Monday, June 01, 2009

WELCOME BACK, BANG!

Alhamdulillah, Allah masih memberi kita umur: bagi saya untuk menulis postingan ini, dan bagi Anda untuk membaca postingan ini. Sedih juga rasanya membiarkan blog ini kumuh dan lumutan. Tengok saja shout box-nya yang penuh dengan junk word, link-link sampah yang tak berguna. Bukan karena tak ada waktu untuk mengisinya, tapi memang kejemuan yang sedang menggelayut diseluruh sudut-sudut jiwa. Dan saat ini, aku melawan seluruh suasana beku itu. Dan, aku pun menulis postingan ini…

Sahabat, banyak peristiwa yang ku alami beberapa pekan terakhir dan tak sempat terekam dalam huruf demi huruf yang biasanya aku rangkai dalam tulisan. Sekitar dua pekan yang lalu misalnya, aku menemukan sebuah album foto kumal yang sudah tua di kamar kost Adikku. Di antara tumpukan arsip-arsip Laporan Laboratorium semasa aku dan kakakku masih kuliah dulu. Dan waktu kubuka, semua isinya foto-foto jadul (jaman dulu). Setiap halaman album yang aku buka membawa pikiranku menerawang kemasa lalu di setiap peristiwa yang terekam oleh gambar-gambar itu. Setiap gambar itu begitu berarti, sebab setiap peristiwa yang diwakilinya adalah momen-momen yang menyimpan makna…



Disana ada foto-fotoku sejak SD hingga Mahasiswa. Juga ada foto kedua orang tuaku dan saudara-saudaraku. Paling banyak adalah foto sahabat-sahabatku dari komunitas yang berbeda: teman kost, teman sekolah, aktivis dakwah kampus, teman kuliah, sahabat karib, hingga teman bergaul. Cukup lama aku mamandangi foto Almarhumah Ibuku. Perempuan yang selalu ku kagumi, dan dipanggil oleh Allah dalam usia yang masih terbilang muda, saat haru biru perjuangan mahasiswa menghiasi hari-hariku.

Dan aku sumringah ketika salah satu halaman menampilkan foto telanjang dada-ku bersama sahabat-sahabatku di sebuah pantai indah di daerah Masamba. Hehehe… lucu, karena yang tampak hanya tulang-tulang berserakan (kata khairil anwar), hahhaha… Juga terharu, ketika melihat fotoku bersama ADK seangkatanku. Wajah kami sungguh culun. Tetapi genggaman tangan yang diacungkan dengan teriakan takbir itu bercerita tentang sebuah semangat, cita-cita dan obsesi.

Dan aku termangu, saat mataku tertuju pada foto seorang gadis muda berjilbab putih yang begitu ku kenal. Seseorang yang dulu menggetarkan hatiku saat pertama kali menatapnya. Seseorang yang dulu kepadanya aku selalu bercerita tentang cinta. Seseorang yang dengannya aku pernah berjanji untuk melindunginya selamanya. Sekaligus seseorang yang dengannya kami saling berjanji untuk berpisah, demi jalan kebenaran yang yang telah menerangi hati. Seorang sahabat yang bersamaku membangun keyakinan, bahwa kesucian cinta itu dalam genggaman-Nya, jika Ia menghendaki maka biarlah cinta itu menemukan belahannya, dan jika Ia tidak menghendaki maka biarlah cinta itu menemukan jalan pertaubatannya. Lalu masing-masing menjalani kehidupan yang teduh dalam manisnya iman dan indahnya dakwah. Dan setelah itu, tak pernah lagi ku dengar kisahnya…

Aku juga menemukan sebuah bundel puisi dengan kertas yang sudah rusak oleh rayap. Kumpulan puisi yang aku tulis sejak semester pertama di kampus merah. Ku baca keseluruhan isinya. Dan sekali lagi, dalam setiap bait-bait puisi itu tersimpan ceritra yang begitu banyak. Ada puisi tentang heroisme mahasiswa. Ada puisi tentang nasionalisme Indonesia. Juga ada puisi cengeng tentang cinta dan patah hati. Beberapa puisi tentang seseorang: seorang sahabat, seorang tokoh, dan seorang yang dicintai. Tapi beberapa puisi yang menggetarkan hatiku saat aku baca adalah puisi tentang Tuhan. Alam batinku seperti terbawa dalam nikmatnya suasana iman dikala itu, saat puisi-puisi itu aku gores untuk memuji dan memuja Dzat yang menciptakan kita dan alam semesta…

Sahabat, seperti sebagian besar kita, selalu saja ada kisah yang begitu membekas dalam jiwa. Sebagiannya kisah bahagia, dan sebagian lagi kisah sedih dan menyakitkan. Maka Maha Besar Allah, yang telah memberikan kita nikmat LUPA, sehingga tidak semua persitiwa yang pernah ada itu menggelayuti pikiran kita sampai mati. Seandainya seluruh peristiwa itu hadir segar dalam pikiran kita, betapa resahnya hidup ini. Maka bersyukurlah, Sobat…’

Tetapi tidak semua peristiwa itu harus kita lupakan. Sebagiannya harus menjadi ibrah dan pelajaran untuk menjadi semakin bijaksana. Peristiwa-peristiwa indah dengan kisah-kisah bahagianya yang kita ingat-ingat kembali adalah pemicu produksi hormone endorphin tubuh yang membuat kita bersemangat, ceria, dan bahagia. Sementara peristiwa-peristiwa sedih dengan kisahnya yang menyakitkan adalah pelajaran berharga tentang kerendahan hati, evaluasi diri, kesabaran sekaligus kesyukuran…

Dan ketika sebuah icon (entah foto, puisi, surat, dll) mengingatkan kita kembali penggalan-penggalan kisah itu, maka tak usah malu pada diri sendiri untuk mengakui apa adanya kisah itu. Meski terkadang kisah itu memalukan, menyakitkan, menyedihkan, atau pun menyenangkan. Akuilah apa adanya, meski hanya untuk ditangisi atau ditertawai, dan yang lebih penting untuk menjadi pelajaran berharga dalam kehidupan kita…

Well… Welcome Back, Bang!


2 comments:

andi has said...

saat mataku tertuju pada foto seorang gadis muda berjilbab putih yang begitu ku kenal. Seseorang yang dulu menggetarkan hatiku saat pertama kali menatapnya. Seseorang yang dulu kepadanya aku selalu bercerita tentang cinta. Seseorang yang dengannya aku pernah berjanji untuk melindunginya selamanya. Sekaligus seseorang yang dengannya kami saling berjanji untuk berpisah, demi jalan kebenaran yang yang telah menerangi hati


ehm....buka kedok sendirimi sedeng, kenapa nda qta bahas di postingan tersendiri : " KISAH VMJ sang Trianer Peradaban", pasti lebih berkesan, hehehe

Ada ji kah fotoku kak, waktu pertama kali mengenalmu dlm sebuah daurah Remaja Masjid di SMA 1 BUA, LUWU?

Bang Irwan said...

macam mana awak nie?
aku pun belum ngaji masa tuh, manalah faham dengan istilah VMJ? hehehehe....

Emang ente ada kamera waktu dauroh itu? yang ada malah saya apes ditilang polisi di jalan. Untuk saya sm misbah cerdas jurus ajian ngeles.. jadi lolos deh.. heheheh

Post a Comment