mengalahkan pasukan singa yang dipimpin seekor domba”. Maka tak sedikitpun rasa takut menyentuh jiwa mereka, ketika 7.000 pasukan kecil muslim harus menghadapi 100.000 tentara Raja Roderick yang memerintah Spanyol. Sebuah perbandingan pasukan yang tidak berimbang. Hanya saja, 100.000 tentara Spanyol itu tidak sadar jika pasukan kecil yang mereka hadapi ini adalah para pemberani yang dipimpin oleh seorang lelaki berhati singa. Dan Sungai Barbate pun memerah oleh tumpahan darah Raja Roderick dan sebagian besar pasukannya di tangan para pemberani itu…

Sahabat, sesungguhnya sejarah setiap bangsa dimuka bumi ini senantiasa diukir dengan keringat dan darah para pemberani. Mereka hadir dalam kebangkitannya. Mereka hadir dalam kejayaannya. Dan mereka juga hadir dalam kejatuhan dan keruntuhannya. Tidak penting benar pada masa apa mereka hadir. Bagi mereka, keberanian itu adalah keterhormatan yang ditakdirkan hadir dalam persitiwa-peristiwanya sendiri…

Seperti itulah, bangsa Inggris mengenang Ratu Elizabeth I sebagai seorang pemberani. Usianya yang masih muda (25 tahun) tidak menghalangi keberaniannya melawan sekaligus menghancurkan armada laut terkuat di dunia, The Invincible Armada Imperium Spanyol. Bahkan masa kepemimpinannya dianggap sebagai awal lahirnya Imperium Inggris Raya.

Seperti itu pulalah, bangsa Jepang mengenang Saigo Takamori, The Last Samurai, sebagai seorang ksatria pemberani. Ksatria samurai yang mengakhiri masa kekuasaan para Shogun dan mengawali lahirnya Restorasi Meiji. Sebuah proses reformasi yang membawa Jepang menjadi Negara teknologi terkuat di dunia.

Begitu pun bangsa Amerika mengenang George Washington, bangsa China mengenang Jengis Khan, bangsa India mengenang Gandhi, dan bangsa-bangsa lain mengenang para pemberaninya sendiri-sendiri.

Dan bangsa kita, bangsa yang besar ini, juga diukir oleh darah para pemberani. Bangsa ini bangkit dari kubangan nyawa para pemberani. Bangsa ini tegak dari tetesan keringat dan air mata para pemberani. Keteguhan hati Diponegoro, ketajaman mata Hasanuddin, kebeningan jiwa Cokroaminoto, kecerdasan Soedirman, semangat baja Soekarno, dan jiwa menyala para aktivis mahasiswa. Dan masih terlalu banyak manusia-manusia pemberani yang menghiasi lembar-lembar sejarah bangsa kita. Sebagiannya terekam dalam tinta, tetapi jauh lebih banyak lagi yang kisahnya hilang bersama tiupan angin senja. Seperti dedaunan yang jatuh memberi kesuburan pada tanah, memberi kita hidup, dan kita tak pernah tahu berapa jumlahnya serta dari pohon manakah asal mereka…

Sahabat, keberanian itu adalah energi jiwa. Ia dapat dimiliki oleh siapa saja yang memutuskan untuk memilikinya. Hanya saja, keberanian itu adalah energi jiwa yang tak punya arah. Dia bisa meledak ke arah mana saja ia dikehendaki oleh pemiliknya. Itulah sebabnya, keberanian Adolf Hitler digunakan untuk membantai 30 juta manusia. Keberanian Jengis Khan dipakai untuk mengancurkan peradaban-peradaban lain di seluruh dunia. Namun keberanian itu pulalah yang menggerakkan Nelson Mandela untuk mendapatkan hak-hak azasi bangsa dan rasnya, bahkan lebih dari itu menjadi inspirator perjuangan HAM jutaan ummat manusia…

Sahabat, negeri kita ini sedang rindu pada kehadiran kembali para pemberani di atas tanahnya. Bangsa kita ini sedang mencari-cari para pemberani untuk menuntunnya keluar dari keterpurukan menuju kebangkitan peradaban. Negara yang kita cintai ini sedang menanti sekelompok manusia-maniusia pemberani yang akan membawa bendera merah putih untuk memimpin dunia. Para pemberani itu, mungkin saja adalah kita wahai sahabat-sahabatku. Karena itu, persiapkanlah dirimu…

Readmore »»

BERJIWA BESAR

Diposkan oleh Bang Irwan

Lelaki itu terus berlari bersama sahabatnya untuk mengindari lemparan batu dan amuk massa. Meski demikian, tetap saja ada puluhan bahkan mungkin ratusan batu sebesar kepalan tangan menerjang mereka, diiring cacian dan hinaan yang merendahkan. Tubuh mereka terluka. Kaki-kaki mereka penuh darah. Bukan hanya Zaid, sang sahabat yang ingin menangis menyaksikan perlakuan Bani Thaif itu kepada Rasulullah, tetapi juga alam semesta. Begitu memilukannya peristiwa itu, hingga malaikat Jibril As datang menghampiri sang Nabi bersama malaikat penjaga gunung. Ekspresi amarah semesta terwakili oleh ucapan sang malaikat: "Perintahkanlah aku! Seandainya engkau menghendaki kedua bukit ini dihimpitkan kepada mereka, niscaya akan aku lakukan dengan segera!".



Tapi Rasulullah menjawab berbeda. Yah, berbeda dari jawaban yang biasanya diberikan oleh manusia pada umumnya. Rasulullah menjawab seluruh hinaan, perlakuan, dan siksaan Bani Thaif itu dengan do’a: "Allahummahdii qawmii fainnahum laa ya'lamuun" (Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku ini, karena mereka masih juga belum faham tentang arti Islam). Bahkan Rasulullah juga mendoakan agar keturunan mereka nanti akan menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukanNya dengan apa pun. Dan benarlah, bertahun-tahun setelahnya para prajurit Islam dari Thaif terkenal dengan keberaniannya di medan-medan jihad menegakkan agama Allah…

Sahabat, seandainya kita adalah manusia yang didzalimi itu. Seandainya kita adalah lelaki yang kehormatannya diinjak-injak oleh kaum itu. Lalu tiba-tiba hadir sebuah kekuatan dan kekuasaan besar yang siap untuk menjalankan apa pun perintah kita sebagai balasannya. Maka hukuman apa yang akan kita berikan kepada mereka?

Sahabat, Sang Rasul mulia Muhammad Saw tengah mengajarkan kita tentang sebuah pelajaran: BERJIWA BESAR! Pelajaran yang tak pernah dapat terangkum dalam berlembar-lembar teori, tetapi pelajaran hidup yang selalu hadir bersama manusia-manusia besar dalam sejarah manusia. Ia tidak akan benar-benar dapat dipahami sampai suatu waktu kehidupan menuntun kita untuk mengalami dan mengambil pilihan-pilihan sulit dalam kehadirannya: menjadi manusia biasa atau manusia dengan kebesaran jiwa…

Kebesaran jiwa inilah yang dimiliki oleh pemimpin besar legendaris kaum muslimin, Umar bin Khattab Ra, saat beliau dengan pundaknya memanggul sendiri sekarung beras pada malam hari kepada rakyatnya yang kelaparan. Atau keridhoan beliau ketika di depan publik harus dikritik oleh seorang perempuan dengan kritikan yang memerahkan telinga. Padahal, beliau adalah seorang pemimpin yang ditangannya Islam berubah secara fenomenal, dari agama yang kecil di kota Mekkah menjadi salah satu kekuatan dunia yang akan segera menyaingi Imperium Romawi dan Persia. Pemimpin besar yang jauh lebih brilliant dari pada Julius Caesar, Charlemagne, bahkan Alexander the Great…

Kebesaran jiwa ini pulalah yang dimiliki oleh seorang jenderal perang sekaliber Salahuddin Al-Ayyubi ketika membebaskan Palestina (Jerusalem) tanpa harus membalas perlakuan yang sama pasukan salib saat menaklukkan Palestina. Seluruh kaum muslimin dibantai, rumah-rumah dan masjid dibakar, perempuan diperkosa dan anak-anak dibunuh didepan orang tua mereka. Sang Jenderal memasuki kota suci dengan penuh kerendahan hati. Rumah-rumah ibadah dibiarkan tegak, para pemeluknya dilindungi, dan para knight of templar dipersilahkan memilih untuk tinggal atau pergi meninggalkan kota suci. Atau ketika sang Jenderal mengirimkan seorang dokter untuk menyembuhkan sakit yang diderita oleh musuhnya dalam perang, Raja Richard ‘The Lion Heart’ dari Inggris. Kebesaran jiwa yang menggetarkan kawan mau pun lawan, membuat sang Jenderal menjadi legenda bagi musuh-musuhnya…

Sahabat, kebesaran jiwa itu adalah pilihan. Ketika godaan amarah untuk membalas, menyiksa dan menjadi superior begitu dekat di depan mata, lalu kita lebih memilih untuk memaafkan, bersabar dan berlapang dada atas segalanya. Kebesaran jiwa itu adalah keteduhan saat segalanya menjadi panas amarah. Kebesaran jiwa itu adalah ketenangan saat semuanya menjadi rumit. Kebesaran jiwa itu adalah saat kekuatan menjadi kasih sayang. Kebesaran jiwa itu adalah saat kekerasan menjadi kelembutan. Tetapi kebesaran jiwa itu bukanlah kelemahan, kekalahan apalagi kepengecutan. Kebesaran jiwa itu adalah perpaduan antara keberanian, kekuatan, kasih sayang dan pemaafan…

Sahabat, mungkin suatu saat kita dihadapkan pada situasi yang sama. Kita mampu untuk marah. Kita bisa untuk menhina. Kita sanggup untuk membalas. Atas nama sakit hati yang tak terperih. Atas nama dendam yang teramat dalam. Atas nama amarah yang membara. Maka saat itulah kebesaran jiwa menemukan ujiannya. Hidup adalah pilihan-pilihan, Kawan. Dan manusia-manusia besar dalam sejarah adalah orang-orang yang ketika hidupnya menemukan pilihan yang sama, mereka memilih untuk berbesar jiwa. Mereka berani, mereka punya kekuatan, mereka juga marah, benci dan dendam, tetapi mereka lebih memilih jalan kasih sayang dan memaafkan. Bagaimana dengan kita?

Readmore »»

NALURI PEMBELAJAR

Diposkan oleh Bang Irwan

Namanya Ziyadah, putri kecilku. Usianya baru 3 tahun lebih. Usia anak yang bagi kebanyakan orang tua paling merepotkan. Betapa tidak, di usia seperti inilah mulai tumbuh jiwa ekplorasi anak-anak untuk mengetahui segala hal. Di alam pikiran mereka selalu hadir banyak tanda tanya tentang lingkungannya. Begitupun Ziyadah, putriku. Karena hampir setiap akhir pekan aku mengajaknya melakukan perjalanan jauh menemui ibunya yang berjarak 200 km dari kota kami dengan berkendaraan mobil, jiwa observasinya pun tumbuh. Awalnya dia ingin tahu bagaimana rasanya menyetir mobil. Ia mulai rewel dan ngotot untuk memegang setir mobil. Akhirnya di track-track lurus aku memberinya kesempatan memegang kendali setir sambil duduk dipangkuanku. Bukan main senangnya Ziyadah…



Tapi dalam perjalanan-perjalanan selanjutnya Ziyadah mulai mencari hal baru. Kali ini dia ngotot ingin mengendalikan perseneling. Setelah sedikit mengajarinya cara menggerakkan perseneling, akhirnya ia pun bisa. Aku tinggal memberi perintah dan Ziyadah menggerakkan persenelingnya. Alangkah senangnya hati putriku. Selanjutnya dia terus belajar hal baru: aturan lampu wesser, menyalakan lampu malam, hingga membersihkan kaca dari air hujan. Tinggal bagaimana menggunakan gas, rem dan kopling saja yang belum dia pelajari. Itu pun karena kakinya memang belum cukup panjang untuk menggunakannya…

Sahabat, sesungguhnya belajar itu adalah dorongan naluriah manusia. Belajar itu adalah fitrah dasar sejak lahir sampai mati. Dengan belajarlah manusia membangun peradabanya. Dengan belajar pulalah manusia menciptakan sejarahnya. Bahkan, dengan belajarlah manusia mencapai kemuliaannya sebagai human being. Status yang membuat kita berbeda dengan binatang dan mahluk lainnya. Tetapi bagaimana menjelaskan kenyataan bahwa sangat banyak manusia yang malas dan enggan untuk belajar?

Sesungguhnya dorongan belajar manusia lahir dari keingintahuan-keingintahuan yang muncul dalam pikirannya. Semakin besar rasa ingin tahu seseorang maka semakin besar pulalah dorongan belajar dalam dirinya. Itulah sebabnya, di usia-usia belia seperti Ziyadah, anak-anak cenderung sangat eksploratif dan ingin tahu banyak hal. Segala cara dilakukan, mulai dari meraba, menggigit, mengulum, menelan, dan mencoba segala sesuatu yang menarik rasa keingintahuannya. Karena berbagai keingintahuan mereka itulah seringkali anak-anak di cap bandel, nakal, atau hyperaktif oleh orang tuanya. Padahal, mereka sedang melakoni proses sebagai human being, manusia yang mulia…

Banyak manusia yang malas untuk belajar, terutama orang dewasa. Ini seiring dengan semakin berkurangnya rasa keingintahuan orang dewasa terhadap berbagai hal disekitarnya. Kadang mereka tidak benar-benar sudah tahu, tetapi lebih karena hambatan-hambatan psikologis manusia, seperti gengsi, takut, malu atau karena kesombongan. Itulah sebabnya Imam Al-Ghazali mengatakan: barang siapa yang merasa dia sudah tahu, maka dialah orang yang paling tidak tahu. Tetapi barang siapa yang selalu merasa belum cukup tahu, maka mereka itulah orang-orang yang pandai.

Sahabat, Allah telah memberikan kita potensi belajar yang luar biasa. Selain dorongan naluri belajar, Allah juga menciptakan OTAK untuk kita. Benda biologis yang diletakkan pada bagian teratas tubuh dan dilindungi oleh batok kepala yang keras. Riset para ahli menemukan bahwa potensi informasi yang dapat ditampung oleh OTAK kita hampir-hampir tanpa batas. Jika dituliskan dalam angka, maka jumlahnya sebanyak angka 1 standar dan dibelakangnya ditambah deretan angka 0 sepanjang 10,5 km, LUAR BIASA!!! Dari riset para ahli ini pula ditemukan fakta bahwa otak yang jarang dimanfaatkan cenderung mengalami penurunan kemampuan dan daya tangkap.

Nah sahabat, tak ada alasan bagi kita untuk berhenti belajar. Setidaknya ada 3 alasan sederhana mengapa setiap kita harus tetap belajar: Pertama, karena Allah telah memberikan kita potensi belajar (otak) yang luar biasa, sungguh sayang jika kita tidak memanfaatkannya. Padahal boleh jadi kita akan dimintai pertanggungjawaban untuk apa otak itu kita gunakan. Kedua, karena masih terlalu banyak hal yang tidak kita ketahui ketimbang yang sudah kita ketahui. Kecuali jika kita termasuk orang yang sombong, maka wajarlah jika kita merasa telah mengetahui tentang banyak hal. Dan alasan ketiga, karena hanya dengan memiliki kita baru bisa memberi. Hanya dengan ilmulah kita dapat mengajarkan ilmu. Dan salah satu amalan yang tidak putus pahalanya meskipun kita telah mati adalah ilmu bermanfaat yang diajarkan kepada manusia. Cukup dengan alasan ini saja mestinya setiap kita saling berlomba-lomba untuk terus belajar, apalagi jika kita memiliki lebih banyak alasan lagi. Maka kita akan menemukan diri kita menjadi manusia sesungguhnya (human being)…

Readmore »»

MASA-MASA SULIT

Diposkan oleh Bang Irwan

Manusia agung itu berduka. Air matanya menetes. Meski tak ditampakkan kepada orang-orang yang mencintainya. Belum hilang rasanya perih hati beliau kala mendengarkan tangis kelaparan bayi-bayi kaum muslimin akibat embargo Quraisy selama 3 tahun. Belum kering kiranya rasa pahit dedaunan yang beliau harus makan bersama kaum muslimin akibat boikot ekonomi musuh-musuh Allah itu. Tiba-tiba saja Allah memanggil 2 manusia yang sangat dicintainya. Pertama pamannya, Abu Thalib. Lelaki yang sejak kecil memeliharanya, bahkan melindunginya hingga beliau diangkat menjadi Rasul Allah. Lalu tak lama kemudian istrinya, Khadijah binti Khuwailid. Perempuan mulia yang selalu setia mendampinginya dalam menyebarkan Risalah Allah. Sungguh kesedihan yang teramat dalam bagi Sang Nabi. Tahun itu adalah tahun kesedihan (‘amul huzn). Sebuah penggalan masa-masa sulit bagi manusia agung yang kelak melahirkan peradaban baru di muka bumi, Muhammad Saw.



Begitu pula kesedihan yang menimpa seorang patriot Amerika, FD Roosevelt. Di tengah kesibukannya mempersiapkan diri menghadapi pemilihan Presiden Amerika, ujian terberat untuk keputusan-keputusan berat datang menghampirinya. Senator muda itu terserang Polio, penyakit lumpuh yang pada masanya dianggap nista. Telah datang masa-masa sulit untuk pahlawan Amerika itu. Ia harus berkompetisi di atas kursi roda untuk menjadi pemimpin yang akan memenangkan Amerika dalam perang dunia dan menyelamatkan rakyatnya dari depresi ekonomi terbesar dalam sejarah bangsanya.

Untuk sejenak sang senator gundah, putus asa, dan tenggelam dalam lara. Bagaimana mungkin ia mampu memimpin sebuah bangsa yang menganggap hina penderita Polio seperti dirinya? Lalu sang senator membuat keputusan besar dalam hidupnya. Keputusan yang kelak membawa bangsanya memenangkan Perang Dunia dan menyelamatkan rakyat Amerika dari bencana depresi ekonomi untuk selanjutnya menjadi negara adidaya…

Masa-masa sulit itu adalah sebuah siklus kehidupan. Ia senantiasa hadir menyapa orang-orang yang memilki mimpi-mimpi besar. Masa-masa sulit itu hadir bukan untuk menghambat jalan tegaknya sang mimpi, tetapi untuk membentuk jiwa-jiwa obsesif mereka yang mengusung panji-panjinya, menjadi kokoh dan menyala. Memang ada kesedihan di dalamanya. Memang ada duka lara di setiap hadirnya. Tetapi bagi jiwa-jiwa raksasa, kesedihan dan duka lara itu tak sedikitpun mengubah mimpi mereka. Mereka menangis, tapi jiwa mereka selalu optimis. Mereka sedih, dan pada saat yang sama pikiran mereka terus bekerja untuk menyusun kembali bangunan mimpinya tegak dalam kehidupan…

Masa-masa sulit itu tak pernah pasti kapan datangnya. Juga tak pernah bertoleransi untuk berapa lama waktunya. Ia dapat menimpa siapa saja: saya, mereka dan juga anda. Terkadang masa sulit itu terjadi dalam skala yang luas seperti masyarakat atau bangsa kita. Namun ia lebih sering hadir hanya untuk kita dan orang-orang yang kita cintai. Bagi mereka yang jiwanya kerdil, masa-masa sulit itu terasa sangat lama dan menyiksa. Seringkali ia melahirkan kesedihan yang teramat dalam dan berujung pada keputus-asaan. Ia hadir bukan hanya melemahkan, tetapi sekaligus bencana yang menghancurkan. Karena di mata mereka, masa-masa sulit itu adalah hukuman dan ketidak-adilan Tuhan yang telah memporak-porandakan hidup dan mimpi mereka…

Sahabat, mungkin masa-masa sulit itu pernah hinggap dalam hidup kita. Atau mungkin saja saat ini adalah masa-masa sulit itu bagi kita. Masa-masa yang penuh himpitan hidup, atau bahkan potongan waktu yang bertabur peristiwa kehilangan orang-orang yang kita cintai dan harapkan. Ada airmata yang mengalir di setiap fragmenya. Ada perih yang membuncah ketika jiwa terpaksa menjalaninya. Ada sesal yang mendera saat teringat pada berbagai kealfaan di masa-masa sebelumnya. Semua itu hal yang wajar, karena kita memang manusia…

Tapi ketahuilah sahabatku, bahkan Sang Nabi kekasih Allah pun mendapatkan giliran masa-masa sulit itu. Dan beliau telah memberikan keteladanan bagaimana melaluinya. Sudah sunnatullah, bahwa kadar kesulitan yang dihadapi oleh setiap manusia itu berbeda. Kehormatan untuk memikul kesulitan-kesulitan terbesar diberikan Allah kepada para Nabi-Nya. Lalu kepada para ulama dan da’i yang menjadi pewaris para Nabi-Nya. Lalu kepada ummat yang istiqamah memegang Risalah-Nya. Lalu kepada manusia-manusia yang memiliki mimpi-mimpi besar untuk kemaslahatan ummat manusia. Lalu kepada setiap manusia di muka bumi dengan berbagai obsesinya.

Sahabat, masa-masa sulit itu senantiasa hadir pada takaran-takaran kemampuan setiap kita. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, itu firman-Nya. Maka tak pernah ada alasan untuk sesorang yang memiliki keimanan dalam hatinya untuk berhenti dan menyerah. Apalagi untuk manusia yang memiliki mimpi dan obsesi-obsesi raksasa, TIDAK! Hingga ia mampu mengukir sejarah. Apalagi untuk kita yang bercita-cita untuk menjadi pewaris Nabi dan menyebarkan Risalahnya atas manusia di muka bumi, hingga Risalah Allah itu tegak di muka bumi…

Readmore »»