Sunday, November 18, 2018

SIKLUS

Akhirnya saya sampai juga pada sebuah babak baru hidupku. Siklus 20 tahunan mungkin. Kira-kira inilah fase ketiga dari gelombang hidup di sepanjang usiaku yang mendekati 40 tahun saat ini. Sejak lahir hingga lulus sekolah adalah fase pertama. Hampir 20 tahun usia pertama ini kuhabiskan seluruhnya di kampung halaman, bersama orang tua, saudara dan kawan-kawan sekampung. Fase 20 tahun kedua dimulai sejak masuk ke kampus hingga berkeluarga dengan empat orang putra putri sebagai malaikat-malaikatku.


Dan saat ini adalah fase ketiga, diusia hampir 40 tahun. "Life begins at 40" kata pepatah. Mungkin ada benarnya. Entah bagaimana ceritanya, menjelang usia 40 tahun ku ini perubahan-perubahan besar dalam hidupku justru terjadi di luar prediksi. Tak pernah terbayang sebelumnya, setelah 20 tahun berada dalam habitat pergerakan tarbiyah, akhirnya saya harus berpisah, dengan penyebab yang juga tak perlu menyalahkan siapa-siapa.


Enam tahun memburu ilmu di kampus, tiga tahun bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan 10 tahun bergelut dalam dunia politik di gedung parlemen, dan semua itu berhenti di sini. Saat ini. Seiring keputusan berat untuk meninggalkan habitat yang di dalamnya saya menemukan pasangan hidup, mendapatkan tujuan hidup, menemukan keberartian dalam perjuangan, dan semua kebaikan-kebaikan melimpah yang tak mungkin bisa diukur.


Sekilas perubahan besar ini seperti sesuatu yang patah. Terputus. Meninggalkan sesuatu yang lebih memberikan rasa aman, kepastian dan segala kebaikan menuju dunia ketidakpastian dan ribuan kemungkinan. Tetapi tidak! Justru driving force yang dulu menggerakkan saya untuk bergabung dalam habitat adalah energi yang sama yang mendorong saya untuk meninggalkan habitat. Saya melihat dan merasakan bagaimana krisis di dalam habitat terjadi. Perlahan tapi pasti, mendorongnya semakin terdegradasi dan seperti enggan untuk bangkit.


Bukan karena ada yang salah. Hanya saja nilai-nilai yang ada dalam habitat sudah tidak relevan lagi dalam merespon perubahan lingkungan strategis yang ada. Terlalu banyak pertanyaan yang tidak memiliki jawaban. Terlalu banyak kontradiksi antara realitas dan nilai-nilai yang diyakini. Terlalu jauh gap antara cita-cita dan kenyataan. Dan suara-suara pembaharuan menjadi kalah bising oleh doktrin-doktrin tentang adab dan kepatutan seorang prajurit. Kekakuan terlalu kokoh di sini. Tradisi habitat telah menundukkan rasionalitas dan tuntutan beradaptasi.


Tapi, tak perlu ada yang disesali. Setiap pilihan pasti ada resikonya. Saya hanya perlu menjaga motif yang terus bertarung di dalam jiwa untuk memastikan bahwa sejak awal, saat ini, hingga nanti, semuanya merupakan bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Toh, kelak kita semua akan menghadap-Nya sendiri-sendiri. Mempertanggungjawabkan semua pilihan di dunia juga dengan sendiri-sendiri. Penilaian manusia itu relatif semuanya. Kita lah dan Yang Maha Mengetahui Segala sesuatu, yang tahu apa yang bergejolak dalam jiwa kita. Dia Maha Adil, Maha Mengetahui, dan pemberi balasan yang Maha Bijaksana.


Semoga ini langkah tebaik, dari ikhtiar saya sebagai manusia selalu punya potensi salah. Bismillah...


0 comments:

Post a Comment