Tuesday, June 02, 2020

FILOSOSFI 40 TAHUN

Alhamdulillah.

Syukur dan segala puja puji hanya bagi Allah SWT yang memberikan nikmat usia, untuk melihat siapa diantara manusia yang berbuat kebaikan.

Bisa hidup hingga di titik ini adalah suatu karunia.Juga suatu pengingat, bahwa masa hidup yang dilalui, usia, sudah lebih lama daripada umur yang tersisa. Kereta, tepatnya keranda itu kian dekat.

Maka 40 tahun seharusnya menjadi momentum shifting kebaikan dari tataran "epithumia" dan "thumos" menjadi kebaikan "logistikon", kata Plato dalam "Lysis", mengutip gurunya, Socrates.

Obsesi thumos yang menggebu-gebu di usia duapuluhan, dan semangat epithumia di usia tigapuluhan, cukuplah menjadi bekal pelajaran. Waktunya menjalani hidup karena keterpanggilan. Temukan kebermaknaan.

Seperti nasehat Jack Ma, "Saat usiamu 40 tahun, Anda harus melakukan sesuatu sesuai kemampuan. Jangan mencoba bidang lain, waktu Anda sudah terlambat. Anda mungkin saja berhasil, namun tingkat kegagalan terlalu besar". Fokus pada kekuatan!

Usia 40 tahun adalah waktu yang terbaik untuk mengubah pertanyaan hidup, dari "Why" menjadi "What", seperti nasehat Tasha Eurich. Sebab pertanyaan itu yang menentukan jawaban dan tindakan. 

Berhentilah mempertanyakan "mengapa" takdirmu seperti ini, "mengapa" nasibmu tak sebaik yang lain? Tapi bertanyalah, kehidupan ingin kamu menjadi "apa"? Tuhan ingin kamu mewariskan "apa"? Bertanyalah tentang "apa".

Tutup semua cerita masa lalu yang menggelayut dalam bayang-bayang langkah hingga jiwa terseok-seok untuk maju. Perhatianmu teralihkan. Duniamu tersabotase. Oleh imaji yang kau ciptakan sendiri, tapi sering kau sebut refleksi.

Empat puluh tahun adalah usia profetik. Momentum untuk melahirkan mahakarya dan warisan kebaikan yang kelak selalu dikenang. Sebab itulah prasasti yang akan terus hidup, menemani orang-orang yang kau cintai.

Maka semua hal sepele, remeh temeh dan godaan sesaat yang membuatmu teralihkan dari obsesi keterpanggilan dan kontribusi bagi kehidupan, abaikan. Jika tidak, kau tak akan pernah sampai.

Tapi, dibanding semua filosofi itu, tetap saja hanya Firman Tuhan dalam Al-Qur'an-lah yang membuat hati bergetar ketika semua manusia yang mencapai usia 40 tahun diperintahkan untuk berdo'a:

“Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” 

(QS Al-Ahqaf: 15) 

Alhamdulillah.

Sudah sampai di sini perjalananku.



Ruang Inspirasi, 2 Juni 2020
Read More ..

Tuesday, November 27, 2018

14 Tahun Penuh Cinta


Hari ini, tepat empat belas tahun yang lalu, saya memutuskan untuk mencintaimu. Mengucapkan janji di hadapan walimu untuk menjagamu selamanya. Janji yang kokoh, mitsaqan ghaliza. Mengambil alih tanggungjawab orang tuamu atasmu untuk ku pikul, seberat apa pun itu. Tanggungjawab yang ku terima dengan sadar, bahwa akulah yang akan menerima semua akibat dari ketidak-taatanmu kepada Allah SWT andai aku tak melakukan tugasku sebagai qawwam.

Empatbelas tahun bukanlah waktu yang singkat. Didalamnya telah kau hadirkan dua pasang malaikat kecil yang menjadi penyejuk mata dan cahaya kegembiraan dalam rumah kita. Meski ku tahu, sejak melahirkan mereka hingga membesarkan dan mendidik mereka kau harus menukarnya dengan semua kesenangan dirimu. Aku tahu itu. Meskipun kau tak pernah cerita betapa beratnya tugas itu. Tapi semua terbaca dari lelahnya wajahmu dan redupnya cahaya matamu setiap kali aku pulang kerja, saat matahari sudah tenggelam.

Kumaklumi seluruh keadaanmu itu apa adanya. Dan karena itu aku tak ingin menambah bebanmu dengan membagi beratnya beban yang ku pikul di luar sana setiap kali meninggalkan rumah untuk mencari rezki buat kalian. Tekanan hidup yang kuhadapi dalam pekerjaan, kutelan untuk diriku sendiri. Semakin sedikit yang kau ketahui, semakin ringan sedikit bebanmu dalam menunaikan tugas sebagai istri dan ibu dari malaikat-malaikat kecil yang selalu ingin kita bahagiakan.

Kita sudah sampai di sini. Di titik ini. Banyak tawa yang kita lalui. Tapi tak sedikit tangis yang kita sembunyikan. Aku tahu bagaimana beratnya kau berjuang meredam ego mu, dan menahan amarah yang setiap saat bisa meledak menjadi konflik. Seperti diriku yang terus menerus belajar bagaimana menjadi imam yang baik, mengambil tanggungjawab atas hidupmu dan masa depan para malaikat kecil kita.

Aku hanya ingin membahagiakanmu. Melihatmu lebih banyak tertawa di sisa usia kita yang entah sampai berapa lama. Sambil terus berdo'a semoga kita sekeluarga, bisa dikumpulkan lagi di Syurga-Nya kelak bersama-sama. Meski ku tahu itu tak mudah. Tetapi inilah cita-citaku. Semoga cita-cita kita sama. Agar kaki kita bisa melangkah dan saling menopang. Agar hati kita semakin tegar dan saling menguatkan. Agar selalu ada cinta dalam rumah kita yang menjaga asa untuk tetap memperjuangkan sesuatu yang istimewa. Syurga!

Read More ..

Sunday, November 18, 2018

SIKLUS

Akhirnya saya sampai juga pada sebuah babak baru hidupku. Siklus 20 tahunan mungkin. Kira-kira inilah fase ketiga dari gelombang hidup di sepanjang usiaku yang mendekati 40 tahun saat ini. Sejak lahir hingga lulus sekolah adalah fase pertama. Hampir 20 tahun usia pertama ini kuhabiskan seluruhnya di kampung halaman, bersama orang tua, saudara dan kawan-kawan sekampung. Fase 20 tahun kedua dimulai sejak masuk ke kampus hingga berkeluarga dengan empat orang putra putri sebagai malaikat-malaikatku.


Dan saat ini adalah fase ketiga, diusia hampir 40 tahun. "Life begins at 40" kata pepatah. Mungkin ada benarnya. Entah bagaimana ceritanya, menjelang usia 40 tahun ku ini perubahan-perubahan besar dalam hidupku justru terjadi di luar prediksi. Tak pernah terbayang sebelumnya, setelah 20 tahun berada dalam habitat pergerakan tarbiyah, akhirnya saya harus berpisah, dengan penyebab yang juga tak perlu menyalahkan siapa-siapa.


Enam tahun memburu ilmu di kampus, tiga tahun bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan 10 tahun bergelut dalam dunia politik di gedung parlemen, dan semua itu berhenti di sini. Saat ini. Seiring keputusan berat untuk meninggalkan habitat yang di dalamnya saya menemukan pasangan hidup, mendapatkan tujuan hidup, menemukan keberartian dalam perjuangan, dan semua kebaikan-kebaikan melimpah yang tak mungkin bisa diukur.


Sekilas perubahan besar ini seperti sesuatu yang patah. Terputus. Meninggalkan sesuatu yang lebih memberikan rasa aman, kepastian dan segala kebaikan menuju dunia ketidakpastian dan ribuan kemungkinan. Tetapi tidak! Justru driving force yang dulu menggerakkan saya untuk bergabung dalam habitat adalah energi yang sama yang mendorong saya untuk meninggalkan habitat. Saya melihat dan merasakan bagaimana krisis di dalam habitat terjadi. Perlahan tapi pasti, mendorongnya semakin terdegradasi dan seperti enggan untuk bangkit.


Bukan karena ada yang salah. Hanya saja nilai-nilai yang ada dalam habitat sudah tidak relevan lagi dalam merespon perubahan lingkungan strategis yang ada. Terlalu banyak pertanyaan yang tidak memiliki jawaban. Terlalu banyak kontradiksi antara realitas dan nilai-nilai yang diyakini. Terlalu jauh gap antara cita-cita dan kenyataan. Dan suara-suara pembaharuan menjadi kalah bising oleh doktrin-doktrin tentang adab dan kepatutan seorang prajurit. Kekakuan terlalu kokoh di sini. Tradisi habitat telah menundukkan rasionalitas dan tuntutan beradaptasi.


Tapi, tak perlu ada yang disesali. Setiap pilihan pasti ada resikonya. Saya hanya perlu menjaga motif yang terus bertarung di dalam jiwa untuk memastikan bahwa sejak awal, saat ini, hingga nanti, semuanya merupakan bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Toh, kelak kita semua akan menghadap-Nya sendiri-sendiri. Mempertanggungjawabkan semua pilihan di dunia juga dengan sendiri-sendiri. Penilaian manusia itu relatif semuanya. Kita lah dan Yang Maha Mengetahui Segala sesuatu, yang tahu apa yang bergejolak dalam jiwa kita. Dia Maha Adil, Maha Mengetahui, dan pemberi balasan yang Maha Bijaksana.


Semoga ini langkah tebaik, dari ikhtiar saya sebagai manusia selalu punya potensi salah. Bismillah...


Read More ..

Sunday, December 31, 2017

The End of 2017

Here we are, in the end of the year… 

Seperti tahun-tahun yang telah lewat, sekaranglah momen-momen terbaik melakukan evaluasi kinerja selama setahun. Sebab kita yang terlanjur memilih menjadi manusia yang mengemban misi, butuh siklus waktu untuk melihat sudah sejauh mana perjalanan hidup ini dilalui...

Pertama, tentu saja ini menjadi momentum untuk menysukuri berbagai nikmat yang melimpah dari Allah SWT. Nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat iman, nikmat ilmu, nikmat keluarga, dan limpahan cinta yang mengisi hidup kami sepanjang tahun. Alhamdulillahi Rabbil Alamiin…

Kedua, dari seluruh target-target 2017 yang saya canangkan, memang kurang dari setengahnya yang tercapai. Perubahan-perubahan lingkungan startegis, dan kelemahan diri, menjadi faktor yang paling banyak mempengaruhi capaian tahun ini. Tetapi beberapa capaian cukup menggembirakan: Sekolah magister lancar; desain pemenangan pemilu sudah siap, tinggal ujicoba; beberapa fasilitas penunjang kinerja sudah ada, desain bisnis yang akan digarap tahun depan juga sudah siap, insya Allah… 

Ketiga, keasadaran akan usia yang tak muda lagi, sudah 37 tahun lebih, membuat perencanaan-perencaan baru di tahun-tahun mendatang sudah harus lebih matang, achievable, dan minim toleransi. Hidup terus berlanjut, umur terus berkurang, sementara tantangan semakin berat. Semoga tahun depan, kualitas hidup dan pencapaian misi hidup, jauh melampau capaian tahun ini, insya Allah… amin…
Read More ..

ISTANBUL 360*

#TurkeyTripSeries

Day 5 (Last Day)

This is it!
The last day at Istanbul. Sedih sekali harus meninggalkan kota yang sangat indah ini. Tapi, kami harus pulang. Sebab kami bukan Bang Thoyib yang tak pulang-pulang dan tak pasti kapan ia datang. Sebenarnya kami sempat berniat menunda kepulangan satu hari, demi mengikuti pertemuan akbar rakyat Turki dengan Presiden Erdogan yang bertajuk DEMOKRASI VE SEHiTLER MiTiNGi hari ini pukul 17.00 di Yenikapi Meydani, Istanbul. Menurut teman kami di Istanbul, pertemuan akbar ini akan dihadiri oleh 3 juta rakyat Turki. WOW! Kami sungguh ingin merasakan atmosfernya. Tapi sayang, agenda di tanah air juga tak kalah penting dan mendesaknya.

Pagi-pagi kami sibuk mengepak barang-barang untuk dibawa pulang. Di luar dugaan, ternyata tak satu pun dari kami bertiga yang travelbag-nya beranak, alias nambah. Sebuah pertanda, kami ternyata cukup "irit" selama di Istanbul ini. Mungkin karena itulah Grand Bazaar dan Fatih Caddesi tampak kecewa saat kami tinggalkan kemarin. Maklum, kurs Rupiah dan Turkish Lira tergolong cukup tinggi, hampir setengah nilai USD. Jadi, sangat bisa difahami mengapa travelbag kami tetap jomblo menjelang pulang ke tanah air.

Sebelum pulang, masih ada satu destinasi lagi yang wajib kami datangi, menyaksikan Kota Istanbul 360* dari ketinggian Galata Tower. Galata Tower adalah salah satu icon kota Istanbul. Posisinya yang berada di ketinggian dan selalu terlihat mencolok di kawasan kompleks kota tua dan selat Bosphorus membuat menara ini selalu melahirkan rasa penasaran bagai siapa saja yang mengunjungi Istanbul. Belum lagi jika berbicara soal sejarah, bangunan abad pertengahan ini telah menjadi saksi bisu berbagai peristiwa heroik yang terjadi sejak kota ini masih bernama Constantinople hingga berubah nama menjadi Istanbul.

Sekitar pukul sembilan pagi, kami sudah sampai di kompleks Galata Tower. Di halamannya yang cukup luas telah banyak pengunjung dari berbagai negara mengabadikan momen mereka di bawah naungan Galata Tower. Sebagiannya asik menikmati minuman di meja-meja cafe yang tertata rapi di halaman menara tersebut. Setelah foto-foto, kami harus ikut mengantri untuk naik ke bagian atas menara. Antriannya cukup panjang, hingga ke bagian luar lantai dasar menara. Tapi karena sudah super penasaran ingin menikmati pemdangan kota Istanbul dari ketinggian menara ini, kami pun dengan penuh kesabaran ikut mengantri.

Untuk naik ke bagian puncak menara, pengunjung bisa menggunakan lift. Dan jika mau, bisa juga menggunakan tangga. Tapi sangat jarang pengunjung yang menggunakan tangga, maklum, menara ini tingginya 66 meter, butuh energi ekstra untuk sampai ke puncak. Setelah melewati antrian dan membayar tiket TL 25 per orang, kami pun naik ke puncak menara menggunakan lift yang hanya muat sekitar enam orang. Keluar dari lift, di lantai paling tinggi menara tersebut terdapat sebuah cafe dan resto. Pengunjungnya penuh. Untuk menyaksikan Istanbul 360* kami masih harus naik tangga lagi sekitar tiga meter di bagian pengintai bagian luar puncak menara.

Tak ada kata yang dapat menggambarkan keindahan pemandangan dari ketinggian menara ini selain TAKJUB. Luar biasa indah. Saya membayangkan bagaimana menara bersejarah ini telah menyaksikan seluruh kejadian-kejadian penting pada era penuh pergolakan di tanah ini. Menara ini juga menjadi saksi bagaimana kapal-kapal Sultan Muhammad Al-Fatih diseberangkan lewat bukit dari selat Bosphorus menuju Golden Horn pada tengah malam. Juga menjadi saksi yang teramat dekat bagaimana meriam-meriam pasukan Al-Fatih merobohkan sisi benteng terlemah Konstantinopel di sepanjang Golden Horn. Serta menjadi saksi pembebasan Konstantinopel oleh pemimpin perang terbaik di zamanya, Sultan Muhammad Al-Fatih.

Dari menara ini, keindahan kompleks kota tua dengan bangunan-bangunan bersejarahnya tampak begitu megah. Air biru selat Bosphorus dan Golden Horn yang mengapitnya seolah menjadi energi yang menghipnotis siapa saja yang menyaksikannya tenggelam dalam kekaguman. Dari kejauhan terlihat laut Marmara yang begitu sibuk dengan kapal-kapal kargo yang berseliweran. Kontur tanah Istanbul yang berbukit-bukit membuat sebagian besar bangunan-bangunan yang berdiri di atasnya tampak tersusun rapih dan padat. Dan menara serta kubah-kubah masjid yang menjulang dengan bentuk khas di tengah kepadatan tersebut membuat kita tersadar bahwa inilah Istanbul. Kota Dunia. Pintu gerbang Eropa dan Asia. Kunci Laut Marmara dan Laut Hitam.

Rasanya ingin berlama-lama di atas sini. Tapi, pengunjung yang datang semakin banyak. Kami harus berbagi kesempatan dengan mereka. Setelah puas mendokumentasikan foto dan video pemandangan dari puncak Galata Tower, kami segera turun dan meninggalkan kawasan menara dengan penuh decak kagum. Saran saya, jika Anda punya kesempatan ke Istanbul, selain tiga bagunan bersejarah di kompleks kota tua, usahakanlah Anda menyaksikan pemandangan indah dari puncak menara ini. Dijamin, Anda tidak akan menyesal. Letaknya juga sangat mudah dijangkau dan dekat dengan semua destinasi wisata di Kota Istanbul.

Sebelum menuju Ataturk International Airport, kawan saya masih harus menuntaskan sedikit urusan bisnisnya di kawasan Esenyurt, lebih dalam ke bagian Eropa Kota Istanbul. Perjalanan ke Esenyurt lumayan lama, sekitar satu jam. Sepanjang perjalanan kita dapat menyaksikan bagaimana pemerintah kota setempat mampu menyulap Istanbul menjadi kota hijau dengan banyaknya taman-taman asri yang luas dan rindang, juga Ruang Terbuka Hijau dalam berbagai bentuk seperti Vertikal Garden, Roof Garden dan jalur hijau sepanjang jalan raya. Kota yang sungguh nyaman.

Setelah semua urusan selesai, kami segera menuju airport. Agak panik juga, soalnya waktu keberangkatan semakin kasip. Dan di luar perhitungan kami, ternyata pintu masuk ke airport agak padat merayap karena ketatnya pemeriksaan kendaraan pasca ledakan bom beberapa waktu yang lalu. Setelah selesai check-in, masalah baru datang lagi. Antrian di bagian imigrasi saaaaaangat panjang. Antara harap dan cemas, Alhamdulillah kami pun bisa melewati antrian tepat waktu. Untungnya lagi, pesawat Qatar Airlines yang kami tumpangi delay sekitar 30 menit. Dan akhirnya, kami meninggalkan kota penuh keindahan ini dengan satu komitmen: We'll Be Back, Soon!!!

The End
Read More ..

Wednesday, June 21, 2017

METRO ISTANBUL

#TurkeyTripSeries

Day 4

Berkat bantuan Ms. Vildan, kami tak perlu berlama-lama di Grand Bazaar. Jika harus mengikuti keinginan dan daya tariknya, kita bisa membakar 1000 Kalori di sini hanya dengan muter-muter sampai puas. Tapi pasar ini terlalu luas untuk ditelusuri seluruh sudut-sudutnya. Waktu terbatas hari ini, dan masih ada beberapa tempat yang perlu kami kunjungi hingga malam hari nanti. Keluar dari Grand Bazaar, kami menggunakan taksi menuju Fatih Caddesi. Salah satu pusat belanja yang lain di Kota Istanbul.

Sepanjang Fatih Caddesi adalah surga belanja bagi muslimah-muslimah dari berbagai negara yang berkunjung ke Istanbul. Di jalan ini paling banyak toko-toko pakaian muslimah, semacam butik di Indonesia, dengan kualitas nomor satu. Dan sebagai konsekuensinya, di butik-butik tersebut harganya sedikit lebih mahal dan "no negotiation for price". Ya, di tempat ini pada umumnya harga-harga pakaian dan aksesoris-aksesorisnya sudah fix price seperti di mall. Tak heran jika di sepanjang jalan Fatih ini paling banyak kita jumpai muslimah-muslimah dari timur tengah, ini bisa dilihat dari pakaian mereka.

Di Fatih Caddesi kami juga tak perlu menyusur seluruh jalan ini. My Boss, sudah punyan langganan di sini. Namanya Mister Mustafa, sama dengan nama tokonya. Di toko ini khusus menjual jilbab turki dari sutra asli berkualitas tinggi. Selembar jilbabnya paling murah 180 TL, atau sekitar Rp. 900 ribu lebih. (Pertama masuk langsung sesak nafas lihat harganya...). Jadi belanja di sini sedikit lebih simple: suka barang, tengok dompet, match! Silahkan dibayar tunai. Anda bisa membayar dengan Turkish Lira, USD atau Euro.

Selain di Toko Mustafa, kami juga sempatkan singgah di beberapa toko pakain muslimah untuk oleh-oleh bagi Ibu Negara di rumah. Kalau ini agenda wajib. Keliru sedikit bisa rusuh negara di tanah air. Apalagi kalau sampai lupa, bencana alam bisa melanda. (Hahahhahahaha....)

Selain toko pakaian, di sepanjang Fatih caddesi juga terdapat banyak restoran dan cafe. Di sini cafe-cafe pada umumnya menyediakan ruang teras bagi pengunjung yang ingin menikmati makanan dan minuman mereka sambil menyaksikan orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang fatih caddesi. Sebelum kembali ke hotel, kami sempatkan dulu menikmati kuliner di salah satu cafe yang letaknya tak jauh dari Toko Mustafa. Setelah tuntas, kami pun kembali ke hotel dengan menggunakan Taksi. Bukan untuk istirahat tentu saja, tetapi untuk menyimpan beberapa bungkusan yang tadi sempat nyangkut di Grand Bazaar dan Fatih Caddesi.

Sampai di Point Hotel, Ms. Vildan mohon pamit tak sempat lagi menemani kami untuk agenda selanjutnya. Selain karena sudah hampir sore, agenda kami juga tinggal satu, menuju Mall Kanyon AVM di daerah Levent dengan menggunakan kereta bawah tanah, Metro Istanbul. Mall hanya sekedar destinasi, yang sesungguhnya ingin kami nikmati adalah pengalaman menggunakan moda kereta bawah tanah Metro Istanbul, salah satu moda transportasi yang ada di hampir semua negara-negara Eropa.







Untuk menggunkan Metro kami harus turun ke bawah tanah dengan menggunakan eskalator di stasiun Metro di Taksim. Kami kembali menggunakan Istanbulkart sebagai alat pembayaran masuknya. Sebelum pintu masuk stasiun terdapat beberapa mesin jetonmatik untuk membeli kartu Istanbulkart yang baru atau untuk menambah nilai token (Top up) di dalam kartu tersebut. Stasiun Levent Sebenranya lumayan jauh dari Taksim. Tapi karena kami menggunakan Metro yang cepat dan bebas hambatan, waktu tempuh menuju stasiun Levent tak sampai 30 menit.

Keluar dari stasiun Levent, kami berjalan kaki sekitar 100 meter menuju ke Mall Kanyon AVM. Sebenarnya, dari stasiun tadi kami bisa langsung masuk ke Mall melalui pintu bawah tanahnya, tapi karena salah mengambil arah keluar, jadilah kami harus berjalan kaki beberapa jauh untuk masuk kembali ke Mall. tapi tak apa, sebuah pelajaran. Kesempatan yang lain tidak akan terulang.



Mall Kanyon AVM hanyalah salah satu dari puluhan Mall yang bertebaran di Kota Istanbul. Dan suasananya hampir sama dengan Mal-mal besar di Jakarta. Tak ada yang istimewa. Di sini kami hanya mutar-mutar dan menyempatkan diri belanja souvenir untuk anak-anak di toko buku. Setelah itu kami makan malam di salah satu restoran Jepang yang ada di lantai paling atas mall.




Dan menjelang jam 22.00 waktu Istanbul kami pun bergegas ke stasiun Metro melalui pintu akses langsung mall Kanyon. Kami mengambil rute yang berlawanan dengan kedatangan kami tadi sore. Tak berapa lama menunggu, kereta Metro pun tiba dan membawa kami kembali ke stasiun Taksim. Dari stasiun Metro, kami langsung kembali ke hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan agenda kepulangan esok hari.

* to be continued
Read More ..

KERETA MIRING, TRAM DAN GRAND BAZAAR

#TurkeyTripSeries

Day 4

Ini hari terakhir bagi kami menikmati kota Istanbul. Besok sore kami sudah harus terbang meningglakan Turki menuju tanah air tercinta. Makanya waktu 24 jam harus dimanfaatakan dengan baik. Judul untuk hari ini adalah berkeliling Istanbul dengan transportasi publik, sambil 'melihat-lihat barang' di pasar terbesar di Istanbul, Grand Bazaar. Kedengarannya keren. Bagian ini juga penting, terutama bagi Anda yang ingin mengunjungi Istanbul sebagai Backpacker. Transportasi publik akan membuat perjalanan Anda lebih mudah, lancar, murah, dan yang tak kalah penting Anda tidak akan tersesat.

Moda transportasi publik di Istanbul cukup beragam, diantaranya yang paling terkenal adalah Tram dan Metro. Sementara moda yang lain cukup banyak dijumpai di tempat lain termasuk di Indonesia yaitu Busway (metrobus) dan Taksi. Dan hari ini, kami akan ditemani oleh soerang sahabat lama yang juga menemani kami pada kunjungan ke Istanbul beberapa tahun yang lalu, Miss Vildan. Kami bertemu Ms. Vildan di Point Hotel dan memulai penjelajahan hari ini dari stasiun Kereta api miring di kawasan Taksim.

Ini akan menjadi pengalaman yang unik, bisa merasakan naik kereta miring yang sempat tayang di salah satu stasiun TV di Indonesia sekitar sepekan yang lalu sebelum Saya berangkat ke Turki. Sebenarnya jarak tempuh kereta ini tidak panjang. Kurang dari satu kilometer. Makanya waktu tempuhnya pun hanya hitungan menit. Tapi sensasi jalur miringnya di bawah tanah yang membuat kereta ini menjadi target banyak wisatawan di Istanbul. Kereta ini menghubungkan kawasan Taksim yang lebih tinggi dengan kawasan Karakoy di sekitar muara Golden Horn Yang lebih rendah.




Untuk naik kereta api miring, kita harus membeli token sebagai alat pembayaran. Kalau tidak salah per orangnya hanya 4 TL untuk satu rute perjalanan. Tapi biar lebih simpel, Ms. Vildan lebih memilih menggunakan Istanbulkart, seperti e-Toll Card kalau di Jakarta. Kartu ini lebih simple sebab bisa diisi ulang dan dapat digunakan oleh lebih dari satu orang. Dan menariknya, kartu ini dapat digunakan untuk berbagai moda transportasi umum di Istanbul seperti Tram, Metro, Metrobus dan juga Feri. Kami keluar di stasiun Karakoy, dan bergegas menuju stasiun Tram yang jaraknya hanya sekitar 30 meter.




Tak perlu menunggu lama untuk bisa kebagian Tram, sebab jarak antara satu tram dangan tram berikutnya sangat cepat. Dari stasiun Karakoy, kami menuju stasiun Bayazit-Kapalicarsi, stasiun terdekat dengan Grand Bazaar. Jarak antara satu stasiun dengan stasiun lainnya juga tidak terlalu lama, sehingga penumpang yang berdiri pun tidak perlu menunggu lama untuk dapat kursi atau sampai di stasiun tujuan. Tak sampai setengah jam, kami sudah sampai di stasiun Bayazit. Sebelum memasuki Grand Bazaar, kami baru sadar kalau tadi pagi belum sempat sarapan. Panggilan alam hampir sama kerasnya dengan panggilan penjaga toko dan rumah makan yang memanggil-manggil calon pembeli untuk singgah.

Akhirnya kami singgah di salah satu rumah makan kecil sebelum pintu masuk Grand Bazaar. Ms. Vildan sempat tertawa, soalnya waktu makan kami tidak jelas, masuk kategori sarapan pagi atau makan siang. Sebab bagi orang Eropa pada umumnya, menu antara sarapan pagi dan makan siang sangat berbeda. Pelayan rumah makan juga sempat bertanya, mau menu sarapan pagi atau makan siang? Whateverlah! Di Indonesia semua itu tidak penting. Yang penting makan! Hahahaha... Jadilah kami memesan menu makan siang sebelum waktunya.


 Memasuki Grand Bazaar seperti memasuki sebuah labirin belanja. Begitu masuk, kita akan disuguhkan pada lorong-lorong penuh toko yang menyediakan berbagai macam barang menarik. Mulai dari manisan, rempah, handycraft, pakaian, lampu-lampu hias, gelas aneka bentuk, karpet-karpet indah, dan berbagai kerajinan handmade yang selalu menjadi incaran ratusan ribu pengunjung setiap hari. Menurut wikipedia, ini adalah pasar tertutup terbesar dan tertua di dunia, yang meliputi 61 jalan tertutup dan lebih dari 3000 toko, dan dikunjungi oleh 250 ribu hingga 400 ribu pengunjung setiap harinya. WOW!!! Can you imagine it? No! do not imagine it.. Come here soon and feel the experiences...




Di dalam Grand Bazaar, Ms. Vildan mengajak kami ke toko pakaian dan toko handycraft terbaik dengan harga terbaik pula. Tapi, dia tidak akan terlibat dalam tawar menawar harga, begitu etikanya. Pengunjunglah yang harus tawar menawar harga dengan penjualnya. Setelah mengikuti kelok-kelok labirin belanja ini, sampailah kami di sebuah toko pakaian yang menurut Ms. Vildan kualitasnya bagus, dan jika beruntung kami bisa mendapatkan penawaran harga yang menarik. Kami pun mulai 'melihat-lihat barang' sebagaiman yang saya selalu sampaikan sebelumnya. (Hehehe...)

Dan, mulailah negosiasi harga. Jika Anda biasa belanja di Tanah Abang, anda akan cukup berpengalaman di sini. Mulailah penawaran dengan sepertiga harga. Pada awalnya Anda akan ditertawai, tapi lihatlah 'keajaiban' selanjutnya. Tak ada bedanya dengan menawar di pasar Tanah Abang. Jika beruntung, seperti kata Ms. Vildan, Anda benar-benar akan mendapatkan harga terbaik. Di tengah negosiasi, tiba-tiba melintas seorang pemuda Turki, juga seorang penjual di Grand Bazaar, yang bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Tawar-menawar pun makin seru dengan bantuannya.



Dan akhirnya, jadilah kami membeli beberapa barang di Grand Bazaar. Untuk mengkonfirmasi apakah kami termasuk golongan yang beruntung atau merugi dalam negosiasi ini, kami menoleh ke Ms. Vildan demi mendapatkan respon. Dan sepertinya, respon Ms. Vildan menunjukkan kalau kami termasuk Golongan yang beruntung. (Hahahaha... ). Selanjutnya kami menelusuri kembali lorong-lorong Grand Bazaar untuk melihat-lihat barang menarik. Siapa tahu ada barang menarik yang cocok di hati dan pas dikantong untuk bisa dibawa pulang ke Indonesia.
Read More ..

MENTARI TERBENAM DI EROPA

#TurkeyTripSeries

Day 3

Butuh waktu kurang lebih satu jam untuk kapal wisata memutari selat Bosphorus. Ini untuk tour dengan rute singkat. Ada pilihan tour dengan rute yang lebih panjang dan memakan waktu hingga dua jam. Tergantung pilihan pengunjung. Di atas kapal juga tersedia banyak pilihan makanan dan minuman untuk penumpang sebagai teman kala menikmati pemandangan selat Bosphorus. Kapal yang kami tumpangi kembali bersandar ke dermaga Ortakoy yang tak pernah sepi. Sudah hampir sore, waktunya menuntaskan rencana perjalanan hari ini.

Seperti kemarin, hari ini pun kami berencana untuk menikmati senja di suatu tempat yang istimewa. Tempat yang kira-kira punya cerita, dan juga indah. Tempat yang seandainya ada dalam film India, tokoh utamanya akan segera mencari pohon untuk bernyanyi dan berjoget. (Hahahahhaa... Maklum Bollywood fans....) Dan pilihan kami jatuh ke pantai Uskudar, tepi Bosphorus di daratan Asia. Dari sini kita dapat melihat menara kecil di tengah selat yang bernama Kiz Kulesi atau The Maiden Tower. Menara ini juga menjadi salah satu bangunan ikonik Kota Istanbul. Kiz Kulesi termasuk bangunan kuno yang konon sudah ada sejak masa keemasan Bizantium. Dan banyak cerita-cerita klasik yang berkembang tentang latar belakang menara ini.




Sebelum meninggalkan Eropa menuju Asia, kami menyempatkan diri singgah di salah satu agen perjalanan di kompleks kota tua untuk mengatur agenda wisata balon udara di Cappadocia. Kami butuh travel agen untuk mengatur perjalanan ini sebab Cappadocia berada jauh di luar Istanbul masuk ke kawasan Asia. Perlu waktu sepuluh jam perjalanan dengan menggunkan bus atau 45 menit dengan menggunakan pesawat terbang. Setelah petugas travel agen menghitung-hitung perkiraan biaya, keluarlah angka 350 euro per orang. Wow, very expensive realy! Kira-kira sekitar 5 juta-an per orang. Karena penasaran dengan pengalaman balon udara ini, akhirnya kami oke dengan biayanya. (Tidak khawatir, soalnya ada boss... Hihihihi...)

Selanjutnya petugas travel yang kebetulan beristrikan orang Palembang dan cukup baik dalam berbahasa Indonesia menunjukkan kepada kami itinerary ke Cappadocia. And the problem is coming! Ternyata untuk menikmati balon terbang kami harus menginap semalam di Cappadocia sebab pengunjung hanya bisa menikmati balon terbang pada subuh hari menjelang matahari terbit. It's okay! Kalau perhitungan waktu kami, jika berangkat malam ini via pesawat berarti besok sore sudah bisa kembali ke Istanbul untuk menyelesaikan agenda terakhir, "melihat-lihat barang" di Grand Bazaar.

Tapi ada penjelasan selanjutnya, dan belum tentu besok subuh bisa benar-benar terbang dengan balon, sebab kadang-kadang cuaca kurang mendukung sehingga pada umumnya wisatawan yang ke Cappadocia menyiapkan waktu hingga dua malam. This is the real problem! Kami tak punya waktu selama itu. Lusa kami sudah harus kembali ke Indonesia. Setelah berdiskusi, dengan berat hati, kepala tertunduk, badan lemas, hati galau, kami putuskan agenda Cappadocia batal. Tragis memaN... (Air mata menganak sungai dengan musik hymne sebagai latar belakang...)


Matahari semakin rendah. Tak ada waktu menangisi kegagalan ke Cappadocia. Perjalanan ke Uskudar di daratan Asia cukup jauh dan sering macet. Kami pun segera meninggalkan kota tua menuju pantai Uskudar. Sempat merasakan kepadatan sebelum memasuki Jembatan Bosphorus (Bogazici Koprusu), akhirnya kami tiba di kawasan pantai Uskudar setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam. WOW... Tempat ini luar biasa. Kita bisa melihat Kiz Kulesi lebih dekat. Saat ini menara itu telah dialihfungsikan menjadi cafe. Untuk ke sana tersedia perahu khusus sebagai satu-satunya transportasi untuk mengangkut pengunjung menikmati bersantai di tengah selat Bosphorus. Tapi kami tak berencana menuju ke sana.

Justru suasana yang lebih menarik adalah cafe terpanjang bertingkat tiga di sepanjang pantai selat Bosphorus. Saat kami tiba, cafe ini telah penuh. Maklum, sebentar lagi matahari akan terbenam di tanah Eropa. Pramusaji kafe tampak sibuk hilir mudik melayani pesanan para pengunjung. Susananya mengingatkan aku pada kesibukan pelayan rumah makan di Indonesia menjelang buka puasa di bulan Ramadhan.





Meskipun kursi-kursi telah penuh, pengunjung tetap berdatangan untuk menikmati senja walau hanya dengan duduk-duduk di kursi-kursi yang tersedia di pinggir jalan, seperti kami. Pengunjung yang tak kebagian kursi tetap saja dapat menikmati berbagai ragam makanan dan minuman yang juga dijajakan oleh asongan dan kaki lima. Dan ketika matahari terbenam, puncak keindahan dan kekaguman bersatu dalam rasa takjub pada keagungan Sang Pencipta. Di sini, beberapa bait puisi telah terangkai dalam hati. Istanbul yang indah, sungguh tempat yang terberkati...



Setelah matahari benar-benar telah tenggelam, kami pun meninggalkan tempat ini. Kami kembali ke Taksim Square untuk menikmati makan malam dan bergabung dengan rakyat Turki merayakan kemenangan demokrasi. Kami menelusuri Istiklal Caddesi yang begitu padat dan ramai malam ini. Akhirnya kami memilih salah satu rumah makan yang ada di Istiklal Caddesi. Tuntas dengan urusan makan, kami lalu bergabung dengan ribuan rakyat Turki yang memadati alun-alun Taksim sambil melambaikan bendera dan menynyikan lagu-lagu perjuangan bangsa Turki. Tak sampai satu jam, kami pun meninggalkan Taksim Square dan kembali ke hotel. Mempersiapkan diri untuk besok yang akan jadi hari terakhir kami di Istanbul.


* to be continued
Read More ..