Thursday, June 11, 2009

NALURI PEMBELAJAR

Namanya Ziyadah, putri kecilku. Usianya baru 3 tahun lebih. Usia anak yang bagi kebanyakan orang tua paling merepotkan. Betapa tidak, di usia seperti inilah mulai tumbuh jiwa ekplorasi anak-anak untuk mengetahui segala hal. Di alam pikiran mereka selalu hadir banyak tanda tanya tentang lingkungannya. Begitupun Ziyadah, putriku. Karena hampir setiap akhir pekan aku mengajaknya melakukan perjalanan jauh menemui ibunya yang berjarak 200 km dari kota kami dengan berkendaraan mobil, jiwa observasinya pun tumbuh. Awalnya dia ingin tahu bagaimana rasanya menyetir mobil. Ia mulai rewel dan ngotot untuk memegang setir mobil. Akhirnya di track-track lurus aku memberinya kesempatan memegang kendali setir sambil duduk dipangkuanku. Bukan main senangnya Ziyadah…



Tapi dalam perjalanan-perjalanan selanjutnya Ziyadah mulai mencari hal baru. Kali ini dia ngotot ingin mengendalikan perseneling. Setelah sedikit mengajarinya cara menggerakkan perseneling, akhirnya ia pun bisa. Aku tinggal memberi perintah dan Ziyadah menggerakkan persenelingnya. Alangkah senangnya hati putriku. Selanjutnya dia terus belajar hal baru: aturan lampu wesser, menyalakan lampu malam, hingga membersihkan kaca dari air hujan. Tinggal bagaimana menggunakan gas, rem dan kopling saja yang belum dia pelajari. Itu pun karena kakinya memang belum cukup panjang untuk menggunakannya…

Sahabat, sesungguhnya belajar itu adalah dorongan naluriah manusia. Belajar itu adalah fitrah dasar sejak lahir sampai mati. Dengan belajarlah manusia membangun peradabanya. Dengan belajar pulalah manusia menciptakan sejarahnya. Bahkan, dengan belajarlah manusia mencapai kemuliaannya sebagai human being. Status yang membuat kita berbeda dengan binatang dan mahluk lainnya. Tetapi bagaimana menjelaskan kenyataan bahwa sangat banyak manusia yang malas dan enggan untuk belajar?

Sesungguhnya dorongan belajar manusia lahir dari keingintahuan-keingintahuan yang muncul dalam pikirannya. Semakin besar rasa ingin tahu seseorang maka semakin besar pulalah dorongan belajar dalam dirinya. Itulah sebabnya, di usia-usia belia seperti Ziyadah, anak-anak cenderung sangat eksploratif dan ingin tahu banyak hal. Segala cara dilakukan, mulai dari meraba, menggigit, mengulum, menelan, dan mencoba segala sesuatu yang menarik rasa keingintahuannya. Karena berbagai keingintahuan mereka itulah seringkali anak-anak di cap bandel, nakal, atau hyperaktif oleh orang tuanya. Padahal, mereka sedang melakoni proses sebagai human being, manusia yang mulia…

Banyak manusia yang malas untuk belajar, terutama orang dewasa. Ini seiring dengan semakin berkurangnya rasa keingintahuan orang dewasa terhadap berbagai hal disekitarnya. Kadang mereka tidak benar-benar sudah tahu, tetapi lebih karena hambatan-hambatan psikologis manusia, seperti gengsi, takut, malu atau karena kesombongan. Itulah sebabnya Imam Al-Ghazali mengatakan: barang siapa yang merasa dia sudah tahu, maka dialah orang yang paling tidak tahu. Tetapi barang siapa yang selalu merasa belum cukup tahu, maka mereka itulah orang-orang yang pandai.

Sahabat, Allah telah memberikan kita potensi belajar yang luar biasa. Selain dorongan naluri belajar, Allah juga menciptakan OTAK untuk kita. Benda biologis yang diletakkan pada bagian teratas tubuh dan dilindungi oleh batok kepala yang keras. Riset para ahli menemukan bahwa potensi informasi yang dapat ditampung oleh OTAK kita hampir-hampir tanpa batas. Jika dituliskan dalam angka, maka jumlahnya sebanyak angka 1 standar dan dibelakangnya ditambah deretan angka 0 sepanjang 10,5 km, LUAR BIASA!!! Dari riset para ahli ini pula ditemukan fakta bahwa otak yang jarang dimanfaatkan cenderung mengalami penurunan kemampuan dan daya tangkap.

Nah sahabat, tak ada alasan bagi kita untuk berhenti belajar. Setidaknya ada 3 alasan sederhana mengapa setiap kita harus tetap belajar: Pertama, karena Allah telah memberikan kita potensi belajar (otak) yang luar biasa, sungguh sayang jika kita tidak memanfaatkannya. Padahal boleh jadi kita akan dimintai pertanggungjawaban untuk apa otak itu kita gunakan. Kedua, karena masih terlalu banyak hal yang tidak kita ketahui ketimbang yang sudah kita ketahui. Kecuali jika kita termasuk orang yang sombong, maka wajarlah jika kita merasa telah mengetahui tentang banyak hal. Dan alasan ketiga, karena hanya dengan memiliki kita baru bisa memberi. Hanya dengan ilmulah kita dapat mengajarkan ilmu. Dan salah satu amalan yang tidak putus pahalanya meskipun kita telah mati adalah ilmu bermanfaat yang diajarkan kepada manusia. Cukup dengan alasan ini saja mestinya setiap kita saling berlomba-lomba untuk terus belajar, apalagi jika kita memiliki lebih banyak alasan lagi. Maka kita akan menemukan diri kita menjadi manusia sesungguhnya (human being)…

4 comments:

andi has said...

pertama: semoga Ziyadah bisa menjadi anak sholehah dan bisa menjadi arsitek peradaban kelak seperti abinya, seorang pembelajar sejati
kedua: tak ada alasan bagi kita untuk berhenti belajar, bukankah menuntut ilmu itu wajib sejak buaian sampai liang kubur? so....mari terus belajar, belajar, dan belajar....
ALLAHU AKBAR !!!

BLEKENYEK said...

lucu n cantik ya...smoga kelak jadi anak yang sholeha,berbakti pada orang tua, bangsa dan agama Amin....Bang..kutunggu kedatangannya di http://blekenyek.blogspot.com/

Edi said...

Kalo sy sih kak... pintar ma... kpan2 bisa ajak yah...

headcy said...

keinginan itu datangnya slalu tiba2.......maka apabila keinginan itu tdk kt lakukan maka hilanglah satu harapan..........keinginan (BELAJAR)......
so buat ziyadah(silucu)........belajarlah......dan trs belajar............tp jgn lupa sholat....,,,

Post a Comment