Showing posts with label Kata hati. Show all posts
Showing posts with label Kata hati. Show all posts

Friday, November 07, 2008

SENJA YANG MENYADARKAN

Senja ini, seperti senja yang kemarin. Kendaraan merangkak perlahan dalam antrian panjang para pekerja yang hendak pulang. Seperti deretan rapih burung-burung yang juga hendak kembali ke sarang. Berhias bunyi klakson bersahut-sahutan tanda hilangnya kesabaran. Seperti juga nyanyian burung yang gembira sambil terbang pulang. Seperti sebuah simfoni, melantunkan syair-sayir kehidupan…

Dalam gerak maju sejengkal demi sejengkal mobil yang ku setir sendirian. Terdengar sayup suara azan maghrib dari radio mobil yang ku setel untuk melepas kebosanan. Ada keteduhan, saat panggilan Tuhan menggema di telinga. Ada kesejukan, saat ajakan kemenangan meresap ke dalam jiwa. Juga ada penyesalan, pada keterbatasan yang membuat diri ini tak mampu bersegera memenuhi panggilan-Nya…

Ah… betapa indah senja ini. Senja yang membawa kesadaranku pada kesendirian. Bahwa setiap kita akan kembali kepada-Nya kelak, dengan sendiri-sendiri. Hiruk pikuk kehidupan, adalah ujian-ujian yang mesti dipertanggungjawabkan, sendirian…

Ah… betapa damai senja ini. Senja yang membuatku terharu, tanpa sadar, meneteskan butir bening air mata penyesalan. Atas ketidak mampuan mensyukuri nikmat hidup yang begitu berharga. Atas kesombongan diri, yang tak pernah mau mengakui kekuasaan-Nya atas setiap peristiwa.

Ah.. senja ini. Mengingatkanku pada usia. Ya, usia yang sedang berjalan kea rah senja. Oleh waktu yang tak pernah kompromi. Dan ketika senja itu tiba, entah diri ini berada di bagian senja yang mana…
Read More ..

Wednesday, October 29, 2008

HUJAN YANG INDAH

Meski belum masuk bulan Nopember, tapi rasanya hujan sudah mengawali musimnya. Seperti tahun-tahun kemarin, musim hujan selalu datang bersama berkah, basah, juga musibah. Berkah, sebab itu berarti masa-masa krisis air akan segera lewat. Hidup bisa normal kembali. Mandi bisa teratur. Dan bau badan, bisa dikurangi. Juga basah, karena kemana-mana semuanya becek, gak ada ojek! Dan yang pasti, sebagiannya musibah. Karena banjir akan menjadi sahabat sehari-hari hingga delapan bulan ke depan. Dalam tidur…dalam duduk… dalam canda…dalam hening…

Tapi bagiku, musim hujan tahun ini menghadirkan kembali sebuah nuansa. Nuansa yang begitu kuat dengan aroma perjuangan, pengorbanan, kegigihan, ledakan energi dan lirih tangis di penghujung malam. Sebuah masa di beberapa tahun silam saat ideologi bertemu dengan masa muda penuh gairah, saat krisis bertemu dengan gelora kepahlawanan, saat ketidakadilan bertemu dengan gejolak perlawanan. Semua menyatu dan kembali hadir dalam potret yang berbeda…

Suasana itu begitu terasa mengalir di sekujur tubuhku, saat dinihari aku beranjak pulang ke rumah. Menyetir mobil sambil bersandar memanjakan tulang belakang yang penat seharian. Sementara gerimis hujan mebasahi semesta seolah tak ingin berhenti memberi arti bagi makhluk bumi seluruhnya. Jalan basah yang tersorot lampu di tengah gerimis begitu akrab menyapa, seolah menggulung waktu dan melipat masa. Membawa ingatanku kembali dalam kancah peperangan ideologi tahun 2002-2003 bersama gerakan mahasiswa Indonesia, melawan kedzaliman dan kesewenang-wenangan penguasa.

Aku terharu… aku terbawa pada seluruh episode pergerakan di masa itu. Pada gejolaknya. Pada heroismenya. Pada ledakan semangatnya. Juga pada lelahnya. Ya, lelah yang hinggap diseluruh tubuh. Merasuk hingga ke tulang-tulang yang memang tak begitu kuat. Lelah yang menyelimuti, seperti kuncup-kuncup mawar yang melindungi sarinya. Lelah yang begitu dalam. Lelah yang memberikan sebuah makna baru tentang hidup. Lelah yang membawa pikiran ku pada sebuah kesyukuran…

Hujan...kau ingatkan aku,
tentang suatu rindu...
di masa yang lalu...
kala engkau masih bersamaku...
Read More ..

Wednesday, October 22, 2008

YA ALLAH, AKU INGIN KAYA!

Kuambil laptopku dan mulai mengetik di ruang tamu yang belum sempat tergenang banjir. Sementara di dapurku beberapa perabot masak dan piring sudah melayang-layang di atas air. Di ruang tengah tempat Televisi berada, air merembes melalui dinding, dan di beberapa titik plafon, air mengucur deras, pertanda atap rumahku sudah bocor. Sementara di luar hujan sangat deras dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Dalam cahaya remang-remang oleh penerangan lilin yang menggantikan lampu akibat pemadaman listrik bergilir, aku ingin menuliskan sebuah do’a…

“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
Semoga do’a ini tidak berlebihan. Toh Allah memerintahkan kita untuk senantiasa berdo’a kepadanya. Dan niscaya akan dikabulkan oleh-Nya. Allah Maha Kaya, Allah Maha Mendengar, dan Allah Maha Pemurah…
Aku pikir apa salahnya… tentu saja bukan karena berdo’anya. Melainkan narasi do’aku yang terlalu terus terang. Bukankah untuk hal-hal buruk seperti menang lotre orang khusyu’ berdo’a? apalagi untuk sebuah obsesi besar ingin menjadi kaya…
Ah…sudahlah. Aku harus yakin dengan do’a ini:

“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
Aku berharap do’a ini sekaligus menjadi salah satu obsesiku. Kemudian merasuk hingga ke alam bawah sadarku. Membentuk sebuah keyakinan dan berbuah sikap serta habit yang positif. Mendorong seluruh naluriku untuk merealisasikannya. Dalam setiap waktu, setiap tempat dan setiap kesempatan…

“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
Terlalu banyak kebaikan yang terlewatkan dengan menjadi seorang fukaro. Terlalu sedikit peluang berkontribusi dengan menjadi seorang masaakin. Dan yang kutakutkan adalah, jika tiba saatnya kesempitan itu datang pada saat kekuatan iman sedang yankuuz, Na’udzu billah min dzaalik…

“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
Sebab kehormatan seorang lelaki terletak pada kakinya. Ketika ia mampu berdiri, menapak bumi dengan kakinya sendiri. Entah melangkah tertatih, atau hanya dengan gontai terseret, tak soal, yang penting dengan kakinya. Maka menjadi mustadha’afin yang ringkih, dengan kaki yang ditopang disana-sini, memang bukan kehinaan, tapi jauh dari keterhormatan…

“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
Sebab Engkau telah berikan aku hati yang mudah tersentuh, mata yang mudah menangis, ketika menyaksikan pahit getir kehidupan hamba-hamba-Mu. Tentu saja disanalah letak keadilan-Mu,. Tetapi aku ingin merengkuh kemuliaan tangan yang di atas, bukan tang an yang di bawah…

“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
Sebab aku ingin suatu saat, mampu bermunajat kepada-Mu dengan sebuah do’a yang pernah diucapkan oleh Abdurrahman bin Auf sahabat Rasul:” Ya..Allah, janganlah kau letakkan dunia dalam hatiku, tapi letakkanlah ia di bawah telapak kakiku!”…

“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
Sebab aku ingin memasuki surge-Mu, dari berbagai pintu yang Kau janjikan. Dan salah satunya adalah pintu kedermawanan. Seperti Utsman bin Affan sang khalifah yang meninginfakkan hartanya di medan jihad fii sabilillah…

“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
Sebab Engkau lebih mencintai muslim yang kuat daripada muslim yang lemah. Sesungguhnya salah satu ukuran kekuatan muslim yang kau cintai adalah, kekuatan untuk memberi…

“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
“Amin…”
Read More ..