Saturday, June 13, 2009

BERJIWA BESAR

Lelaki itu terus berlari bersama sahabatnya untuk mengindari lemparan batu dan amuk massa. Meski demikian, tetap saja ada puluhan bahkan mungkin ratusan batu sebesar kepalan tangan menerjang mereka, diiring cacian dan hinaan yang merendahkan. Tubuh mereka terluka. Kaki-kaki mereka penuh darah. Bukan hanya Zaid, sang sahabat yang ingin menangis menyaksikan perlakuan Bani Thaif itu kepada Rasulullah, tetapi juga alam semesta. Begitu memilukannya peristiwa itu, hingga malaikat Jibril As datang menghampiri sang Nabi bersama malaikat penjaga gunung. Ekspresi amarah semesta terwakili oleh ucapan sang malaikat: "Perintahkanlah aku! Seandainya engkau menghendaki kedua bukit ini dihimpitkan kepada mereka, niscaya akan aku lakukan dengan segera!".



Tapi Rasulullah menjawab berbeda. Yah, berbeda dari jawaban yang biasanya diberikan oleh manusia pada umumnya. Rasulullah menjawab seluruh hinaan, perlakuan, dan siksaan Bani Thaif itu dengan do’a: "Allahummahdii qawmii fainnahum laa ya'lamuun" (Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku ini, karena mereka masih juga belum faham tentang arti Islam). Bahkan Rasulullah juga mendoakan agar keturunan mereka nanti akan menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukanNya dengan apa pun. Dan benarlah, bertahun-tahun setelahnya para prajurit Islam dari Thaif terkenal dengan keberaniannya di medan-medan jihad menegakkan agama Allah…

Sahabat, seandainya kita adalah manusia yang didzalimi itu. Seandainya kita adalah lelaki yang kehormatannya diinjak-injak oleh kaum itu. Lalu tiba-tiba hadir sebuah kekuatan dan kekuasaan besar yang siap untuk menjalankan apa pun perintah kita sebagai balasannya. Maka hukuman apa yang akan kita berikan kepada mereka?

Sahabat, Sang Rasul mulia Muhammad Saw tengah mengajarkan kita tentang sebuah pelajaran: BERJIWA BESAR! Pelajaran yang tak pernah dapat terangkum dalam berlembar-lembar teori, tetapi pelajaran hidup yang selalu hadir bersama manusia-manusia besar dalam sejarah manusia. Ia tidak akan benar-benar dapat dipahami sampai suatu waktu kehidupan menuntun kita untuk mengalami dan mengambil pilihan-pilihan sulit dalam kehadirannya: menjadi manusia biasa atau manusia dengan kebesaran jiwa…

Kebesaran jiwa inilah yang dimiliki oleh pemimpin besar legendaris kaum muslimin, Umar bin Khattab Ra, saat beliau dengan pundaknya memanggul sendiri sekarung beras pada malam hari kepada rakyatnya yang kelaparan. Atau keridhoan beliau ketika di depan publik harus dikritik oleh seorang perempuan dengan kritikan yang memerahkan telinga. Padahal, beliau adalah seorang pemimpin yang ditangannya Islam berubah secara fenomenal, dari agama yang kecil di kota Mekkah menjadi salah satu kekuatan dunia yang akan segera menyaingi Imperium Romawi dan Persia. Pemimpin besar yang jauh lebih brilliant dari pada Julius Caesar, Charlemagne, bahkan Alexander the Great…

Kebesaran jiwa ini pulalah yang dimiliki oleh seorang jenderal perang sekaliber Salahuddin Al-Ayyubi ketika membebaskan Palestina (Jerusalem) tanpa harus membalas perlakuan yang sama pasukan salib saat menaklukkan Palestina. Seluruh kaum muslimin dibantai, rumah-rumah dan masjid dibakar, perempuan diperkosa dan anak-anak dibunuh didepan orang tua mereka. Sang Jenderal memasuki kota suci dengan penuh kerendahan hati. Rumah-rumah ibadah dibiarkan tegak, para pemeluknya dilindungi, dan para knight of templar dipersilahkan memilih untuk tinggal atau pergi meninggalkan kota suci. Atau ketika sang Jenderal mengirimkan seorang dokter untuk menyembuhkan sakit yang diderita oleh musuhnya dalam perang, Raja Richard ‘The Lion Heart’ dari Inggris. Kebesaran jiwa yang menggetarkan kawan mau pun lawan, membuat sang Jenderal menjadi legenda bagi musuh-musuhnya…

Sahabat, kebesaran jiwa itu adalah pilihan. Ketika godaan amarah untuk membalas, menyiksa dan menjadi superior begitu dekat di depan mata, lalu kita lebih memilih untuk memaafkan, bersabar dan berlapang dada atas segalanya. Kebesaran jiwa itu adalah keteduhan saat segalanya menjadi panas amarah. Kebesaran jiwa itu adalah ketenangan saat semuanya menjadi rumit. Kebesaran jiwa itu adalah saat kekuatan menjadi kasih sayang. Kebesaran jiwa itu adalah saat kekerasan menjadi kelembutan. Tetapi kebesaran jiwa itu bukanlah kelemahan, kekalahan apalagi kepengecutan. Kebesaran jiwa itu adalah perpaduan antara keberanian, kekuatan, kasih sayang dan pemaafan…

Sahabat, mungkin suatu saat kita dihadapkan pada situasi yang sama. Kita mampu untuk marah. Kita bisa untuk menhina. Kita sanggup untuk membalas. Atas nama sakit hati yang tak terperih. Atas nama dendam yang teramat dalam. Atas nama amarah yang membara. Maka saat itulah kebesaran jiwa menemukan ujiannya. Hidup adalah pilihan-pilihan, Kawan. Dan manusia-manusia besar dalam sejarah adalah orang-orang yang ketika hidupnya menemukan pilihan yang sama, mereka memilih untuk berbesar jiwa. Mereka berani, mereka punya kekuatan, mereka juga marah, benci dan dendam, tetapi mereka lebih memilih jalan kasih sayang dan memaafkan. Bagaimana dengan kita?

6 comments:

andi has said...

mungkin suatu saat kita dihadapkan pada situasi yang sama. Kita mampu untuk marah. Kita bisa untuk menghina. Kita sanggup untuk membalas. Atas nama sakit hati yang tak terperih. Atas nama dendam yang teramat dalam. Atas nama amarah yang membara. Maka saat itulah kebesaran jiwa menemukan ujiannya.

wah....mantap...kayaknya mulai sekarang aku harus lebih berjiwa besar dan lebih bijaksana lagi dalam memandang suatu masalah

BLEKENYEK said...

Semoga kiranya kita slalu berjiwa besar...oya..thank,s brat ya atas kunjungan abang ke gubuk blekenyek ku...

Unaneca said...

kisah ini... sampai kapanpun, kan selalu membuat air mata menitik penuh bangga, bangga kepada Rasulullah yang bejiwa besar

Bang Irwan said...

@ Andi Has: nah gitu dong... harus BERJIWA BESAR de'!!!

@ Blekenyek: heheh, ia, seru juga blog sampean, lucu dan menggugah... semangat terus!!!

@ Delyana: Alhamdulillah, itu berarti kita memiliki kelembutan jiwa. Berbahagialah...

tondy said...

BERJIWA BESAR......
Sudahkah di terapkan dalam hidupmu

Bang Irwan said...

inysa Allah, selalu berusaha... kadang bisa, kadang gagal... :)

Post a Comment